Tiga Bank Raksasa Jepang Siap Bikin Stablecoin Global Baru

Tiga lembaga keuangan terbesar di Jepang, Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG), Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) dan Mizuho Financial Group, telah mengumumkan kolaborasi strategis untuk meluncurkan stablecoin yang dipatok pada yen dan dolar AS.

Langkah ini menandai tonggak penting dalam transformasi sistem pembayaran Jepang menuju ekosistem keuangan berbasis aset digital.

Berdasarkan laporan Reuters, ketiga bank tersebut akan mengembangkan platform penyelesaian pembayaran terpadu guna mendukung penerbitan dan distribusi stablecoin tersebut.

Pada tahap awal, stablecoin akan berdenominasi yen, sementara stablecoin dolar AS direncanakan menyusul setelah infrastruktur dasar siap digunakan. Proyek ini diharapkan menjadi fondasi baru bagi efisiensi transaksi antarbank dan lintas batas di kawasan Asia.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Kolaborasi ini juga memperkuat ambisi Jepang dalam mengintegrasikan teknologi blockchain dengan sistem keuangan tradisional.

Dengan dukungan tiga bank terbesar di negara tersebut, stablecoin baru ini diproyeksikan memiliki tingkat kepercayaan tinggi serta likuiditas yang kuat di pasar domestik.

Platform Digital untuk Transaksi 24 Jam

Ketiga bank akan mengoperasikan stablecoin melalui platform digital bersama yang memungkinkan transaksi berlangsung selama 24 jam, termasuk di luar jam operasional perbankan tradisional.

BACA JUGA:  Hari Valentine 2026: Kripto Bikin Gen Z Tampil Lebih Menarik?

Sistem ini menggunakan teknologi buku besar terdistribusi (DLT) yang memungkinkan penyelesaian transaksi secara instan, aman dan transparan.

Inisiatif tersebut merupakan kelanjutan dari proyek Project Pax, sebuah kerja sama antara MUFG, SMBC dan Mizuho dengan mitra teknologi seperti Progmat, Datachain dan TOKI.

Proyek ini sebelumnya dikembangkan untuk menguji kemampuan stablecoin dalam mendukung pembayaran lintas negara dengan efisiensi biaya yang lebih tinggi.

Melalui integrasi Application Programming Interface (API) dari jaringan SWIFT, stablecoin ini dapat dioperasikan tanpa mengubah mekanisme kerja sistem keuangan tradisional. Dengan demikian, korporasi dan lembaga keuangan dapat mengadopsi stablecoin tanpa hambatan teknis besar.

“Langkah ini akan memperkuat posisi yen sebagai mata uang digital yang dapat digunakan secara global dengan tingkat keamanan dan efisiensi tinggi,” ujar seorang eksekutif.

Selain meningkatkan efisiensi transaksi lintas batas, penggunaan stablecoin juga diyakini dapat mengurangi ketergantungan pada sistem perbankan korespondensi internasional yang selama ini dikenal lambat dan mahal.

BACA JUGA:  CEO Indodax Buka Suara Soal Dana Nasabah Rp600 Juta yang Hilang

Model pembayaran baru ini juga diharapkan dapat meningkatkan daya saing Jepang di tengah meningkatnya adopsi aset digital oleh negara-negara lain di kawasan Asia.

FSA Jepang Siap Beri Lampu Hijau, Tapi Tantangan Masih Mengintai

Dukungan terhadap inisiatif stablecoin ini turut datang dari otoritas keuangan Jepang. Financial Services Agency (FSA) dilaporkan tengah menyiapkan persetujuan resmi bagi penerbitan stablecoin berdenominasi yen pada musim gugur 2025.

Regulasi yang telah diperbarui sejak 2023 mengharuskan setiap stablecoin memiliki cadangan aset riil seperti deposito atau obligasi pemerintah Jepang (JGB) agar stabilitas nilainya tetap terjaga.

Selain ketiga bank besar tersebut, startup lokal seperti JPYC juga telah memperoleh lisensi untuk menerbitkan stablecoin yen sendiri.

JPYC menargetkan volume penerbitan mencapai 1 triliun yen dalam tiga tahun ke depan dengan fokus pada segmen institusi keuangan dan perusahaan besar sebelum merambah ke pasar internasional.

BACA JUGA:  Meta Dikabarkan Siap Integrasikan Stablecoin pada 2026 Ini

Meski demikian, sejumlah tantangan masih membayangi peluncuran stablecoin nasional ini. Aspek kepatuhan terhadap aturan anti pencucian uang (AML) dan pencegahan pendanaan terorisme (CFT) menjadi perhatian utama regulator.

Selain itu, interoperabilitas antar-blockchain dan kesiapan infrastruktur digital di kalangan lembaga keuangan juga dinilai akan menjadi faktor penentu keberhasilan proyek ini.

Analis industri menilai, keberhasilan kolaborasi ini akan sangat bergantung pada tingkat adopsi oleh sektor korporasi dan dukungan regulator. Jika berjalan sesuai rencana, sistem stablecoin tersebut dapat menjadi model global bagi integrasi aset digital ke dalam sistem keuangan tradisional.

Langkah tiga bank besar Jepang ini mencerminkan keseriusan sektor keuangan negeri tersebut dalam beradaptasi terhadap era digital.

Dengan kombinasi kekuatan institusional, dukungan regulasi dan teknologi blockchain, Jepang berpotensi menjadi salah satu pionir dalam penerapan stablecoin berskala nasional yang dapat digunakan untuk transaksi domestik maupun internasional. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia