Investasi dari Tether memperkuat langkah SQRIL dalam membangun sistem pembayaran QR lintas negara secara real-time. Startup asal Asia Tenggara ini menargetkan interoperabilitas pembayaran global yang lebih sederhana dan efisien, khususnya di pasar berkembang.
SQRIL Perkuat Infrastruktur Pembayaran QR
Berdasarkan pengumuman resmi yang dirilis pada Jumat (02/01/2025), penerbit stablecoin USDT, Tether, resmi berinvestasi di SQRIL, startup yang mengembangkan payment API switch untuk bank, e-wallet, dan aplikasi fintech.
Melalui API SQRIL, institusi keuangan dapat menghadirkan layanan scan-to-pay lintas negara langsung di aplikasi. Pengguna cukup memindai QR code, serupa dengan konsep QRIS di Indonesia, lalu membayar tanpa perlu menukar uang atau menggunakan aplikasi tambahan.
Founder dan CEO SQRIL, Malcolm Weed, menjelaskan bahwa solusi ini dirancang secara khusus agar fleksibel dan mudah diadopsi oleh berbagai pihak serta menyediakan infrastruktur pembayaran yang lebih efisien.
“Bank tradisional seperti Barclays atau BoA, maupun neobank seperti Venmo, Revolut, atau Cash App, dapat mengintegrasikan API kami. Hal ini memungkinkan pengguna mereka memindai dan membayar QR code lokal di seluruh Asia, Afrika, dan Amerika Latin,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses konversi mata uang dilakukan sepenuhnya oleh sistem SQRIL. Merchant di negara tujuan tetap menerima pembayaran dalam mata uang lokal, sementara pengguna bertransaksi dengan mata uang domestik.
The Fed: Teknologi Blockchain Bisa Ubah Sistem Pembayaran AS
Interoperabilitas Pembayaran Jadi Kebutuhan Utama
Menurut Malcolm, industri pembayaran saat ini masih berada pada tahap awal interoperabilitas instan antarnegara. Meningkatnya penggunaan QR code, mobilitas global, serta adopsi stablecoin mendorong kebutuhan sistem pembayaran lintas batas yang lebih sederhana.
“Saya percaya kita masih berada pada tahap awal interoperabilitas pembayaran instan antara bank, e-wallet, dan merchant di berbagai negara, dan SQRIL berencana menjadi bagian penting dari infrastruktur tersebut,” tegasnya.
Di Asia, pembayaran scan-to-pay telah menjadi metode dominan dalam beberapa tahun terakhir dan terus berkembang. Tren serupa kini mulai terlihat di Amerika Latin dan Afrika, seiring meningkatnya adopsi QR code nasional untuk transaksi real-time.
Dengan pengalaman lebih dari 13 tahun di sektor pembayaran lintas batas, Malcolm optimistis QR code akan menjadi standar global. Menariknya, ia percaya adopsi masif justru akan dipimpin oleh pasar berkembang, bukan negara maju.
Saat ini, API SQRIL telah mendukung pembayaran QR lokal di Filipina, Vietnam, dan Indonesia, serta transfer bank di Malaysia dan Thailand. Perusahaan berencana menambah lebih banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin pada kuartal pertama tahun ini.
Dengan kombinasi teknologi API, dukungan Tether, dan meningkatnya adopsi QR, SQRIL berupaya menyederhanakan sistem pembayaran lintas negara tanpa mengorbankan kecepatan maupun kenyamanan pengguna.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



