Tokenisasi Dipuji IMF, Tapi Ancaman Stabilitas Keuangan Jadi Sorotan

Perkembangan tokenisasi kini menjadi sorotan di tingkat global. Teknologi ini dipandang mampu membuat sistem keuangan lebih efisien, membuka peluang yang sebelumnya sulit dicapai. Namun, di balik potensi tersebut, mulai muncul kekhawatiran soal risikonya.

Laporan terbaru dari International Monetary Fund (IMF) menegaskan bahwa tokenisasi memiliki dua sisi yang berjalan beriringan: sebagai inovasi yang menjanjikan, sekaligus membawa potensi ancaman terhadap stabilitas sistem keuangan global.

Tokenisasi Bawa Efisiensi, Risiko Baru Ikut Mengiringi

Dalam laporan setebal 23 halaman yang dirilis pada Kamis (02/04/2026), IMF menyebut tokenisasi memiliki potensi besar untuk mengurangi friksi dalam sistem keuangan sekaligus meningkatkan transparansi.

Teknologi ini memungkinkan proses seperti penerbitan, perdagangan, hingga penyelesaian transaksi dilakukan lebih cepat dan efisien. Namun, IMF juga mengingatkan bahwa dampak akhirnya masih belum pasti.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Dampak bersih tokenisasi terhadap stabilitas keuangan masih belum pasti. Atomic settlement dan peningkatan transparansi memang mengurangi beberapa risiko tradisional, namun kecepatan dan otomatisasi justru menghadirkan risiko baru,” tulis IMF.

Data dari RWA.xyz menunjukkan bahwa saat ini lebih dari US$27,6 miliar aset dunia nyata telah ditokenisasi di blockchain, di luar stablecoin. Angka ini mencerminkan pertumbuhan yang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA:  Mobee Ajak Mahasiswa UGM Kenali Blockchain sebagai Sistem Keuangan Masa Depan
Kapitalisasi Pasar Tokenisasi RWA - Rwa.xyz
Kapitalisasi Pasar Tokenisasi RWA – Rwa.xyz

Proyeksi ke depan pun bervariasi. Boston Consulting Group memperkirakan pasar tokenisasi bisa mencapai US$16 triliun pada 2030, sementara Grayscale memprediksi lonjakan yang jauh lebih agresif, bahkan lebih dari 1.000 kali lipat dari nilai saat ini.

Meski menjanjikan, International Monetary Fund (IMF) menilai tokenisasi memindahkan risiko ke teknologi seperti shared ledger dan smart-contract, membuat tekanan pasar saat krisis bisa terjadi lebih cepat dan sulit diintervensi.

Peluang Tokenisasi Kian Besar, Dampaknya Perlu Dicermati

Lebih lanjut, IMF melihat peluang tokenisasi di negara berkembang. Teknologi ini berpotensi mempercepat pembayaran lintas negara sekaligus mendorong inklusi keuangan, terutama di wilayah dengan akses layanan finansial yang masih terbatas.

Namun, manfaat tokenisasi RWA datang bersama risiko yang besar. IMF memperingatkan potensi arus modal yang lebih volatil, substitusi mata uang yang cepat, hingga ancaman terhadap kedaulatan moneter suatu negara.

BACA JUGA:  S&P500 Masuk ke Hyperliquid, Era Tokenisasi Aset Kian Panas

“Kemudahan aset yang ditokenisasi meningkatkan risiko arus modal volatil, substitusi mata uang, serta melemahnya kedaulatan moneter, terutama jika stablecoin yang diterbitkan pihak swasta banyak digunakan di negara dengan mata uang yang lemah atau sistem keuangan yang kurang berkembang,” tegas IMF.

Di tengah kekhawatiran tersebut, dorongan terhadap tokenisasi justru menguat, terutama dari Wall Street. CEO Blackrock, Larry Fink, misalnya, menjadi salah satu tokoh yang mendorong tokenisasi berbagai instrumen, mulai dari saham, obligasi, hingga real estat.

Platform seperti Securitize saat ini memimpin pasar tokenisasi RWA dengan nilai terkunci mencapai US$3,38 miliar. Sementara itu, Tether Gold dan Ondo Finance juga berada di posisi teratas dengan nilai miliaran dolar.

Langkah besar juga datang dari Intercontinental Exchange (ICE), induk dari New York Stock Exchange, yang berencana meluncurkan platform tokenisasi untuk perdagangan 24/7 dengan penyelesaian instan berbasis blockchain.

CEO BlackRock: Tokenisasi Akan Jadi Arah Baru Masa Depan Finansial

Tantangan Regulasi dan Upaya Industri Menjawabnya

Di luar aspek teknis dan ekonomi, International Monetary Fund (IMF) menyoroti tantangan hukum sebagai hambatan utama dalam perkembangan tokenisasi.

BACA JUGA:  CEO BlackRock: Tokenisasi Akan Jadi Arah Baru Masa Depan Finansial

Tanpa kejelasan terkait kepemilikan aset dan finalitas penyelesaian transaksi, pasar tokenisasi berisiko terfragmentasi dan hanya berada di pinggiran sistem keuangan global.

Untuk menjawab tantangan ini, industri kripto mulai mengembangkan berbagai solusi. Salah satunya adalah ERC-3643 di Ethereum, yang memungkinkan tokenisasi dengan sistem izin (permissioned), sehingga hanya investor tertentu yang dapat mengaksesnya.

Pada akhirnya, tokenisasi menawarkan masa depan baru bagi sistem keuangan. Namun, di tengah potensi efisiensi, risiko yang muncul menjadi pengingat bahwa transformasi ini tetap membutuhkan keseimbangan antara inovasi dan kehati-hatian.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait