Konsep tokenisasi mulai bergerak jauh melampaui eksperimen blockchain. Aset keuangan kini bisa diperdagangkan tanpa jeda, dimiliki secara pecahan, dan diselesaikan melalui infrastruktur digital yang saling terhubung.
Namun, pertumbuhan itu juga membawa persoalan baru. IMF melihat likuiditas yang tipis, fragmentasi, hingga leverage dapat mengubah efisiensi tokenisasi menjadi jalur penularan risiko ketika skalanya semakin besar.
Tokenisasi Ubah Cara Pasar Keuangan Bekerja
Dalam laporan yang diterbitkan pada Kamis (08/10/2026), IMF menilai daya tarik tokenisasi terletak pada kemampuannya menyatukan berbagai proses keuangan yang selama ini berjalan melalui lembaga dan infrastruktur berbeda.
Penerbitan aset, perdagangan, settlement, hingga servicing berlangsung melalui distributed programmable ledger. Rangkaian proses yang sebelumnya harus berjalan berurutan juga berpotensi dipadatkan menjadi alur yang jauh lebih ringkas.
IMF bahkan melihat perubahan tersebut sebagai pembeda tokenisasi dibandingkan gelombang inovasi keuangan sebelumnya. Jika adopsinya semakin luas, struktur dan cara kerja pasar keuangan bisa ikut berubah.
“Yang membedakan tokenisasi dari inovasi keuangan sebelumnya adalah potensinya untuk menata ulang pasar,” tulis IMF, menegaskan bahwa dampaknya dapat melampaui sekadar digitalisasi aset.
Skalanya pun mulai terlihat. Aktivitas terbesar berasal dari pasar repurchase agreement atau repo tokenisasi, dengan volume transaksi harian rata-rata mencapai sekitar US$300 miliar hingga US$350 miliar.

Meski terlihat besar, angka tersebut masih kecil dibandingkan pasar repo Amerika Serikat yang mencapai sekitar US$13 triliun per hari. Sementara itu, nilai pasar modal global mencapai sekitar US$300 triliun.
Di luar repo, aset tokenisasi seperti kredit, reksa dana pasar uang, komoditas, saham, dan kategori lain sudah mencapai sekitar US$65 miliar. Grafik IMF menunjukkan produk kredit memegang porsi terbesar.
Trading 24 Jam Jadi Daya Tarik Utama Tokenisasi
Cerita tokenisasi menjadi lebih menarik ketika melihat perilaku investor. IMF menemukan lebih dari separuh perdagangan aset tokenisasi berlangsung di luar jam pasar tradisional, termasuk malam, pre-market, dan akhir pekan.
Pola ini menunjukkan investor bukan sekadar membeli aset yang dipindahkan ke blockchain. Mereka mulai memanfaatkan karakter yang sulit ditawarkan pasar konvensional, terutama akses perdagangan yang terus terbuka hampir sepanjang waktu.
“Lebih dari separuh perdagangan berlangsung di luar jam pasar tradisional, yang menunjukkan adanya permintaan terhadap akses perdagangan secara terus-menerus sepanjang waktu,” tulis IMF dalam laporannya mengenai pola aktivitas investor.
Grafik memperlihatkan perdagangan akhir pekan memiliki porsi cukup besar, terutama pada decentralized exchange. Aktivitas juga tetap muncul pada sesi overnight, after hours, hingga beberapa jam sebelum pasar tradisional dibuka.

Bukan hanya soal waktu. Fractional ownership juga digunakan secara nyata. Sekitar 80 persen transaksi saham tokenisasi yang dianalisis IMF bahkan dilakukan dalam ukuran lebih kecil daripada satu lembar saham.
Artinya, tokenisasi membuka pintu masuk yang lebih rendah bagi investor ritel. Seseorang tidak harus membeli satu saham penuh untuk mendapatkan eksposur terhadap aset yang memiliki harga tinggi.
Menariknya, pergerakan saham tokenisasi pada malam hari turut tercermin pada harga saham tradisional setelah bursa dibuka. IMF melihat sinyal pasar tokenisasi mulai memiliki relevansi terhadap pembentukan harga konvensional.
Likuiditas Tipis Bisa Berubah Jadi Efek Domino
Di balik pertumbuhan tersebut, IMF melihat tantangan yang tidak kecil. Pasar tokenisasi saat ini masih relatif tidak likuid dan menunjukkan volatilitas lebih tinggi dibandingkan instrumen keuangan tradisional yang menjadi acuannya.
Masalah itu diperbesar oleh fragmentasi. Likuiditas tersebar di banyak jaringan, platform, dan mekanisme settlement, sehingga pembentukan harga menjadi kurang efisien sekaligus membuka ruang munculnya perbedaan harga antar-venue.
Kondisi tersebut semakin penting ketika tokenisasi berkembang dalam skala yang lebih besar. Keterhubungan antara pasar dan penggunaan leverage dapat menciptakan saluran baru bagi fire sale, liquidity run, hingga penularan tekanan ke sistem lain.

Ironisnya, efisiensi justru menjadi bagian dari tantangan. Proses tradisional yang lambat memang menambah biaya dan friksi, tetapi beberapa tahapnya berfungsi sebagai penyangga keamanan serta pengelolaan likuiditas.
Jika seluruh proses berubah menjadi instan, sebagian lapisan penyangga itu dapat menghilang. Karena itu, IMF menekankan pentingnya kepastian hukum, regulasi, interoperabilitas, serta aset settlement yang aman dan diterima luas.
Pada akhirnya, IMF menilai masa depan tokenisasi tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi blockchain. Likuiditas, kepercayaan investor, dan perlindungan stabilitas keuangan justru akan menentukan apakah teknologi ini benar-benar dapat berkembang.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


