TON Berganti Nama Jadi GRAM, Telegram Kembali ke Akar Proyeknya

Pendiri Telegram, Pavel Durov, mengumumkan pada Senin (1/6/2026) bahwa ekosistem The Open Network (TON) akan mengganti nama token native-nya dari Toncoin (TON) menjadi GRAM.

Pengumuman tersebut disampaikan melalui channel Telegram resminya dan menjadi salah satu perubahan terbesar dalam sejarah proyek blockchain yang berakar dari Telegram tersebut.

Menurut Durov, proses transisi akan berlangsung secara bertahap selama sekitar tiga minggu dengan melibatkan wallet, penyedia infrastruktur, bursa kripto dan berbagai aplikasi dalam ekosistem.

TON jadi GRAM

Ia menjelaskan bahwa GRAM merupakan nama asli mata uang digital yang kali pertama diperkenalkan dalam whitepaper Telegram Open Network pada 2018.

Durov pun mengatakan bahwa nama GRAM sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang dari proyek tersebut karena tetap tersimpan dalam kode sumber jaringan sejak awal pengembangannya. Menurutnya, perubahan nama ini hanya membawa kembali identitas yang telah menjadi bagian dari fondasi TON sejak pertama kali dirancang.

Meski token berganti identitas, blockchainnya tetap menggunakan nama The Open Network (TON).

Juga, selain nama token, ticker aset juga akan disesuaikan dalam proses transisi yang berlangsung selama beberapa minggu ke depan.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Durov menegaskan bahwa saldo pengguna, alamat wallet, kontrak pintar, NFT, staking, layanan DeFi, serta berbagai aplikasi yang berjalan di jaringan TON tidak akan mengalami perubahan. Karena itu, pengguna tidak perlu melakukan swap, migrasi, bridge, maupun klaim token baru.

Dari Ambisi Blockchain Telegram hingga Gugatan SEC

Sejarah proyek ini bermula pada 2017 ketika Pavel Durov dan saudaranya, Nikolai Durov, mulai mengembangkan blockchain bernama Telegram Open Network.

Saat itu, Telegram ingin membangun infrastruktur digital yang mampu mendukung pembayaran, aplikasi terdesentralisasi, penyimpanan data dan berbagai layanan berbasis blockchain untuk jutaan pengguna di seluruh dunia.

BACA JUGA:  PPATK Ungkap Skema Koperasi Bodong, Dana Mengalir ke Kripto

Untuk mendanai proyek tersebut, Telegram menggelar penjualan privat token GRAM pada awal 2018. Penggalangan dana itu berhasil menghimpun sekitar US$1,7 miliar dari investor institusional dan perusahaan modal ventura, menjadikannya salah satu pendanaan terbesar dalam sejarah industri blockchain.

Setelah hampir dua tahun dikembangkan, Telegram menargetkan peluncuran jaringan pada Oktober 2019. Namun rencana tersebut terhenti setelah Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) menggugat perusahaan tersebut.

Regulator AS menilai penjualan GRAM merupakan penawaran sekuritas yang tidak terdaftar karena investor membeli token dengan ekspektasi memperoleh keuntungan setelah aset tersebut mulai diperdagangkan di pasar.

Gugatan itu membuat distribusi token dihentikan hanya beberapa saat sebelum peluncuran resmi. Pada 2020, Telegram akhirnya mencapai penyelesaian dengan SEC, mengembalikan lebih dari US$1,2 miliar kepada investor dan membayar denda sebesar US$18,5 juta. Setelah kesepakatan tersebut, Telegram secara resmi keluar dari proyek TON yang dibangunnya.

Babak Baru Setelah Kepergian Telegram

Meski Telegram meninggalkan proyek tersebut, pengembangan jaringan tidak berhenti. Kode sumber yang telah dirilis secara terbuka memungkinkan komunitas pengembang dan validator melanjutkan pembangunan blockchain secara independen.

Dalam proses tersebut, nama Telegram Open Network diubah menjadi The Open Network. Pada saat yang sama, token GRAM berganti nama menjadi Toncoin (TON) untuk menegaskan bahwa proyek tersebut tidak lagi berada di bawah kendali langsung Telegram.

