Dua penerbit stablecoin terbesar di dunia, Tether Limited dan Circle Internet Financial, kembali mencetak total sekitar US$6 miliar stablecoin sejak terjadinya crash pasar kripto pada 11 Oktober 2025.
Langkah ini menandakan adanya peningkatan permintaan likuiditas di tengah fase pemulihan pasar aset digital global.
Berdasarkan data yang dibagikan Lookonchain, Tether mencetak US$1 miliar tambahan token USDT di jaringan Ethereum pada pertengahan Oktober.
Pencetakan tersebut merupakan bagian dari akumulasi US$4 miliar USDT yang dikeluarkan oleh Tether sejak kejatuhan pasar tersebut. Sementara itu, Circle, penerbit stablecoin USD Coin (USDC), telah menambah sekitar US$2 miliar USDC ke dalam sirkulasi selama periode yang sama.
Lonjakan Likuiditas Pasar Pasca Volatilitas
Pencetakan stablecoin dalam jumlah besar ini muncul setelah gejolak harga kripto yang sempat mengguncang pasar global pada 11 Oktober. Data perdagangan menunjukkan penurunan tajam pada sejumlah aset utama seperti Bitcoin dan Ethereum, yang kemudian memicu aksi lindung nilai (hedging) dalam bentuk stablecoin.
Analis menilai peningkatan penerbitan stablecoin mencerminkan arus masuk kembali dana institusional dan ritel ke dalam pasar kripto, yang sebelumnya sempat keluar akibat ketidakpastian ekonomi global.
Stablecoin, seperti USDT dan USDC, berperan penting sebagai alat likuiditas utama untuk perdagangan aset digital karena nilainya yang dipatok terhadap dolar AS.
Langkah Tether dan Circle dianggap sebagai respons cepat terhadap meningkatnya kebutuhan likuiditas di bursa kripto.
Dengan tambahan miliaran dolar dalam bentuk stablecoin, para pelaku pasar kini memiliki lebih banyak ruang untuk melakukan transaksi, baik untuk pembelian aset digital maupun untuk menyeimbangkan posisi mereka di tengah fluktuasi harga yang tinggi.
Stabilitas Cadangan dan Sorotan Regulator
Meski mencerminkan aktivitas pasar yang kembali pulih, ekspansi besar-besaran ini juga mengundang perhatian dari regulator keuangan global.
Tether, yang saat ini menjadi penerbit stablecoin terbesar dengan kapitalisasi pasar lebih dari US$120 miliar, terus menghadapi sorotan terkait transparansi cadangan aset yang mendukung USDT.
Perusahaan mengklaim seluruh token yang beredar didukung penuh oleh aset cadangan yang terdiri dari surat utang pemerintah AS, kas, dan aset likuid lainnya.
Namun, regulator di beberapa negara masih menuntut laporan audit yang lebih rinci dan berkala untuk memastikan stabilitas sistem keuangan berbasis stablecoin. Circle, di sisi lain, telah lebih terbuka dengan laporan cadangan USDC, tetapi tetap menghadapi tantangan dari perubahan regulasi di AS.
Meskipun demikian, langkah kedua perusahaan tersebut dinilai memperkuat fondasi likuiditas pasar kripto. Beberapa analis on-chain mengaitkan peningkatan pasokan stablecoin ini dengan potensi kenaikan harga aset digital utama seperti Bitcoin dan Ethereum dalam jangka menengah.
Peningkatan likuiditas sering kali mendahului pergerakan harga karena memberi dorongan terhadap volume perdagangan dan daya beli pelaku pasar.
Selain itu, pengawasan dari lembaga seperti Financial Stability Board (FSB) dan IMF terhadap aktivitas stablecoin diperkirakan akan terus meningkat. Kedua lembaga tersebut sebelumnya menyoroti pentingnya koordinasi global untuk memastikan penerbit stablecoin mematuhi prinsip transparansi dan perlindungan konsumen.
Dengan total US$6 miliar stablecoin baru yang beredar sejak crash pasar 11 Oktober, langkah Tether dan Circle menandai upaya signifikan dalam menjaga stabilitas dan kelancaran ekosistem aset digital.
Peningkatan penerbitan stablecoin ini menjadi sinyal bahwa, meski pasar sempat bergejolak, minat terhadap aset kripto tetap tinggi dan dukungan likuiditas masih terus mengalir ke dalam industri. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



