Vitalik Buterin: AI Akan Mengubah Cara Kita Menulis Code

Dalam beberapa bulan terakhir, lanskap pengembangan software, terutama di ekosistem kripto, mengalami pergeseran. Pendekatan baru mulai muncul dengan memadukan AI dan metode matematis untuk menciptakan kode yang bukan hanya efisien, tetapi juga terverifikasi.

Bagi Vitalik Buterin, perubahan ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sinyal kuat ke arah masa depan pengembangan software yang lebih aman, presisi, dan juga dapat dipercaya.

Cara Baru Menulis Code Software di Era AI

Lewat blog yang dipublikasikan pada Senin (18/05/2026), Vitalik Buterin menyoroti munculnya paradigma baru dalam pengembangan software, yaitu menulis kode langsung di level rendah seperti assembly atau menggunakan bahasa seperti Lean.

Pendekatan ini kemudian dipadukan dengan proses verifikasi menggunakan bukti matematis yang dapat dicek secara otomatis, atau dikenal sebagai formal verification, yang oleh Yoichi Hirai bahkan dijuluki sebagai “final form of software development”.

Secara sederhana, formal verification adalah proses membuktikan bahwa program melakukan apa yang seharusnya dilakukan, bukan sekadar bekerja. Proses ini dilakukan dengan menulis pembuktian matematis yang dapat diverifikasi oleh komputer.

Vitalik Buterin: Teknologi AI Akan Mengubah Dunia Kripto

Sebagai ilustrasi, pendiri Ethereum tersebut menggunakan contoh deret Fibonacci untuk menunjukkan bagaimana sebuah pola dapat dibuktikan secara matematis, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami oleh mesin.

BACA JUGA:  Sah! AI dan Kripto Kini Resmi Jadi Bagian Ekonomi Indonesia

“Ini adalah penalaran yang sama, tetapi diekspresikan dalam Lean, bahasa pemrograman yang digunakan untuk menulis dan memverifikasi bukti matematis,” tulis Buterin, menegaskan bahwa intuisi manusia dan komputer memang tidak selalu selaras.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan

Menariknya, meski konsep ini sudah ada hampir 60 tahun, adopsinya masih terbatas. Kini, dengan bantuan AI, proses yang sebelumnya kompleks dan lambat mulai menjadi jauh lebih praktis dan scalable.

AI dan Keamanan: Dari Ancaman Jadi Solusi

Di sisi lain, Vitalik Buterin juga menyoroti sisi gelap dari perkembangan AI. Model AI yang semakin canggih mampu menemukan bug dengan jauh lebih cepat, bahkan melampaui kemampuan manusia dalam banyak kasus.

Kondisi ini menciptakan ancaman baru, terutama di dunia kripto, di mana bug kecil sekalipun bisa berujung pada kehilangan dana secara permanen.

Bug dalam kode komputer itu menakutkan. Bug menjadi jauh lebih menakutkan ketika kalian memasukkan aset kripto ke dalam smart contract on-chain yang bersifat immutable,” tulisnya.

BACA JUGA:  Imbas AI, Coinbase Rumahkan 14 Persen Karyawannya

Namun, alih-alih pesimis, Buterin justru melihat ini sebagai fase transisi. Ia percaya bahwa pada akhirnya teknologi AI akan memperkuat pertahanan sistem, bukan melemahkannya.

Pendekatan yang diusulkan adalah mengombinasikan AI dengan verifikasi mendalam di mana nantinya dua hal tersebut dapat menciptakan sebuah hasil yang tidak hanya efisiein tetap juga tetap aman.

“Dengan kombinasi formal verification dan juga kecerdasan buatan (AI), kita memiliki peluang untuk kembali ke masa depan,” tambahnya.

Mozilla bahkan memiliki pandangan serupa, menyatakan bahwa dunia sedang menuju titik di mana “defenders finally have a chance to win, decisively,” yang berarti untuk pertama kalinya pihak keamanan berpeluang unggul secara nyata dibanding peretas.

Tidak Sempurna, Tapi Arah Masa Depan Vibe Coding

Meski terdengar ideal, Vitalik Buterin menegaskan bahwa formal verification bukanlah solusi ajaib. Ada berbagai keterbatasan, mulai dari risiko asumsi yang keliru hingga kemungkinan bahwa hal yang dibuktikan justru bukan aspek paling krusial dari sebuah sistem.

Tulis Smart-Contract Pakai AI, Proyek DeFi Rugi Rp30 Miliar

Dalam praktiknya, sering kali hanya sebagian sistem yang diverifikasi, sementara bagian lain tetap menyimpan celah. Bahkan, sejumlah kasus menunjukkan bahwa software yang telah melalui formal verification tetap memiliki bug.

BACA JUGA:  Keren! Mahasiswa UGM Raih Juara 3 Hackathon Blockchain Global lewat AI Agent

Lebih jauh, Buterin menyoroti bahwa konsep correctness dan security pada akhirnya bergantung pada niat manusia, sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa diterjemahkan ke dalam model matematis.

Meski begitu, ia tetap optimis. Formal verification yang dipadukan dengan inovasi AI dinilai mampu memperkuat pendekatan lama, yaitu mengekspresikan niat dalam berbagai cara, lalu memastikan semuanya konsisten dan terverifikasi.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait