Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa selat Hormuz akan segera dibuka kembali dalam waktu dekat, meskipun situasi di jalur pelayaran vital tersebut masih belum sepenuhnya pulih pasca konflik dengan Iran.
“Negara-negara lain menggunakan selat [Hormuz] ini. Jadi, memang ada negara-negara lain yang akan datang dan mereka akan membantu. Ini tidak akan mudah, saya akan mengatakan ini, kita akan segera membukanya,” ungkap Trump, dilansir dari Reuters, pada Sabtu (11/4/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah adanya gencatan senjata antara AS dan Iran, yang diharapkan dapat membuka kembali akses di selat Hormuz.
Namun, berdasarkan data terbaru, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa selat Hormuz masih jauh dari normal. Aktivitas pelayaran di jalur tersebut belum pulih, bahkan mengalami penurunan drastis dibandingkan kondisi normal.
Aktivitas Kapal Anjlok, Gencatan Senjata Dipertanyakan
Pemerintah AS menuding Iran melanggar kesepakatan gencatan senjata, terutama dalam pengelolaan selat Hormuz. Trump menilai tindakan Iran tidak sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati, setelah lalu lintas kapal di jalur tersebut masih sangat terbatas.
Secara data, penurunan aktivitas kapal di selat Hormuz terjadi dengan pesat. Jika sebelumnya rata-rata mencapai sekitar 60 kapal per hari, dalam 24 jam terakhir jumlah tersebut dilaporkan turun menjadi hanya sembilan kapal. Bahkan, sejak gencatan senjata dimulai, hanya tiga kapal tanker yang berhasil melintas di selat Hormuz.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun secara politik terdapat kesepakatan untuk meredakan konflik, secara operasional selat Hormuz masih berada dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Pelaku industri pelayaran dan energi masih menahan aktivitas mereka karena tingginya risiko keamanan di kawasan tersebut.
Selain itu, muncul laporan bahwa Iran mulai menerapkan kebijakan baru dengan menerima pembayaran “tol” untuk melintasi selat tersebut menggunakan kripto atau yuan Tiongkok.
Biaya yang dikenakan bahkan dapat mencapai hingga US$2 juta untuk kapal tanker berukuran besar. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk menghindari tekanan sistem keuangan global berbasis dolar AS, mengingat transaksi kripto cenderung lebih sulit dilacak.
Dampak Global Meluas, Harga Energi Tertekan
Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di selat Hormuz, kembali memberikan dampak signifikan terhadap pasar energi global. Jalur ini dikenal sebagai salah satu titik distribusi minyak paling penting di dunia, sehingga setiap gangguan yang terjadi langsung memicu reaksi di pasar.
Dalam perkembangan terbaru, harga minyak global dilaporkan mendekati level US$100 per barel. Meskipun telah ada gencatan senjata, ketidakpastian terkait keamanan selat Hormuz masih tinggi, sehingga pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi gangguan lanjutan.
Serangan terhadap infrastruktur energi serta ancaman terhadap jalur pengiriman minyak melalui selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga tersebut.
Bahkan, sejumlah analis memperkirakan bahwa harga minyak dapat melonjak hingga US$150 per barel apabila situasi di kawasan tersebut kembali memburuk.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global, dan mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Oleh karena itu, setiap gangguan di wilayah ini tidak hanya berdampak pada negara-negara di kawasan, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi global secara keseluruhan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