Seiring waktu, jaringan TON terus berkembang melalui dukungan komunitas dan TON Foundation. Blockchain ini dikenal karena menawarkan transaksi cepat, biaya rendah, serta kemampuan menangani berbagai layanan berbasis Web3.

BACA JUGA:  CZ Binance Blak-blakan, Sebut Kompetitor Tak Ingin Ia Diampuni Trump

Hubungan antara Telegram dan TON mulai kembali menguat pada 2022 hingga 2023. Telegram secara bertahap mengintegrasikan berbagai layanan berbasis TON ke dalam aplikasinya, termasuk wallet kripto, sistem pembayaran digital, NFT username dan Mini Apps yang dapat digunakan langsung di dalam platform pesan tersebut.

Kabar pergantian nama ini pun membawa angin segar ke performa token TON. Pada saat artikel ini disusun, harga TON telah melejit lebih dari 11 persen dalam 24 jam terakhir, dan hampir sentuh 60 persen dalam 30 hari terakhir.

Volume transaksi harian di pasar spot pun melejit lebih dari 180 persen, dan volume transaksi derivatif juga melesat sekitar 147 persen. Hal ini mencerminkan antusiasme pasar investor dan trader dalam menyikapi pergantian nama GRAM, yang kemungkinan dianggap akan berdampak positif bagi masa depan token.

GRAM Jadi Simbol Kembalinya Telegram

Keterlibatan Telegram dalam ekosistem TON meningkat pesat sepanjang 2026. Pada 4 Mei 2026, Pavel Durov mengumumkan bahwa Telegram akan menggantikan peran TON Foundation sebagai penggerak utama jaringan The Open Network.

Dalam pengumuman tersebut, ia juga menjelaskan bahwa Telegram akan menjadi validator terbesar di jaringan dan mengambil peran yang jauh lebih aktif dalam pengembangan infrastrukturnya.

Langkah tersebut dianggap sebagai perubahan terbesar sejak Telegram meninggalkan proyek TON pada 2020 akibat kasus SEC. Durov menjelaskan bahwa perusahaan akan membantu mempercepat pengembangan jaringan, memperluas integrasi blockchain ke dalam aplikasi Telegram, serta menekan biaya transaksi hingga mendekati nol.

BACA JUGA:  10 Proyek Kripto AI yang Layak Dipantau Bulan Ini

Kini, jaringan TON telah mampu memproses transaksi sekitar 10 kali lebih cepat dibanding sebelumnya, sementara biaya transaksi telah turun sekitar enam kali lipat. Perkembangan tersebut disebut menjadi salah satu fondasi utama bagi integrasi yang lebih luas antara TON dan berbagai layanan Telegram.

Perubahan nama token dari TON menjadi GRAM dipandang sejalan dengan upaya Telegram mengembalikan identitas awal proyek yang sempat terhenti akibat tekanan regulasi. Dalam roadmap terbaru yang dipublikasikan sepanjang 2026, ekosistem TON juga semakin fokus memanfaatkan basis pengguna Telegram yang kini mendekati 1 miliar akun aktif.

Fokus pengembangan tersebut mencakup peningkatan software development kit (SDK), alat pengembang, wallet dalam aplikasi, sistem fiat on-ramp, serta dukungan yang lebih luas untuk Mini Apps dan layanan pembayaran.

Sejumlah laporan industri menyebut strategi tersebut bertujuan menjadikan TON sebagai blockchain yang paling terintegrasi dengan aplikasi konsumen global.

Dengan perubahan ini, Telegram dan GRAM kembali berada dalam satu narasi yang sama. Setelah bertahun-tahun menggunakan nama Toncoin, ekosistem TON kini memilih kembali ke akar yang diperkenalkan saat proyek tersebut kali pertama diumumkan pada 2018.

Bagi industri blockchain, langkah tersebut tidak hanya menjadi rebranding token, tetapi juga menandai semakin besarnya peran Telegram dalam menentukan arah pengembangan jaringan TON di masa depan.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait