Level harga Bitcoin di kisaran US$70.000 kini dinilai bukan sekadar level support teknikal biasa, melainkan zona struktural penting yang menjadi perhatian pelaku institusi global.
Analis on-chain GugaOnChain di CryptoQuant mengungkapkan bahwa berdasarkan metrik kuantitatif DTMM (Delta-Thermo Market Multiple), posisi saat ini berada di 1,68x, yang mengindikasikan bahwa fondasi harga Bitcoin masih kuat secara matematis.
Struktur Nilai Bitcoin Ungkap Zona Akumulasi Institusi
Dalam analisisnya, GugaOnChain menjelaskan bahwa pelaku institusi tidak berfokus pada harga nominal, melainkan pada nilai struktural yang menentukan probabilitas pergerakan pasar.
Ia menyebut bahwa meskipun investor ritel menganggap US$70.000 sebagai support yang rentan, secara data justru level ini menunjukkan kekuatan yang tinggi.
“Dalam permainan institusional, harga nominal hanyalah noise, sementara nilai struktural yang menentukan probabilitas,” ungkap GugaOnChain.

Metrik DTMM sendiri membagi pergerakan pasar Bitcoin ke dalam tiga zona utama, yakni 1,5x sebagai area akumulasi, 2,5x sebagai fase ekspansi dan 3,5x sebagai zona distribusi.
Dengan posisi saat ini di 1,68x, Bitcoin dinilai masih berada dekat fase akumulasi, yang secara historis membuka ruang kenaikan lebih lanjut sebelum memasuki fase jenuh.
Selain itu, terdapat fondasi struktural senilai sekitar US$819 miliar yang menopang harga Bitcoin saat ini.
Nilai ini berasal dari kombinasi Delta Cap, yang mencerminkan rata-rata harga masuk institusi, dan Thermo Cap yang menggambarkan biaya keamanan jaringan oleh penambang.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa Bitcoin masih diperdagangkan sekitar 68 persen di atas nilai dasarnya, sehingga dinilai masih relatif murah bagi pelaku institusi.
Di sisi lain, GugaOnChain juga mengidentifikasi adanya lapisan likuiditas yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap potensi penurunan.
Level US$65.000 disebut sebagai zona pertahanan dengan volume tinggi, sementara US$60.000 menjadi support kuat yang telah diuji dan ditolak secara agresif pada Februari 2026.
Adapun area US$54.358 dipandang sebagai support makro yang mencerminkan rata-rata biaya jaringan secara keseluruhan.
Pola Lama dan Sinyal Baru Jadi Penentu Arah BTC
Sementara itu, analis lain turut memberikan perspektif tambahan terhadap pergerakan Bitcoin dalam beberapa waktu ke depan.
Ali Martinez menilai bahwa pola historis sejak 2011 menunjukkan adanya fase “final discount” sebelum dimulainya siklus bull market berikutnya.

Dalam analisisnya, ia mengindikasikan bahwa Bitcoin berpotensi memasuki jendela akumulasi penting pada periode Oktober 2026, dengan kisaran harga yang dianggap sebagai zona beli berada di antara US$41.500 hingga US$45.000.
Pola tersebut disebut sebagai fondasi yang kerap menjadi titik awal pergerakan vertikal dalam siklus empat tahunan Bitcoin.
Namun demikian, dari sisi teknikal jangka pendek, analis GainMuse melihat adanya potensi tekanan bearish yang masih membayangi. Dalam time frame 16 jam, Bitcoin disebut bergerak dalam pola ascending compression channel yang mendekati resistance tren makro.

Jika level resistance di sekitar US$75.000 kembali menahan kenaikan, maka potensi penolakan harga dapat mendorong Bitcoin turun menuju area support di kisaran US$62.500. Sebaliknya, jika harga mampu menembus dan bertahan di atas resistance tersebut, maka skenario bearish berpotensi batal.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



