Peretasan Binance senilai US$6,3 miliar sempat membuat pasar kripto tersentak. Namun, Thomas “Tom” Lee justru melihat respons harga setelah insiden itu sebagai sinyal yang cukup konstruktif.
Pandangan tersebut muncul saat harga Bitcoin masih bergerak di kisaran US$77.000, setelah sebelumnya jatuh tajam dari area US$80.000-an. Bagi Lee, ketahanan pasar kali ini punya cerita berbeda.
Tom Lee Lihat Sisi Bullish di Balik Peretasan Binance
Dikutip dari siaran pers BitMine Immersion Technologies yang dirilis pada Senin (02/11/2026), Lee menyoroti besarnya peretasan Binance sekaligus membandingkan respons pasar dengan insiden Bybit pada Februari 2025.
Ketika Bybit diretas dan US$1,5 miliar aset dicuri, harga ETH disebut turun sekitar delapan persen pada hari pengumuman, lalu terkoreksi hingga sekitar 20 persen dalam sepekan.
Kronologi Lengkap Peretasan Binance 2026: Lebih dari Rp100 Triliun Raib dalam 4 Jam!
Situasinya berbeda setelah Binance diretas dan kehilangan US$6,3 miliar. Meski nilainya jauh lebih besar, dirinya mencatat harga ETH hanya turun sekitar empat persen sejak kabar peretasan mencuat.
Perbedaan respons ini menjadi dasar pandangan bullish Lee. Menurutnya, pasar kripto kini terlihat mampu menyerap guncangan tanpa langsung mengalami tekanan sedalam sejumlah insiden sebelumnya.
“Terbatasnya penurunan harga menjadi sinyal bahwa bull market kripto sedang berlangsung, meskipun harga baru-baru ini mengalami penurunan,” tuturnya.
Enam Alasan Pasar Kripto Dinilai Lebih Tangguh
Lee kemudian merinci enam faktor yang menurutnya membuat dampak pembobolan Binance relatif terbatas. Salah satunya, Binance dinilai memiliki kemampuan finansial untuk menutup kerugian pelanggan akibat insiden tersebut.
Tekanan juga tidak melebar menjadi efek domino di sektor DeFi seperti yang terlihat setelah peretasan Bybit. Di saat yang sama, respons cepat industri disebut berhasil memangkas potensi kerugian sekitar 50 persen.
Faktor lain datang dari atribusi yang berlangsung cepat. FBI mengaitkan serangan tersebut dengan Korea Utara, sementara Lee mencatat identifikasi serupa dalam kasus sebelumnya bisa memakan waktu jauh lebih lama.

Ia juga menyoroti sifat serangan. Insiden peretasan Binance dipandang sebagai infiltrasi terhadap infrastruktur korporat, bukan eksploitasi terhadap blockchain, sehingga risiko sistemiknya lebih terbatas.
Gabungan faktor tersebut membuat Lee melihat bahwa industri kripto kini lebih siap menghadapi guncangan besar, bahkan ketika serangan datang dari aktor yang didukung negara.
“Jika dilihat secara keseluruhan, kami menilai ini menjadi tanda bahwa industri kripto semakin tangguh dan lebih mampu menyerap serangan negara terhadap infrastruktur keuangan,” jelasnya.
Bitcoin Dihantam Kabar Buruk, tapi Masih Bertahan
Meski begitu, pergerakan Bitcoin menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya tenang. BTC sempat berada di atas US$81.000 pada 30 Oktober, sebelum turun cepat menuju US$77.000 setelah kabar peretasan Binance mencuat.
Selepas penurunan tersebut, harga Bitcoin beberapa kali mencoba bangkit ke US$78.000. Tekanan kembali muncul pada 3 November, membuat harga sempat turun dan menguji area sekitar US$76.600.
Tekanan baru datang ketika Mercado Bitcoin melaporkan insiden peretasan senilai sekitar US$46,31 juta, menambah sentimen negatif ketika pasar masih mencerna dampak peretasan Binance.
Namun, BTC masih bertahan dan kembali bergerak di sekitar US$77.250. Harga memang belum sepenuhnya pulih, tetapi rangkaian kabar buruk tersebut belum memicu penurunan yang jauh lebih dalam.

Di titik inilah pandangan Lee menjadi relevan. Sinyal bullish yang ia soroti bukan berarti harga langsung melonjak, melainkan kemampuan pasar menyerap guncangan tanpa mengalami tekanan ekstrem.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


