TRM Labs: Asia Selatan Jadi Pusat Lonjakan Kripto Dunia

Laporan terbaru dari perusahaan analisis blockchain TRM Labs mengungkapkan lonjakan signifikan dalam adopsi aset kripto secara global sepanjang tahun 2025.

Kawasan Asia Selatan tercatat sebagai wilayah dengan pertumbuhan adopsi kripto tercepat, sementara AS tetap mempertahankan dominasinya dari sisi volume transaksi.

Berdasarkan laporan bertajuk 2025 Crypto Adoption and Stablecoin Usage Report yang dirilis TRM Labs, aktivitas perdagangan dan penggunaan kripto di Asia Selatan meningkat sekitar 80 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Negara-negara seperti India, Pakistan dan Bangladesh menjadi motor utama pertumbuhan di kawasan tersebut.

IKLAN
Chat via WhatsApp

India menduduki peringkat pertama dalam indeks adopsi kripto global, disusul oleh AS di posisi kedua dan Pakistan di posisi ketiga, sementara Indonesia di posisi keenam.

Pertumbuhan ini didorong oleh kombinasi faktor, termasuk populasi muda yang melek digital, kebutuhan akan sistem remitansi lintas negara yang lebih murah, serta keterbatasan akses terhadap layanan keuangan tradisional di sebagian besar wilayah Asia Selatan.

Sementara itu, AS tetap menjadi pasar terbesar dari sisi nilai transaksi. TRM Labs mencatat, volume perdagangan kripto di negara tersebut mencapai lebih dari US$1 triliun pada paruh pertama tahun 2025, naik sekitar 50 persen dibanding tahun 2024.

BACA JUGA:  4 Proyek Kripto RI yang Sempat Booming, Kini Tinggal Kenangan?

“Kombinasi kematangan regulasi dan partisipasi institusi besar membuat AS tetap menjadi pusat likuiditas utama dalam ekosistem kripto global,” ungkap TRM Labs.

Stablecoin Jadi Pendorong Utama Pertumbuhan

Dalam laporan tersebut, TRM Labs menyoroti peran besar stablecoin dalam lonjakan aktivitas kripto global. Hingga Agustus 2025, volume transaksi stablecoin tercatat melampaui US$4 triliun, meningkat sekitar 83 persen dari tahun sebelumnya.

Koin yang dipatok pada mata uang fiat ini kini tidak hanya digunakan untuk perdagangan, tetapi juga sebagai sarana pembayaran, transfer lintas negara dan penyimpanan nilai.

Studi TRM Labs menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen total volume transaksi kripto global kini melibatkan stablecoin. Tren ini mengindikasikan pergeseran fungsi aset digital dari sekadar instrumen spekulatif menjadi alat keuangan yang lebih praktis dan terintegrasi dalam ekonomi digital.

BACA JUGA:  Ondo Finance Bawa Obligasi AS ke XRP Ledger dan Stellar

Peningkatan signifikan juga terjadi pada transaksi ritel atau individu. Sejak Januari 2025, volume transaksi dari pengguna non-institusional meningkat lebih dari 125 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan ini menandakan meluasnya partisipasi masyarakat umum terhadap aset digital, terutama di pasar negara berkembang.

Namun, TRM Labs juga menyoroti bahwa sebagian besar aktivitas kripto masih terjadi di wilayah dengan regulasi terbatas atau bahkan pelarangan.

Di beberapa negara di Afrika Utara dan Asia Tengah, transaksi dilakukan melalui jalur alternatif seperti perdagangan over-the-counter (OTC) dan peer-to-peer (P2P), yang cenderung sulit dipantau oleh otoritas keuangan.

Regulasi dan Ketahanan Pasar Jadi Kunci

Laporan TRM Labs menegaskan bahwa kejelasan regulasi memainkan peran penting dalam mempercepat adopsi kripto di berbagai wilayah.

Negara-negara dengan kerangka hukum yang jelas, seperti AS dan Uni Eropa, cenderung menarik lebih banyak pengguna dan investasi. Sebaliknya, di wilayah dengan pembatasan ketat, adopsi tetap tumbuh melalui mekanisme informal yang menunjukkan tingginya minat publik terhadap aset digital.

BACA JUGA:  Terdeteksi! Gerakan Zcash Siap Reli

Selain itu, TRM Labs mencatat adanya peningkatan stabilitas dalam ekosistem kripto global berkat keterlibatan institusi keuangan besar dan integrasi produk keuangan berbasis blockchain. Kehadiran regulasi yang lebih matang juga diyakini mengurangi risiko pasar dan meningkatkan kepercayaan investor.

Adopsi kripto di Asia Selatan dianggap sebagai tanda pergeseran keseimbangan dalam lanskap keuangan digital dunia. Pertumbuhan populasi muda, tingginya penetrasi ponsel pintar, serta meningkatnya kesadaran akan manfaat aset digital menjadikan kawasan tersebut pusat pertumbuhan baru.

Sementara itu, dominasi AS dari sisi volume transaksi memperlihatkan bahwa pasar kripto global kini berkembang secara dua kutub, antara wilayah dengan populasi pengguna masif dan negara dengan likuiditas institusional tinggi.

Dengan momentum pertumbuhan yang belum menunjukkan tanda melambat, TRM Labs menilai tahun 2025 sebagai periode transisi penting menuju gelombang besar adopsi kripto global.

Jika tren ini berlanjut, aset digital berpotensi menjadi bagian integral dari sistem keuangan internasional dalam beberapa tahun mendatang. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia