Tiga Altcoin yang Digadang Siap Melejit di 2026

Banyak pelaku pasar kripto sering merasa sudah memilih altcoin yang “benar,” tetapi tetap berakhir dengan hasil mengecewakan. Masalahnya sering kali bukan pada asetnya, melainkan pada waktu dan cara masuk pasar.

Menjelang 2026, situasinya justru diperkirakan makin menantang. Tahun tersebut tidak digambarkan sebagai fase yang menguntungkan bagi mereka yang mengandalkan kecepatan atau reaksi spontan. Sebaliknya, pasar cenderung menuntut kesabaran, pemahaman struktur, serta disiplin dalam membaca arah jangka panjang.

Dalam kondisi seperti itu, fokus investor mulai bergeser. Bukan lagi sekadar mengejar tren, melainkan mencari proyek yang posisinya kuat di infrastruktur kripto. Dari sinilah muncul tiga nama yang dinilai punya fondasi menarik untuk 2026, yakni Chainlink, Ondo Finance dan Uniswap, dilansir dari video terbaru Altcoin Buzz.

Tiga Altcoin Potensial di Tahun 2026

1. Chainlink dan Perannya di Balik Layar Infrastruktur Kripto

Chainlink sering disebut sebagai “perekat” ekosistem kripto. Proyek ini berperan sebagai oracle yang menghubungkan data dunia nyata ke blockchain, sekaligus menyediakan infrastruktur lintas jaringan. Tanpa mekanisme semacam ini, banyak aplikasi terdesentralisasi akan kesulitan berjalan optimal.

IKLAN
Chat via WhatsApp
BACA JUGA:  Robert Kiyosaki Pilih Nunggu Bottom Bitcoin dan Emas, Ini Alasannya

Menariknya, Chainlink bukan hanya relevan di level teknikal. Ketertarikan institusi juga mulai terlihat. Produk ETF berbasis LINK di AS yang diluncurkan oleh Grayscale pada akhir 2025 tercatat belum mengalami arus keluar sejak hari pertama.

Selain itu, produk ETF spot lain dari Bitwise sudah tercatat di DTCC, sebuah sinyal bahwa peluncuran tinggal menunggu persetujuan regulator.

Namun yang paling banyak dibicarakan adalah integrasi Chainlink dengan sistem perbankan global. Pada Oktober 2025, SWIFT mengadopsi CCIP milik Chainlink, membuka koneksi ke lebih dari 70 blockchain. Langkah ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena sebelumnya ekspektasi pasar justru mengarah ke solusi lain.

Di sisi lain, kolaborasi Chainlink dengan institusi besar seperti JP Morgan, Mastercard dan UBS mempertegas posisinya dalam tren tokenisasi aset dunia nyata (RWA).

2. Ondo Finance dan Ledakan Tokenisasi RWA

Jika Chainlink berfungsi sebagai fondasi teknis, maka Ondo Finance bergerak di area yang lebih “kasat mata,” yakni tokenisasi RWA. Dalam lima tahun terakhir, sektor ini tumbuh dari sekitar US$1,5 miliar pada 2020 menjadi lebih dari US$36 miliar pada 2025. Angka tersebut membuat banyak pelaku keuangan tradisional mulai melirik.

BACA JUGA:  Mengapa Pasar Crypto Rontok?

Tokoh besar seperti Larry Fink dari BlackRock bahkan menegaskan arah perubahan ini.

“Dua tren besar yang akan membentuk ulang layanan keuangan adalah AI dan tokenisasi aset keuangan,” ujar Larry Fink.

Pandangan serupa juga datang dari CEO Coinbase Brian Armstrong, yang menilai kripto dapat memperbarui cara perusahaan swasta mendapatkan pendanaan.

Bagi Ondo, narasi ini bukan sekadar wacana. Platform mereka menawarkan perdagangan aset tokenisasi yang berjalan 24 jam sehari, tanpa terikat jam bursa tradisional.

Lebih lanjut lagi, Ondo mengembangkan blockchain dengan pendekatan hibrida, sebagian permissionless dan sebagian permissioned, agar tetap selaras dengan kebutuhan kepatuhan hukum.

Rencana ekspansi ke jaringan Solana pada awal 2026 menambah dimensi baru, terutama untuk menjangkau ekosistem yang lebih luas di luar Ethereum dan BNB Chain.

3. Uniswap dan Evolusi DeFi yang Semakin Dewasa

Di sisi DeFi, Uniswap tetap menjadi rujukan utama. Diluncurkan pada 2018, protokol ini kini tersedia di sekitar 40 blockchain dengan total nilai terkunci sekitar US$2,8 miliar. Likuiditas yang dalam membuatnya tetap menjadi pilihan banyak trader, terutama saat minat terhadap DeFi dan privasi kembali meningkat.

BACA JUGA:  Harga Ethereum di Zona Kritis, Ada Peluang Rebound

Namun demikian, perubahan paling menarik justru datang dari tata kelola. Pada 2025, komunitas Uniswap menyetujui burn 100 juta token UNI, sekitar 16 persen dari pasokan beredar.

Keputusan ini disahkan hampir tanpa perlawanan, sebuah hal yang jarang terjadi di ruang kripto. Sejak saat itu, sebagian biaya transaksi dialihkan ke mekanisme burn, membuat UNI bersifat deflasioner dan lebih terikat pada penggunaan protokol.

Ketiga proyek ini menunjukkan satu benang merah, yakni 2026 bukan tentang berburu lonjakan cepat, melainkan memahami posisi jangka panjang. Chainlink memperkuat infrastruktur, Ondo memanfaatkan arus tokenisasi RWA, sementara Uniswap membuktikan bahwa DeFi bisa berevolusi menjadi lebih matang.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia