Keputusan bank sentral AS kembali jadi sorotan. Di tengah ketegangan geopolitik yang memanas, arah kebijakan moneter justru memilih bertahan. Dampaknya langsung terasa ke aset berisiko, termasuk kripto.
Bitcoin pun tak luput dari tekanan. itu Reaksi pasar muncul cepat, mencerminkan betapa sensitifnya investor terhadap kombinasi suku bunga dan ketidakpastian global.
The Fed Tahan Suku Bunga, Soroti Konflik Iran-AS
Federal Reserve melalui FOMC pada Kamis (19/03/2026) memutuskan untuk menahan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen. Langkah ini diambil sambil memantau dampak makroekonomi dari konflik yang terus berkembang di Timur Tengah.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menyebut aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid. Konsumsi rumah tangga tetap kuat, sementara investasi bisnis terus menunjukkan ekspansi.
Namun, tidak semua sektor berada dalam kondisi ideal. Powell menyoroti sektor perumahan yang lemah. Sementara itu, pasar tenaga kerja mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran. Di sisi lain, inflasi juga masih berada di atas target 2 persen.
Arthur Hayes: The Fed Bisa Cetak Uang untuk Biayai Konflik AS–Iran
Menurutnya, kondisi ini membuat kebijakan menahan suku bunga menjadi langkah yang lebih hati-hati, terutama di tengah konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, sehingga mendorong sikap yang lebih defensif.
“Implikasi dari peristiwa di Timur Tengah terhadap ekonomi AS masih belum pasti dalam jangka pendek. Harga energi yang lebih tinggi akan mendorong kenaikan inflasi secara keseluruhan, namun terlalu dini untuk mengetahui dampaknya terhadap perekonomian,” jelasnya.
Pasar Tunggu Arah The Fed di Tengah Ketidakpastian
Kombinasi inflasi yang tinggi dan pasar tenaga kerja yang mulai melemah menciptakan dilema bagi The Fed. Di satu sisi, mereka harus menjaga stabilitas harga, tetapi di sisi lain juga perlu mempertahankan tingkat lapangan kerja.
Ketegangan ini semakin kompleks dengan adanya konflik Iran-AS. Ketidakpastian geopolitik membuat proyeksi ekonomi menjadi lebih kabur, sekaligus meningkatkan kehati-hatian dalam pengambilan kebijakan.
Data CME Group menunjukkan 100 persen pelaku pasar tidak mengharapkan perubahan suku bunga dalam waktu dekat. Artinya, skenario “wait and see” masih menjadi pendekatan utama saat ini.

Sementara itu, Arthur Hayes menyatakan masih menunggu pemangkasan suku bunga sebelum kembali agresif membeli Bitcoin. Ia juga menilai konflik yang berlangsung dapat mendorong pelonggaran kebijakan moneter ke depan.
Bitcoin Turun Lebih dari 4 Persen Usai Keputusan Fed
Di tengah situasi ini, pasar kripto langsung merespons. Harga bitcoin tercatat melemah lebih dari 4 persen setelah pengumuman tersebut, dan kini diperdagangkan di kisaran US$70.000 hingga US$71.200.
Reaksi ini bukan tanpa alasan. Suku bunga yang tetap tinggi cenderung menjadi tekanan bagi aset berisiko. Aliran dana biasanya beralih ke instrumen yang lebih aman seperti obligasi pemerintah.

Di saat yang sama, ketidakpastian geopolitik membuat investor semakin berhati-hati. Kombinasi dua faktor ini menciptakan tekanan ganda bagi Bitcoin, sambil menunggu arah kebijakan moneter selanjutnya.
Kini, arah pasar akan sangat bergantung pada langkah berikutnya dari The Fed. Di tengah konflik yang belum mereda, volatilitas tampaknya masih akan menjadi “teman dekat” dalam waktu dekat.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



