Stablecoin perlahan keluar dari citra sebagai sekadar dolar digital untuk trader kripto. Perannya kini meluas ke area yang selama ini identik dengan bank, terutama pembayaran dan transfer lintas negara.
Perubahan itu mulai terlihat dari skalanya. Ratusan juta dolar AS kini bergerak melalui stablecoin setiap jam, termasuk saat sebagian besar sistem perbankan tradisional sudah berhenti beroperasi.
Stablecoin Bergerak Saat Bank Tutup
Dikutip dari riset yang dirilis oleh Coinbase dan The Block Research, via Dune Analytics pada Oktober 2026, stablecoin mencatat rata-rata transaksi lebih dari US$400 juta setiap jam sepanjang kuartal ketiga.
Yang menarik, aktivitas tersebut tidak terlalu bergantung pada jam kerja bank. Sekitar 73 persen volume transfer stablecoin yang disaring justru terjadi di luar jam operasional perbankan Amerika Serikat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan memindahkan dolar tetap berjalan kapan saja. Bagi pekerja, perusahaan, hingga keluarga lintas negara, stablecoin menawarkan jalur pembayaran yang aktif selama 24 jam.

Perubahan ini perlahan menggeser cara uang bergerak. Stablecoin tidak hanya digunakan di pasar kripto, tetapi mulai mengambil peran dalam kebutuhan pembayaran yang sebelumnya bergantung pada sistem perbankan.
“Stablecoin secara perlahan, tetapi cepat, mulai menjadi cara baru bagaimana uang bergerak,” tulis Coinbase dan The Block Research dalam laporan tersebut.
Skalanya juga membesar. Volume transaksi aset kripto berbasis fiat yang telah disesuaikan mencapai sekitar US$891 miliar pada kuartal ketiga 2026, naik lebih dari empat kali lipat dibandingkan awal 2023.
Jika pertumbuhannya berlanjut, volume transaksi kuartalan stablecoin dapat mendekati US$1,5 triliun pada akhir 2027. Angka tersebut membuat perannya semakin sulit dipisahkan dari sistem pembayaran global.
Cepat dan Murah Jadi Keunggulan Stablecoin
Pertumbuhan volume bukan satu-satunya alasan stablecoin diperhitungkan. Dibandingkan jalur pembayaran tradisional, aset ini juga mulai menunjukkan keunggulan dari sisi kecepatan, biaya, dan ketersediaan layanan.
Pada transaksi senilai US$10.000 atau lebih, pengiriman stablecoin disebut hampir dua kali lebih andal dibandingkan wire transfer wholesale, terutama ketika dibandingkan berdasarkan keberhasilan penyelesaian transaksi.
Dari sisi kecepatan, selisihnya juga terasa. Dana stablecoin dapat tiba dalam waktu sekitar satu jam, sementara performa wire transfer masih berbeda cukup jauh di setiap wilayah.
Di Afrika, bahkan kurang dari seperempat transaksi wholesale wire tercatat mencapai tujuan dalam waktu satu jam. Gambaran ini menunjukkan bahwa kecepatan masih menjadi salah satu titik lemah sistem pembayaran tradisional.
Perbedaan biaya juga cukup mencolok. Mengirim US$200 menggunakan USDC di Base diperkirakan sekitar 86 persen lebih murah dibandingkan rata-rata biaya layanan remitansi tradisional secara global.

Kombinasi biaya lebih rendah, penyelesaian cepat, dan layanan sepanjang waktu membuat stablecoin dilihat lebih serius. Fungsinya bukan sebatas instrumen perdagangan kripto, tetapi alternatif untuk memindahkan uang dengan friksi lebih kecil.
Perubahan tersebut sejalan dengan pola pembayaran global yang tidak lagi mengenal jam tutup. Ketika transaksi terus berjalan sepanjang hari, kebutuhan terhadap sistem yang lebih fleksibel ikut semakin besar.
“Ekonomi digital dan global saat ini mulai menghadirkan realitas yang berbeda, ketika kebutuhan untuk memindahkan uang terus berjalan di luar jam operasional perbankan,” tulis mereka.
Stablecoin Makin Sulit Diabaikan Bank
Keunggulan tersebut pada akhirnya ikut menarik perhatian pemain yang selama ini menguasai sistem pembayaran. Bank besar mulai mengambil posisi lebih serius terhadap stablecoin dan teknologi keuangan berbasis blockchain.
Tujuh dari sepuluh bank terbesar AS tercatat telah menguji stablecoin atau tokenized deposit untuk berbagai kebutuhan pembayaran. Tiga bank lain dalam kelompok tersebut juga telah mengumumkan rencana serupa.
Perkembangan itu membuat pertanyaannya perlahan berubah. Bukan lagi soal apakah bank akan masuk on chain, tetapi bagaimana teknologi tersebut akan digunakan tanpa meninggalkan layanan keuangan yang sudah mereka bangun.
Adopsinya juga sudah menjangkau basis pengguna yang luas. Sekitar 293 juta address unik tercatat memegang stablecoin, melampaui gabungan basis kartu American Express dan Discover dalam perbandingan laporan tersebut.

Skalanya membuat dampak stablecoin tidak berhenti pada kripto. Dalam skenario adopsi lebih luas, perpindahan transaksi internasional ke on chain diperkirakan dapat menambah sekitar US$155 miliar terhadap PDB global setiap tahun.
Dengan perkembangan tersebut, stablecoin sulit dipandang hanya sebagai bagian dari pasar kripto. Perannya mulai bergerak ke infrastruktur pembayaran global, termasuk wilayah yang selama ini menjadi domain utama perbankan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


