Tether Bekukan Dompet Kosong, Hacker Binance Sudah Pindahkan US$729 Juta

Di tengah upaya besar-besaran membekukan aset hasil peretasan Binance, investigasi on-chain terbaru menemukan bahwa penyerang berhasil mengonversi USDT senilai US$729 juta menjadi aset kripto lain sebelum pemblokiran dilakukan.

Yang menarik, sejumlah tindakan pembekuan oleh Tether ternyata menyasar wallet yang sudah dikosongkan lebih dahulu oleh pelaku. Temuan ini memperlihatkan bagaimana kecepatan perpindahan dana menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan salah satu peretasan kripto terbesar sepanjang sejarah.

Berdasarkan investigasi Bitquery yang diterbitkan Jumat (30/10/2026), sekitar US$6,3 miliar aset teridentifikasi mengalir keluar dari 17 hot wallet Binance melalui sembilan jaringan blockchain dalam waktu kurang dari empat jam.

Namun, perebutan kendali atas dana curian ternyata tidak berhenti ketika perusahaan penerbit stablecoin mulai melakukan pembekuan.

Tether Terlambat 37 Menit, Dana Sudah Berpindah

Penelusuran Bitquery menunjukkan bahwa transaksi besar dari wallet utama Binance di jaringan Ethereum terjadi pada 30 Oktober pukul 03.24 WIB. Transfer tersebut mencakup sekitar 167.464 ETH, 1,6 miliar USDT, dan puluhan token lainnya.

Tether kemudian melakukan pembekuan pertama terhadap alamat penerima utama pada pukul 04.01 WIB, atau sekitar 37 menit setelah transaksi besar tersebut terjadi.

Dalam rentang waktu itu, penyerang sudah memindahkan sekitar 700 juta USDT menuju dua wallet baru. Aset tersebut selanjutnya dialirkan melalui sejumlah alamat lain, dengan sebagian ditukar menjadi kripto berbeda.

BACA JUGA:  Hacker Kripto Makin Canggih, Kerugian Q3 2026 Tembus Rp21 Triliun

Investigasi yang sama menemukan bahwa Tether membekukan 11 wallet terkait penyerang di jaringan Ethereum dan TRON. Namun, enam di antaranya ternyata sudah tidak menyimpan USDT ketika tindakan pembekuan dilakukan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Bahkan, salah satu wallet tercatat memindahkan 130 juta USDT kurang dari satu menit sebelum alamat tersebut dibekukan.

Meski demikian, upaya pembekuan tidak sepenuhnya gagal. Bitquery memperkirakan sekitar 1,76 miliar USDT, atau 71 persen dari total USDT yang dicuri, berhasil dikunci.

Sementara itu, Circle turut membekukan sekitar 823 juta USDC hanya tiga menit setelah pembekuan pertama Tether. Berbeda dari sebagian dana USDT, aset USDC tersebut belum sempat dipindahkan dari wallet penerima utama.

USDT Curian Berubah Menjadi ETH dan TRX

Bagian yang menarik dari investigasi ini adalah cara penyerang memanfaatkan likuiditas berbagai protokol decentralized finance (DeFi) untuk menghindari pembekuan stablecoin.

Bitquery mengidentifikasi sekitar US$729 juta USDT yang berhasil dikonversi menjadi ETH dan TRX sebelum langkah pembekuan menjangkau aset tersebut.

Di Ethereum, sebagian dana dipertukarkan melalui UniswapX, 1inch Fusion dan liquidity pool Uniswap. Penyerang juga memanfaatkan Aave dengan menempatkan aset sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman dalam ETH.

BACA JUGA:  Token STRK Menguat 25 Persen, Starknet Bersiap Aktifkan Fitur Proof Baru

Di jaringan TRON, proses pertukaran berlangsung melalui SunSwap.

Strategi tersebut memiliki konsekuensi penting. Tether dapat membekukan USDT pada alamat tertentu, tetapi wewenang tersebut tidak otomatis berlaku terhadap ETH atau TRX yang sudah diperoleh melalui pertukaran.

Akibat berbagai transaksi itu, kepemilikan ETH yang dilacak Bitquery pada alamat terkait penyerang meningkat menjadi sekitar 508.621 ETH, jauh melampaui sekitar 200.630 ETH yang awalnya diambil langsung dari Binance.

Artinya, sebagian besar tambahan ETH tersebut berasal dari konversi stablecoin dan token lainnya, bukan seluruhnya hasil pengurasan ETH secara langsung.

Miliaran Dolar Masih Dikuasai Penyerang

Perbedaan antara aset yang dibekukan dan dana yang sudah benar-benar dipulihkan menjadi persoalan berikutnya.

Bitquery mencatat sekitar US$2,7 miliar aset berhasil dibekukan atau diamankan melalui tindakan penerbit token dan pihak terkait. Sementara itu, berdasarkan pengamatan hingga Jumat pukul 13.43 WIB, sekitar US$3,2 miliar masih teridentifikasi berada dalam penguasaan alamat yang dikaitkan dengan penyerang.

Sebagian besar aset tersebut berbentuk ETH dan BTC. Hingga batas pengamatan itu, Bitquery belum menemukan perpindahan dana tersebut menuju exchange yang dikenal maupun layanan crypto mixer.

Di sisi lain, dalam pengumuman keamanan resminya, Binance menyebut estimasi dampak insiden mencapai US$6,3 miliar, dengan sekitar US$3 miliar aset telah dibekukan secara on-chain.

Perbedaan angka pembekuan antara Binance dan Bitquery perlu dipahami berdasarkan cakupan verifikasi masing-masing, bukan otomatis sebagai bukti adanya kesalahan penghitungan.

BACA JUGA:  Binance Akan Naikkan Rasio Jaminan SHIB Jadi 60 Persen, Ini Dampaknya

Binance menyatakan akan menanggung seluruh kerugian menggunakan dana Secure Asset Fund for Users (SAFU) dan dana perusahaan. Bursa tersebut juga berencana menerbitkan pembaruan Proof of Reserves setelah proses penanganan selesai.

Namun demikian, dana yang dibekukan belum tentu telah dikembalikan kepada pemiliknya.

Kasus ini memperlihatkan bahwa kemampuan membekukan stablecoin memang dapat membatasi pergerakan aset curian, tetapi efektivitasnya sangat bergantung pada seberapa cepat tindakan dilakukan sebelum penyerang mengubah bentuk dan lokasi aset tersebut.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait