Pencipta Ethereum, Vitalik Buterin, kembali memancing diskusi di komunitas kripto. Kali ini, ia menyoroti bagaimana AI berpotensi mengubah cara pengguna berinteraksi dengan blockchain, bahkan hingga menggantikan peran wallet kripto tradisional.
Pernyataan tersebut membuka perspektif baru tentang masa depan ekosistem Ethereum dan kripto. Menurut Vitalik, perkembangan AI bisa mendorong perubahan pada lapisan dasar sekaligus memicu cara pandang baru terhadap desain teknologi blockchain.
AI Bisa Mengubah Cara Pengguna Mengakses Kripto
Dalam sebuah unggahan di X pada Jumat (06/03/2026), Vitalik menyebut bahwa ekosistem Ethereum perlu memiliki pola pikir yang lebih berani dan terbuka, terutama dalam mengembangkan lapisan aplikasi.
“Saya pikir akan lebih sehat bagi kita di dunia Ethereum untuk memiliki pola pikir yang lebih berani dan terbuka,” tulisnya.
Meski mendorong eksperimen, Vitalik menegaskan bahwa prinsip inti blockchain tidak boleh dikorbankan. Ia menyebut empat fondasi utama yang harus tetap dijaga, yakni ketahanan terhadap sensor, open source, privasi, dan keamanan.
Vitalik Buterin Bongkar Visi Ethereum dan AI di Empat Area Kunci
Di tengah pembahasan tersebut, Vitalik juga menyinggung kemungkinan yang cukup mengejutkan. Ia mempertanyakan apakah kehadiran AI pada akhirnya bisa membuat model wallet crypto saat ini menjadi usang.
“Bagaimana jika AI pada dasarnya membuat wallet berbasis ekstensi browser dan aplikasi mobile menjadi usang dalam waktu satu tahun?” ujarnya.
Pernyataan ini memunculkan spekulasi baru tentang masa depan Web3, di mana interaksi pengguna dengan blockchain mungkin tidak lagi bergantung pada wallet seperti yang dikenal saat ini.
Vitalik Soroti Peran AI dalam Aplikasi Blockchain
Selain menyoroti masa depan wallet kripto, pencipta Ethereum, Vitalik Buterin, juga menilai bahwa AI berpotensi mengubah desain aplikasi blockchain secara lebih fundamental.
Menurutnya, AI bisa menggeser konsep aplikasi dari sistem yang terpisah-pisah menjadi ruang interaksi yang lebih fleksibel. Dalam model ini, aplikasi tidak lagi hadir sebagai produk dengan antarmuka tertentu, melainkan sebagai sistem yang fleksibel.
“Salah satu konsekuensi dari AI adalah membuat ‘aplikasi’ tidak lagi menjadi kategori perilaku yang terpisah dengan antarmuka yang terpisah, melainkan bergerak menuju ruang yang lebih berkelanjutan,” tulisnya.
Dengan pendekatan tersebut, jumlah aplikasi crypto yang dibangun mungkin justru lebih sedikit. Pengguna dapat memanfaatkan beberapa infrastruktur dasar, lalu mengorganisasi aktivitas mereka sendiri di atasnya.
Ia bahkan mengemukakan ide eksperimental yang lebih berani mengenai oracle masa depan yang memanfaatkan kombinasi model AI kecil serta teknologi kriptografi seperti SNARK dan zk-TLS.
“Bagaimana jika oracle terdesentralisasi yang ideal sebenarnya hanyalah sebuah SNARK di atas M-of-N model LLM kecil yang berjalan melalui zk-TLS dari beberapa situs berita besar?” tulis Vitalik.
Gagasan ini menunjukkan bahwa AI bukan hanya berpotensi mengubah cara pengguna mengakses blockchain, tetapi juga dapat memengaruhi infrastruktur dasar yang menopang ekosistem kripto.
Pada akhirnya, pesan Vitalik tidak hanya soal AI atau dompet kripto. Lebih dari itu, ia mendorong komunitas untuk berani keluar dari pola lama dan mulai membangun kembali masa depan teknologi blockchain dari prinsip pertama.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



