Drama peretasan Bitget tampaknya belum berakhir. Setelah nilai aset terdampak membengkak menjadi US$387,5 juta, perhatian kini mengarah ke THORChain karena sebagian dana curian terdeteksi bergerak melalui protokol tersebut.
Dana Curian Bitget Mengalir Lewat THORChain
Kasus ini bermula ketika penyerang menembus sistem Bitget dan membawa aset keluar dari sejumlah wallet. Namun, ceritanya berubah saat dana mulai berpindah lintas jaringan dan dikonversi menjadi Bitcoin.
Dikutip dari laporan sebelumnya, sedikitnya 126,71 BTC senilai sekitar US$10,6 juta tercatat keluar dari 66 transaksi swap terkait BNB dan TRX hasil peretasan, dengan sebagian aliran melewati THORChain dan Chainflip.
Masuknya THORChain dalam jalur tersebut membuat protokol ini disorot. MistTrack kemudian mengangkat kembali perannya dalam kasus Bybit, ketika US$1,2 miliar dana curian dilaporkan pernah bergerak melalui jaringan tersebut.
Kenalan dengan Lazarus Group, Hacker yang Diduga Retas Bitget
Perhatian semakin besar setelah CEO Bitget, Gracy Chen, meminta THORChain menolak alamat yang dikaitkan dengan penyerang. Menurutnya, status jaringan permissionless tidak seharusnya menjadi alasan untuk membiarkan dana curian terus bergerak.
“Alamat penyerang kami sudah dipublikasikan dan dilacak secara aktif. Kami secara resmi meminta THORChain menolak melayani alamat-alamat ini. Desentralisasi adalah prinsip desain, bukan tameng untuk memfasilitasi dana curian,” ujar Chen di X, Sabtu (26/09/2026).
Bitget Desak THORChain, Perdebatan soal Desentralisasi Memanas
Desakan Chen kemudian mendapat respons langsung. THORChain menegaskan protokolnya dibangun sebagai jaringan terdesentralisasi dan permissionless, sembari membandingkan posisinya dengan blockchain lain.
“THORChain terdesentralisasi dan permissionless seperti Bitcoin, Ethereum, dan BNB Chain. Tanggung jawab apa yang seharusnya dipikul Bitcoin, Ethereum, dan BNB Chain ketika menangani dana curian yang sudah diketahui?” tulis mereka di X, Minggu (27/09/2026).
Alih-alih meredakan situasi, respons tersebut justru membuka perdebatan baru. Isunya kini bukan hanya ke mana dana hacker Bitget bergerak, tetapi juga sejauh mana infrastruktur terdesentralisasi perlu bertindak ketika sumber aset sudah teridentifikasi.
Perdebatan inilah yang kemudian membawa kasus Bitget ke wilayah lebih luas. Bukan lagi sekadar soal pelacakan ratusan juta dolar, tetapi juga batas antara desentralisasi, netralitas jaringan, dan tanggung jawab pelaku industri.
Klaim Desentralisasi THORChain Dipukul Balik GoPlus
Perdebatan tersebut kemudian mendapat babak baru ketika GoPlus Security ikut bersuara. Perusahaan keamanan itu menilai perbandingan THORChain dengan Bitcoin atau Ethereum tidak sepadan karena mekanisme pengelolaannya berbeda secara fundamental.
Menurut mereka, transaksi keluar dari vault THORChain membutuhkan threshold signature dari kumpulan node aktif. Artinya, pelepasan aset dari vault bukan sekadar proses validator memasukkan transaksi seperti pada blockchain Layer-1.
GoPlus juga menyoroti jumlah node, mekanisme voting Mimir, serta fitur penghentian jaringan dan signing per chain. Bagi mereka, desain tersebut menunjukkan bahwa intervensi sebenarnya sudah menjadi bagian arsitektur THORChain.
“THORChain tidak pernah benar-benar terdesentralisasi secara ketat. Membandingkan dirinya dengan L1 terdesentralisasi seperti BTC dan ETH tidak tepat. Jangan memfasilitasi kriminal hanya demi memperoleh biaya swap dari dana curian,” tulis mereka di X, Minggu (27/09/2026).

Kritik itu semakin tajam karena THORChain pernah menggunakan mekanisme penghentian ketika protokolnya mengalami serangan pada Mei 2026. Fakta tersebut kemudian dipakai untuk mempertanyakan alasan jaringan tidak mengambil langkah serupa dalam kasus Bitget.
Bukan Kasus Pertama, THORChain Kembali Disorot
Dari persoalan kemampuan intervensi, perdebatan kemudian bergeser ke sisi insentif. GoPlus memperkirakan sekitar 101,5 BTC telah keluar melalui THORChain, sementara sekitar 27,63 juta XRP disebut masih dalam proses pertukaran menuju Bitcoin.
Sebagai pembanding, GoPlus kembali menyinggung kasus peretasan Bybit pada 2025. Kala itu, penyerang disebut mencuci sekitar 499.000 ETH dalam sepuluh hari, sebagian besar melalui THORChain, dengan volume mencapai US$5,9 miliar.
Jejak serupa juga muncul dalam laporan sebelumnya. Pada kasus KelpDAO, THORChain digunakan untuk memindahkan aset lintas jaringan sehingga proses pelacakan dana hasil serangan menjadi semakin rumit.
Rangkaian kasus tersebut membuat posisi THORChain kembali dipertanyakan. Sementara dana curian Bitget masih terus dilacak, perdebatan soal batas desentralisasi dan tanggung jawab infrastruktur permissionless kini ikut mengemuka.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


