US$3,64 Miliar Keluar dari Binance, Bukti Cadangan Disorot

Upaya Binance memulihkan kepercayaan pengguna setelah peretasan senilai US$6,3 miliar menghadapi ujian baru. Bursa kripto terbesar di dunia itu mencatat arus keluar bersih sebesar US$3,64 miliar hanya dalam sembilan setengah jam setelah layanan penarikan kembali dibuka pada Minggu (1/11/2026).

Namun, ada persoalan menarik di balik angka tersebut. Data cadangan yang digunakan Binance untuk mengukur besarnya arus keluar ternyata berasal dari sebelum peretasan, sementara snapshot cadangan terbarunya diambil sebelum gelombang penarikan berlangsung.

Menurut pembaruan yang dipublikasikan Binance pada 1 November, pengguna menarik aset senilai US$4,649 miliar antara pukul 13.00 hingga 22.30 WIB. Dalam periode yang sama, dana masuk mencapai US$1,01 miliar.

Dengan demikian, selisih antara penarikan dan setoran menghasilkan arus keluar bersih sebesar US$3,639 miliar, yang dibulatkan menjadi US$3,64 miliar.

Binance menyebut angka tersebut hanya mewakili 2,1 persen dari total asetnya senilai US$171 miliar. Perusahaan juga mengatakan aktivitas penarikan mulai stabil setelah mengalami lonjakan pada beberapa jam pertama.

Meski demikian, angka US$171 miliar itu mengacu pada data Proof of Reserves (PoR) tertanggal 28 Oktober 2026, sehari sebelum peretasan terjadi.

Ada Jeda 30 Jam dalam Proof of Reserves

Persoalan utama bukan terletak pada besarnya penarikan, melainkan kapan kondisi cadangan Binance sebenarnya diukur.

Dalam pengumuman pemulihan pada 31 Oktober, Binance menjelaskan bahwa perusahaan telah mengambil snapshot PoR baru pada pukul 00.00 UTC atau 07.00 WIB.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  OJK Siapkan RPOJK Tokenisasi, Aset Riil Bakal Masuk Blockchain

Snapshot tersebut telah diperbarui pada situs PoR Binance sebagai bagian dari proses pembuktian bahwa aset pelanggan memiliki jaminan cadangan.

Akan tetapi, layanan penarikan baru mulai dipulihkan pada 1 November pukul 13.00 WIB. Artinya, terdapat selisih tepat 30 jam antara pengambilan snapshot dan dimulainya penarikan pengguna.

Jika dihitung sampai akhir periode pencatatan arus dana pada pukul 22.30 WIB, jaraknya bahkan mencapai 39 jam 30 menit.

Perbedaan waktu ini menciptakan batas penting dalam membaca laporan cadangan Binance.

Snapshot 31 Oktober dapat menggambarkan kepemilikan aset dan saldo pengguna pada saat pengambilan data, tetapi tidak secara otomatis menunjukkan kondisi setelah arus keluar bersih US$3,64 miliar berlangsung.

Hal tersebut juga tidak berarti Binance mengalami kekurangan cadangan. Namun, angka yang tersedia belum dapat digunakan sendirian untuk memastikan bagaimana rasio cadangan setiap aset berubah setelah penarikan kembali dibuka.

Binance sebelumnya menyatakan bahwa pembuatan bukti kriptografis lengkap menggunakan teknologi zero-knowledge membutuhkan sekitar 40 hingga 50 jam. Proses verifikasi penuh tersebut ditargetkan tersedia paling lambat 3 November 2026.

Angka 2,1 Persen Belum Menjawab Semuanya

Ada perbedaan mendasar antara membandingkan arus keluar dengan total aset dan membuktikan bahwa seluruh kewajiban kepada pengguna tetap dijamin secara memadai.

BACA JUGA:  Jejak Dana Binance dan Bitget Bertemu, Tudingan Hacker Korut Menguat

Berdasarkan penjelasan mekanisme Proof of Reserves milik Binance, sistem tersebut menggunakan Merkle Tree dan zk-SNARK untuk membantu pengguna memverifikasi bahwa saldo mereka tercakup dalam perhitungan serta didukung cadangan aset.

Namun, pengukuran dilakukan berdasarkan saldo pada waktu tertentu, bukan melalui pemeriksaan terus-menerus terhadap setiap perubahan aset.

Selain itu, total aset terkelola sebesar US$171 miliar tidak bisa langsung disamakan dengan modal perusahaan atau cadangan likuid yang bebas digunakan Binance.

Penarikan pengguna secara normal memang dapat mengurangi aset yang disimpan bursa sekaligus mengurangi kewajiban bursa kepada pengguna. Karena itu, arus keluar besar tidak dengan sendirinya menyebabkan rasio cadangan memburuk.

Kerumitan lain muncul dari perbedaan pencatatan arus dana.

Data DefiLlama sempat menunjukkan arus keluar yang lebih besar, mencapai US$5,81 miliar. Binance mempersoalkan metode pelacakan tersebut karena perpindahan aset menuju hot wallet baru perusahaan tidak sepenuhnya diperhitungkan.

Perbedaan waktu pengamatan dan pengelompokan transaksi membuat angka kedua pihak tidak dapat langsung dibandingkan sebagai ukuran yang identik.

Kondisi ini menunjukkan mengapa perubahan saldo dompet, penarikan pelanggan, dan kondisi cadangan harus diperiksa sebagai tiga hal yang berbeda.

Ujian Berikutnya Ada pada Laporan Terbaru

Di sisi lain, Binance terus berusaha menutup kerugian akibat peretasan yang terjadi pada 29 Oktober.

Melalui pembaruan pemulihan keempat, perusahaan menyatakan telah mengganti sekitar 95 persen nilai aset yang terdampak, meningkat dari 90 persen pada hari sebelumnya.

BACA JUGA:  Dana Kasus Ledger Terendus Masuk Binance, Jejak 195 Transaksi Terungkap

Sepuluh aset utama, termasuk BTC, ETH, USDT, BNB, SOL dan XRP, diklaim telah memiliki jaminan penuh. Sementara itu, sisa lima persen terdiri dari token dengan likuiditas lebih rendah yang membutuhkan waktu lebih lama untuk dibeli kembali.

Penggantian aset tersebut berbeda dengan pemulihan dana yang dicuri dari peretas. Binance menggunakan sumber daya perusahaan untuk mengganti aset terdampak, sehingga pengguna tidak harus menanggung kerugian akibat insiden tersebut.

Kini perhatian beralih kepada laporan cadangan berikutnya, terutama kemampuan pengguna untuk memverifikasi jaminan aset setelah aktivitas penarikan kembali berjalan.

Bagi Binance, persoalannya bukan sekadar menunjukkan bahwa perusahaan mampu memproses penarikan miliaran dolar. Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa cadangan aset tetap mencukupi setelah transaksi tersebut berlangsung.

Sampai verifikasi yang mencakup periode setelah gelombang penarikan tersedia, angka 2,1 persen lebih tepat dibaca sebagai ukuran arus keluar terhadap total aset sebelumnya, bukan sebagai bukti akhir keamanan cadangan Binance.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait