Laporan terbaru VanEck menunjukkan bahwa fase kapitulasi penambang atau miner capitulation yang tengah terjadi saat ini berpotensi menjadi sinyal bottom Bitcoin dalam jangka pendek.
Data per 15 Desember menunjukkan hashrate jaringan Bitcoin turun sekitar 4 persen dalam periode 30 hari, penurunan terbesar sejak April 2024.
VanEck mencatat bahwa sejak 2014, setiap kali hashrate menurun dalam rentang 30 hari, kinerja Bitcoin dalam 90 hari berikutnya cenderung positif sekitar 65 persen dari total periode yang dianalisis, sehingga dipandang sebagai indikator historis yang potensial.
Hashrate Melemah dan Tekanan pada Penambang
Penurunan hashrate tersebut menggambarkan melemahnya aktivitas sebagian penambang yang diduga menghadapi tekanan profitabilitas akibat kondisi pasar yang melemah. Dengan turunnya tingkat daya komputasi jaringan, sejumlah penambang dengan biaya tinggi diperkirakan menghentikan mesin mereka.
Fenomena ini secara historis sering muncul pada fase pasar yang mendekati area bottom Bitcoin, ketika tekanan operasional meningkat namun sekaligus mengurangi tekanan jual dari kelompok penambang yang tidak lagi mampu bertahan.
VanEck menilai data historis mendukung pandangan bahwa kondisi seperti ini tidak selalu menjadi sinyal negatif. Sebaliknya, dalam sejumlah periode sebelumnya, turunnya hashrate selama 30 hari justru diikuti dengan penguatan harga dalam tiga bulan setelahnya.
Bahkan dalam horizon yang lebih panjang, penurunan hashrate selama 90 hari juga tercatat berkorelasi dengan peluang penguatan harga hingga 77 persen dalam 180 hari berikutnya, dengan rata-rata kenaikan yang tergolong signifikan.
“VanEck menyebut penurunan hashrate sering menjadi indikator contrarian bullish bagi pasar Bitcoin,” tulis laporan tersebut.
Konteks Pasar dan Peluang Pembentukan Bottom Bitcoin
Saat ini pasar masih berada dalam fase tekanan setelah Bitcoin sempat mengalami penurunan dari level puncaknya tahun ini. Namun, kondisi kapitulasi penambang kerap dipandang sebagai bagian dari proses penyeimbangan pasar.
Ketika penambang yang kurang efisien keluar, beban pasokan potensial dapat berkurang dan hal itu memberi ruang bagi stabilisasi harga. Situasi tersebut membuka peluang terbentuknya bottom Bitcoin yang baru, jika pola historis kembali terulang.
VanEck menilai pasar kripto kerap merespons fase penurunan hashrate dengan pola yang berulang karena dinamika ekonomi penambangan sangat terkait dengan struktur biaya, pendapatan dan psikologi pelaku pasar.
Perusahaan tersebut juga menegaskan bahwa sinyal ini bukan jaminan pemulihan harga yang berlangsung seketika. Risiko volatilitas tetap ada, sentimen investor masih beragam, dan pergerakan pasar kripto tetap dipengaruhi berbagai faktor eksternal.
Namun berdasarkan data historis yang konsisten, fase seperti saat ini dinilai layak diperhatikan pelaku pasar sebagai kemungkinan penanda bottom Bitcoin yang cukup relevan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



