Tiongkok Panas! AS Dituduh Terlibat dalam Peretasan Bitcoin Terbesar

Tiongkok mengguncang dunia kripto dengan tudingan serius terhadap Amerika Serikat. Badan pertahanan siber nasional Tiongkok, China’s National Computer Virus Emergency Response Center (CVERC), menuding AS terlibat dalam peretasan Bitcoin yang melibatkan lebih dari 127.000 BTC atau sekitar US$14,5 miliar.

Peretasan Bitcoin LuBian yang Lama Terkubur

Kisah ini bermula pada Desember 2020, ketika LuBian, salah satu mining pool Bitcoin terbesar asal Tiongkok, mengalami serangan siber. Dalam hitungan jam, 127.000 BTC raib dari sistem. Saat itu, nilai kerugian diperkirakan mencapai US$3,5 miliar, yang kini meningkat hampir empat kali lipat seiring lonjakan harga BTC.

Peretasan tersebut sempat lenyap dari perhatian publik. LuBian tiba-tiba menghilang dari radar pada awal 2021, bertepatan dengan kebijakan keras pemerintah Tiongkok terhadap aktivitas mining kripto. Tidak ada kabar lanjutan, dan kasus ini seolah terkubur begitu saja.

Gila! Pencurian Bitcoin Senilai US$3,5 Miliar Akhirnya Terungkap

IKLAN
Chat via WhatsApp

Empat tahun kemudian, tepatnya pada Agustus 2025, laporan dari Arkham Intelligence kembali membongkar kasus ini. Dalam laporannya, Arkham menyebut peretasan LuBian sebagai “the largest Bitcoin hack ever recorded,” atau peretasan Bitcoin terbesar yang pernah ada.

BACA JUGA:  Arthur Hayes Lepas Token Ini Demi Borong HYPE Rp31,5 Miliar

Menariknya, badan keamanan siber Tiongkok, CVERC, kemudian merilis laporan teknis pada Senin (10/11/2025) yang menelusuri kembali peristiwa tersebut. Laporan itu menyoroti pola yang ganjil dalam peretasan Bitcoin LuBian.

AS Dituding “Curi” 127.000 Bitcoin Milik LuBian

Tudingan Tiongkok mencuat setelah sebelumnya Departemen Kehakiman AS (DOJ) pada Oktober 2025 mengumumkan penyitaan 127.271 BTC dari Chen Zhi, pendiri Prince Group asal Kamboja yang diduga terhubung dengan LuBian. 

Namun, CVERC mempertanyakan bagaimana AS bisa mengakses aset digital itu. Berdasarkan data dari Arkham Intelligence, pada Juli 2024, hampir seluruh Bitcoin dari alamat “LuBian.com Hacker” berpindah ke alamat bertanda “US Government: Chen Zhi Seized Funds.”

Perpindahan dana tersebut memunculkan banyak tanda tanya. Pasalnya, aset itu sempat diam di satu alamat wallet selama hampir empat tahun sebelum berpindah ke tangan AS. CVERC menilai pola ini dinilai tidak lazim untuk kasus peretasan Bitcoin biasa.

BACA JUGA:  Whale Pindahkan US$8,3 Miliar Bitcoin ke Binance, Siap Jual?

“Hal ini jelas tidak sesuai dengan perilaku khas para peretas yang biasanya ingin segera mencairkan dana dan mengejar keuntungan; tindakan ini lebih tampak seperti operasi terencana yang dijalankan oleh sebuah organisasi peretasan negara,” tulis mereka.

Transaksi dari Wallet Hacker Lubian ke Alamat Pemerintah AS - Arkham Intelligence
Transaksi dari Wallet Hacker Lubian ke Alamat Pemerintah AS – Arkham Intelligence

Selain menyoroti motif geopolitik, CVERC juga membongkar celah keamanan di wallet LuBian. Peneliti menemukan private key yang menggunakan pseudo-random number generator (PRNG) lemah, membuat ribuan alamat wallet mudah diretas dengan teknik brute-force.

Chen Zhi sempat mengirim lebih dari 1.500 pesan di jaringan Bitcoin sepanjang 2021–2022, menawarkan imbalan kepada siapapun yang bersedia mengembalikan aset BTC miliknya.

Sayangnya, tidak ada pihak yang menanggapi pesan tersebut, dan hingga saat ini, seluruh aset digital itu sepenuhnya berada di bawah kendali serta pengawasan pemerintah Amerika Serikat.

Perang Dingin Versi Kripto

Kasus LuBian bukan sekadar peretasan Bitcoin; ini menjadi cermin perang siber dan ekonomi digital antara dua adidaya. AS mengklaim penyitaan tersebut sebagai upaya hukum melawan praktik ilegal, sementara Tiongkok menyebutnya sebagai “pencurian berseragam negara.”

Bug PRNG Mengancam 220.000 Address Bitcoin

Dengan nilai Bitcoin yang melonjak dan rivalitas yang memanas, kasus ini berpotensi menjadi preseden berbahaya. Dunia kripto pun diingatkan kembali bahwa bahkan aset digital yang dianggap desentralisasi sekalipun, tidak bisa lepas dari bayang-bayang kekuasaan negara. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia