Tether, penerbit stablecoin USDT, telah bermitra dengan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) untuk memperkuat upaya pencegahan kejahatan siber di Afrika.
Kerja sama ini difokuskan pada peningkatan kesadaran keamanan aset digital, penguatan literasi siber, serta dukungan terhadap penanganan penipuan kripto dan kejahatan yang berkaitan dengan perdagangan manusia.
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari Visi Strategis UNODC untuk Afrika 2030, yang menekankan pembangunan ekosistem digital yang aman, inklusif dan berkelanjutan di kawasan tersebut.
Dalam pernyataan resminya, Tether menegaskan komitmennya untuk berkontribusi langsung melalui program edukasi, pelatihan teknis, serta dukungan pendanaan bagi berbagai proyek di Afrika.
Perusahaan menilai pertumbuhan pesat penggunaan aset digital di wilayah ini membuka peluang ekonomi baru, namun juga meningkatkan risiko kejahatan siber jika tidak diimbangi dengan pemahaman keamanan yang memadai.
“Melalui kolaborasi kami dengan Kantor PBB untuk Narkoba dan Kejahatan, kami mendukung inisiatif yang menggabungkan inovasi dan pendidikan untuk memberdayakan masyarakat dan membantu menciptakan peluang yang lebih aman dan inklusif bagi mereka yang paling membutuhkannya,” ujar CEO Tether, Paolo Ardoino, dalam siaran pers hari Jumat (9/1/2026).
Kerja sama ini juga melibatkan koordinasi dengan otoritas lokal, organisasi masyarakat, serta lembaga pendidikan untuk memastikan program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan regional.
Fokus utamanya adalah meningkatkan kapasitas komunitas dalam menghadapi ancaman digital, sekaligus memperluas akses terhadap pengetahuan teknologi yang aman dan bertanggung jawab.
Program Edukasi dan Pelatihan Keamanan Siber
Salah satu pilar utama kolaborasi Tether dan UNODC adalah penyelenggaraan program edukasi dan pelatihan keamanan siber. Program ini ditujukan terutama kepada generasi muda, pelaku usaha kecil, serta komunitas lokal yang semakin aktif menggunakan layanan keuangan digital.
Di Senegal, misalnya, proyek pelatihan difokuskan pada pengembangan keterampilan dasar dan lanjutan di bidang keamanan siber. Peserta dibekali pengetahuan tentang cara melindungi data pribadi, mengenali skema penipuan daring, serta memahami risiko transaksi digital.
Melalui pendekatan berbasis praktik, pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan masyarakat dalam menghadapi ancaman kejahatan digital yang semakin kompleks.
UNODC menilai pendekatan edukatif ini penting karena kejahatan siber sering kali memanfaatkan rendahnya literasi digital sebagai celah utama. Dengan memperkuat pemahaman masyarakat, potensi kerugian akibat penipuan kripto, pencurian identitas dan eksploitasi digital dapat ditekan secara signifikan.
Perwakilan Regional UNODC untuk Afrika Barat dan Tengah, Sylvie Bertrand, menegaskan peran strategis aset digital dalam pembangunan kawasan.
“Aset digital mengubah cara dunia berinteraksi dengan uang dan memainkan peran penting dalam membuka potensi pembangunan Afrika, sekaligus berkontribusi pada agenda perdamaian dan keamanan PBB,” ujar Sylvie.
Selain pelatihan teknis, program ini juga mencakup kampanye kesadaran publik melalui seminar, lokakarya, dan materi edukatif yang disebarkan secara luas. Tujuannya adalah membangun budaya penggunaan teknologi yang aman, transparan, dan bertanggung jawab.
Dukungan bagi Korban dan Kolaborasi Regional
Di luar aspek edukasi, kemitraan ini juga mencakup dukungan langsung kepada organisasi yang menangani korban perdagangan manusia dan kejahatan lintas batas.
Melalui inisiatif yang dikenal sebagai Africa Project, Tether dan UNODC menyalurkan bantuan kepada lembaga-lembaga di sejumlah negara, termasuk Nigeria, Republik Demokratik Kongo, Malawi, Ethiopia, dan Uganda.
Program ini berfokus pada peningkatan kapasitas organisasi lokal dalam memberikan perlindungan, rehabilitasi, dan pendampingan bagi korban.
Dukungan yang diberikan meliputi pendanaan operasional, penguatan sistem pelaporan, serta pelatihan bagi tenaga lapangan agar mampu menghadapi kejahatan yang semakin memanfaatkan teknologi digital.
UNODC menilai bahwa kejahatan seperti perdagangan manusia kini semakin terhubung dengan jaringan siber, termasuk penggunaan pembayaran digital untuk menyamarkan aliran dana ilegal.
Oleh karena itu, pendekatan terpadu yang menggabungkan edukasi, teknologi dan dukungan sosial dinilai penting untuk menekan kejahatan tersebut secara efektif.
Kemitraan ini juga membuka ruang bagi kolaborasi lintas sektor antara lembaga internasional, perusahaan teknologi, pemerintah lokal dan masyarakat sipil. Melalui kerja sama tersebut, diharapkan tercipta ekosistem digital yang lebih aman sekaligus mendorong pemanfaatan aset digital untuk kegiatan ekonomi yang produktif.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



