Tether Guncang Pasar dengan Memasuki Perdagangan Komoditas

Tether Holdings, penerbit stablecoin USDT, resmi memperluas operasi bisnisnya ke sektor pembiayaan perdagangan komoditas dengan menyiapkan dana sekitar US$1,5 miliar.

Langkah tersebut menandai salah satu ekspansi terbesar perusahaan ke ranah ekonomi riil, menyasar pendanaan komoditas seperti minyak, gandum dan kapas. Ekspansi ini dilakukan melalui unit investasi terpisah yang dibentuk untuk mengelola pembiayaan perdagangan secara langsung.

Berdasarkan laporan Bloomberg, CEO Tether Paolo Ardoino menegaskan bahwa langkah ini akan menjadi perubahan besar bagi perusahaan.

“Kami melihat peluang strategis di sektor komoditas, terutama karena masih banyak ruang yang belum digarap oleh lembaga keuangan tradisional,” ujar Ardoino.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Inisiatif ini muncul di tengah ketatnya pendanaan dari bank-bank besar yang semakin berhati-hati memasuki sektor berisiko tinggi seperti perdagangan komoditas global.

Tether memulai program pembiayaan ini pada akhir 2025, setelah mengidentifikasi kebutuhan likuiditas yang signifikan di pasar negara berkembang.

Perusahaan berencana memberikan pembiayaan dalam bentuk kombinasi uang tunai dan stablecoin bagi para pedagang komoditas, terutama pelaku usaha kecil hingga menengah yang sering kesulitan memperoleh akses modal cepat.

Model ini juga menawarkan efisiensi transaksi lintas negara, karena pembiayaan menggunakan stablecoin dapat mengurangi waktu proses dan biaya pertukaran mata uang.

BACA JUGA:  Dari Rp200 Ribu ke Rp1 Triliun: Kisah Warga Malaysia Pemilik Domain AI.com

Tether Targetkan Pelaku Perdagangan di Negara Berkembang

Ekspansi pembiayaan komoditas Tether menyasar wilayah-wilayah yang memiliki ketergantungan tinggi pada perdagangan bahan baku namun masih minim fasilitas pendanaan.

Negara-negara berkembang di Asia, Afrika dan Amerika Selatan masuk dalam cakupan strategi ini, mengingat tingginya volume ekspor komoditas namun terbatasnya dukungan perbankan di kawasan tersebut.

Penarikan banyak bank global dari sektor pembiayaan komoditas dalam beberapa tahun terakhir menciptakan kekosongan pendanaan yang cukup besar. Sektor perbankan menghadapi risiko pembiayaan yang meningkat, fluktuasi harga komoditas, serta persyaratan regulasi yang lebih ketat.

Situasi tersebut menyebabkan banyak pedagang menengah terhambat dalam memperoleh modal kerja untuk aktivitas ekspor maupun pembelian komoditas.

Tether memandang kekosongan itulah yang dapat menjadi peluang bisnis besar. Perusahaan memanfaatkan kekuatan neracanya dan posisi dominan USDT sebagai stablecoin terbesar di dunia untuk memasuki sektor yang membutuhkan likuiditas cepat.

Dengan memanfaatkan blockchain, pembayaran dan pencairan pendanaan dapat dilakukan dalam hitungan menit, berbeda dengan proses perbankan konvensional yang dapat memakan waktu beberapa hari.

BACA JUGA:  Aktivitas Bitcoin Melambat, Tapi Akumulasi Besar Terjadi

Selain itu, ekspansi Tether mencerminkan upaya perusahaan untuk menciptakan ekosistem pembiayaan berbasis aset digital yang terintegrasi dengan komoditas dunia nyata.

Model pembiayaan yang digunakan memungkinkan pedagang untuk menerima dana dalam stablecoin lalu mengonversinya ke mata uang lokal sesuai kebutuhan, atau menggunakan USDT secara langsung untuk transaksi internasional yang menerima aset digital tersebut.

Model Pembiayaan dan Dampaknya ke Perdagangan Global

Menurut penjelasan internal perusahaan, struktur pembiayaan Tether akan diberikan melalui divisi investasi yang beroperasi secara terpisah dari operasi stablecoin.

Mekanisme ini bertujuan memastikan model pembiayaan tetap berjalan dengan standar manajemen risiko yang ketat. Pendanaan dapat diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari kredit perdagangan jangka pendek hingga fasilitas pembiayaan khusus untuk pengiriman komoditas tertentu.

Program senilai US$1,5 miliar ini diyakini dapat memberikan dampak signifikan pada rantai suplai global, terutama pada komoditas pangan dan energi.

Pelaku usaha kecil yang sebelumnya tidak dapat mengakses pendanaan bank dapat menjalankan transaksi mereka dengan lebih cepat, sehingga meningkatkan volume perdagangan dan stabilitas rantai pasok. Perusahaan itu juga mempertimbangkan ekspansi setelah tahap awal dievaluasi.

BACA JUGA:  Whale Pindahkan US$8,3 Miliar Bitcoin ke Binance, Siap Jual?

Inisiatif ini membawa dimensi baru bagi penggunaan stablecoin di sektor ekonomi riil. Selama ini, USDT banyak digunakan untuk perdagangan aset digital dan transaksi kripto lintas platform.

Dengan masuk ke dunia komoditas, Tether secara langsung mendorong adopsi asset digital dalam sektor bernilai triliunan dolar AS, sekaligus membuka babak baru bagi pembiayaan berbasis blockchain di industri perdagangan internasional.

Perusahaan belum mengumumkan negara atau mitra pertama yang akan menerima skema pembiayaan tersebut. Namun, laporan internal menunjukkan bahwa beberapa wilayah Asia dan Amerika Selatan telah masuk dalam daftar prioritas mengingat potensi volume perdagangan yang besar.

Pendekatan ini dinilai dapat mempercepat penetrasi aset digital ke sektor-sektor yang selama ini didominasi institusi keuangan konvensional.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia