The Fed Beri Kode Suku Bunga Akan Turun, Nasib Kripto Gimana

The Fed AS memberi sinyal kuat terkait kemungkinan pemangkasan suku bunga lanjutan pada tahun 2026.

Berdasarkan laporan Reuters pada Rabu (14/1/2026), Presiden The Fed Philadelphia, Anna Paulson, menyatakan bahwa arah kebijakan moneter akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja.

Jika tekanan harga terus mereda dan stabilitas ekonomi terjaga, The Fed membuka ruang untuk penyesuaian suku bunga lebih lanjut.

“Jika semua hal tersebut terjadi, ‌maka beberapa penyesuaian lebih lanjut terhadap suku bunga dana kemungkinan akan dilakukan pada akhir tahun ini,” ujar Paulson.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Pernyataan ini menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi berbagai pasar keuangan global, termasuk aset berisiko seperti kripto. Selama beberapa tahun terakhir, kebijakan suku bunga The Fed dikenal sebagai salah satu faktor utama yang membentuk arus likuiditas global.

Ketika suku bunga tinggi, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang lebih aman. Sebaliknya, ketika suku bunga mulai turun, minat terhadap aset berisiko biasanya meningkat. Dalam konteks ini, nasib kripto menjadi perhatian pelaku pasar.

Pada 2025, The Fed sudah memangkas suku bunga beberapa kali setelah sebelumnya mempertahankan kebijakan ketat untuk meredam inflasi.

BACA JUGA:  FOMC Tahan Suku Bunga, Begini Nasib Kripto

Meski begitu, otoritas moneter tetap menegaskan bahwa setiap keputusan ke depan akan berbasis data ekonomi terbaru. Inflasi, pertumbuhan ekonomi, serta stabilitas tenaga kerja menjadi indikator utama yang menentukan arah kebijakan.

Bagi pasar global, sinyal pelonggaran kebijakan ini dipandang sebagai potensi peningkatan likuiditas. Biaya pinjaman yang lebih murah mendorong pergerakan modal ke berbagai sektor, termasuk pasar saham, komoditas dan aset digital.

Dalam situasi seperti ini, nasib kripto sering dikaitkan dengan peluang penguatan harga, meskipun tetap dibayangi volatilitas.

Arah Kebijakan The Fed dan Dampaknya ke Likuiditas Global

The Fed selama beberapa tahun terakhir menjalankan kebijakan moneter ketat untuk mengendalikan inflasi yang melonjak pasca-pandemi. Namun, seiring dengan meredanya tekanan harga, ruang untuk pelonggaran mulai terbuka.

Anna Paulson menegaskan bahwa inflasi yang bergerak mendekati target dan pasar tenaga kerja yang stabil akan menjadi dasar utama bagi pemangkasan suku bunga lanjutan.

Pemangkasan suku bunga biasanya berdampak langsung pada peningkatan likuiditas global. Ketika bunga pinjaman turun, akses terhadap dana menjadi lebih mudah bagi pelaku usaha dan investor.

Kondisi ini sering mendorong aktivitas investasi di berbagai kelas aset. Pasar keuangan pun merespons dengan peningkatan minat terhadap instrumen berisiko.

BACA JUGA:  Kenapa Proses Hukum Timothy Ronald Terasa Lambat?

Dalam konteks global, pelemahan suku bunga Fed juga berpotensi memengaruhi nilai tukar dolar. Dolar yang melemah kerap membuat aset berdenominasi dolar, termasuk kripto, menjadi lebih menarik bagi investor internasional. Hal ini memperkuat hubungan antara kebijakan The Fed dan nasib kripto di pasar global.

Meski demikian, pejabat The Fed menekankan bahwa kebijakan moneter tidak akan berubah secara agresif tanpa dukungan data yang kuat. Stabilitas inflasi tetap menjadi prioritas utama. Artinya, pelonggaran kebijakan akan dilakukan secara bertahap dan terukur.

Nasib Kripto di Tengah Sinyal Penurunan Suku Bunga

Di pasar kripto, sinyal pemangkasan suku bunga sering dipersepsikan sebagai katalis positif. Likuiditas yang meningkat membuat aliran dana ke Bitcoin, Ethereum, dan aset digital lainnya berpotensi bertambah. Dalam beberapa siklus sebelumnya, kondisi suku bunga rendah kerap beriringan dengan penguatan harga aset berisiko.

Namun, pergerakan harga kripto tidak selalu berjalan searah dengan kebijakan moneter. Dalam jangka pendek, pengumuman dari The Fed sering memicu volatilitas. Harga bisa melonjak karena sentimen positif, lalu terkoreksi akibat aksi ambil untung.

Karena itu, nasib kripto tetap dipengaruhi kombinasi faktor makro, sentimen investor dan kondisi pasar global.

BACA JUGA:  Rungkad! Holder MANTA Asal Indonesia Loss Rp800 Juta

Beberapa analis menilai bahwa suku bunga yang lebih rendah cenderung mendorong investor mencari imbal hasil lebih tinggi. Dalam kondisi ini, kripto sering diposisikan sebagai alternatif investasi. Meski demikian, risiko tetap ada mengingat karakteristik kripto yang fluktuatif.

Sinyal dari The Fed juga berpotensi memperkuat persepsi bahwa era pengetatan moneter ekstrem mulai berakhir. Jika tren ini berlanjut hingga 2026, lingkungan makro bisa menjadi lebih kondusif bagi aset digital. Dalam situasi seperti ini, nasib kripto dinilai memiliki peluang untuk tetap menarik perhatian investor global.

Meski begitu, otoritas moneter AS menegaskan bahwa fokus utama tetap pada stabilitas ekonomi dan pengendalian inflasi. Paulson menekankan bahwa setiap langkah kebijakan akan menyesuaikan kondisi terbaru. Pernyataan ini menunjukkan bahwa arah kebijakan The Fed masih bersifat dinamis.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia