Nilai tukar stablecoin USDT terhadap rupiah kembali menjadi sorotan setelah menyentuh Rp18.100 pada Sabtu (06/06/2026). Kenaikan ini dipicu kombinasi sentimen global yang kembali mengangkat kekuatan dolar AS.
Data ekonomi Amerika Serikat yang solid dan memanasnya konflik di Timur Tengah memicu kekhawatiran baru. Jika kondisi berlanjut, tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin besar dalam beberapa waktu ke depan.
Data Ekonomi dan Geopolitik Jadi Bahan Bakar Penguatan Dolar AS
Penguatan dolar AS tampaknya kembali mendapat amunisi dari kondisi ekonomi domestiknya yang solid. Data ketenagakerjaan yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja pada Jumat (05/06/2026) menunjukkan ekonomi AS mampu bertahan di tengah ketidakpastian global.
Laporan tersebut mencatat penambahan 172 ribu lapangan kerja pada bulan lalu. Angka itu jauh melampaui ekspektasi pasar yang hanya memperkirakan kenaikan sekitar 85 ribu pekerjaan.
Di saat yang sama, tingkat pengangguran masih bertahan di level 4,3 persen. Sementara itu, data nonfarm payrolls untuk Maret dan April juga direvisi naik sebanyak 93 ribu pekerjaan.
Rangkaian data tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa ekonomi AS masih cukup tangguh. Kondisi ini membuat peluang Federal Reserve menunda pemangkasan suku bunga kembali menguat, sehingga menopang penguatan dolar AS.
Tak hanya didorong faktor ekonomi, sentimen geopolitik juga ikut menjadi katalis. Ketegangan yang terus meningkat di Timur Tengah mendorong investor global mencari perlindungan pada aset safe haven.
Berdasarkan laporan CNN pada Sabtu (06/06/2026), AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan, sementara konflik di Lebanon terus memanas. Meningkatnya ketidakpastian global tersebut semakin memperkuat permintaan terhadap dolar AS di pasar keuangan.
USDT Dolar AS Naik ke Rp18.100, Rupiah Semakin Tertekan
Di tengah derasnya sentimen tersebut, nilai tukar stablecoin USDT yang dipatok terhadap dolar AS ikut melonjak hingga Rp18.100 pada Sabtu ini. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya permintaan terhadap dolar di tengah tingginya ketidakpastian global.

Tak hanya valuta asing, tekanan juga terlihat pada aset berisiko lainnya. Harga Bitcoin sempat anjlok hingga menyentuh US$60.000 sebelum akhirnya kembali pulih ke kisaran US$61.400. Sementara itu, emas dan minyak mentah juga mengalami koreksi cukup besar.
Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa investor global masih cenderung berhati-hati. Saat ketidakpastian meningkat, arus dana biasanya mengalir menuju aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Dengan dominasi dolar yang kuat, bukan tidak mungkin nilai tukar rupiah akan menghadapi tekanan lanjutan dalam beberapa waktu ke depan. Terlebih jika belum ada langkah intervensi yang lebih agresif untuk menjaga stabilitas nilai tukar di pasar domestik.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


