Kabar kurang menyenangkan datang dari penyedia hardware wallet ternama, Trezor. Data pribadi milik sekitar 13.700 pelanggan dikabarkan bocor setelah mitra pengirima mengalami insiden keamanan, meningkatkan risiko phishing hingga rekayasa sosial.
13.700 Pelanggan Trezor Terdampak Kebocoran Data
Dalam pengumuman resminya pada Kamis (13/08/2026), Trezor mengungkapkan bahwa ShipMonk, salah satu mitra logistiknya, mengalami kebocoran data yang melibatkan informasi pelanggan untuk proses pengiriman perangkat.
Trezor pertama kali mendapatkan informasi mengenai insiden tersebut pada Senin lalu, setelah ShipMonk melaporkan adanya akses tanpa izin ke sistem yang menyimpan sebagian data pesanan pelanggan perusahaan.
“Kami sangat menyesal menginformasikan bahwa informasi pribadi pelanggan, termasuk nama lengkap, nomor telepon, alamat email dan alamat pengiriman, telah diakses oleh pihak tidak berwenang,” jelas Trezor.
Dampaknya cukup besar. Sebanyak 11.742 pelanggan mengalami eksposur penuh, sedangkan 1.947 pelanggan lainnya terdampak sebagian. Secara keseluruhan, sekitar 13.689 pengguna Trezor terkena insiden tersebut.
Namun, kebocoran tersebut tidak berasal dari sistem internal Trezor. Insiden terjadi pada ShipMonk sebagai mitra fulfillment yang menyimpan data pelanggan untuk kebutuhan penyimpanan produk dan pengiriman pesanan.
Pengguna Trezor Kini Dibayangi Phishing dan Rekayasa Sosial
Meski aset kripto tidak terekspos, persoalannya belum benar-benar selesai. Data yang bocor dapat digunakan pelaku kejahatan untuk menyusun phishing yang terasa jauh lebih personal dan meyakinkan.
“Untuk memperjelas, sistem kami tidak dikompromikan dan perangkat Trezor tetap aman, tetapi pelanggan terdampak mungkin menjadi sasaran upaya phishing yang lebih canggih,” tegas Trezor.
Penipu bisa menggunakan nama, alamat, nomor telepon hingga email korban untuk mengirim pesan palsu, melakukan panggilan penipuan atau bahkan menyamar sebagai bank, exchange kripto maupun pihak Trezor sendiri.
Risiko tersebut ikut disorot pendiri Binance, Changpeng Zhao atau CZ. Melalui X pada Jumat (14/08/2026), ia menilai kebocoran tersebut menciptakan risiko lebih luas karena identitas terhubung dengan kepemilikan kripto.
“Kebocoran tersebut secara langsung menghubungkan identitas dan alamat fisik dengan pemegang kripto yang diketahui, sehingga menciptakan risiko phishing, rekayasa sosial dan keamanan fisik,” ujar CZ.
CZ menambahkan bahwa kasus tersebut bukan berarti wallet buruk. Menurutnya, hardware wallet dan software self-custody wallet hanya memiliki profil risiko berbeda dari sisi keamanan, privasi serta kenyamanan pengguna.
Kasus ini menunjukkan bahwa keamanan self-custody bukan hanya soal menjaga private key. Perlindungan data pribadi juga penting karena kebocoran identitas dapat membuka celah serangan baru terhadap pemilik aset kripto.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


