Vitalik Buterin, Masa Depan Ethereum (ETH) dan Tantangan Komputasi Kuantum

Vitalik Buterin berpendapat blockchain Ethereum dan kripto ETH mempunyai masa depan baik, tetapi ada sejumlah tantangan yang harus dipecahkan.

Belum lama ini pendiri Ethereum itu menyampaikan kepada publik perihal masa depan blockchain yang digunakan luas untuk beragam proyek kripto itu. Berikut sari pati yang ia sampaikan di ajang BUIDL Asia, menjelang rencana merge menuju Ethereum 2.0 yang digelar September 2022 ini.

Vitalik Buterin dan Proyek ZK-Rollups

Proyek ZK-Rollups dianggap sebagai dasar yang paling penting agar use case blockchain Ethereum semakin luas.

ZK-Rollups adalah protokol transaksi kripto yang memungkinkan transaksi tidak langsung melalui blockchain Ethereum alias off-chain.

Cara ini secara radikal akan mempercepat transaksi dan menambah volumenya. Pada ujungnya ini akan menambah efisiensi dan memperluas use case blockchain Ethereum itu sendiri, termasuk adopsi ETH sebagai kriptonya.

Teknik ini serupa dengan teknologi Lightning Network yang digunakan sejak tahun 2018 untuk meningkatkan use case blockchain Litecoin dan Bitcoin.

“Untuk jangka waktu panjang, ZK-Rollups akan jauh mengungguli teknologi Optimistic Rollups,” kata Vitalik.

Bersiap Menghadapi Ancaman Komputasi Kuatum

Menurut Vitalik lagi, pengembang Ethereum harus bersiap menghadapi ancaman komputasi kuantum yang diperkirakan semakin unggul dari sisi kecepatan.

Wacana soal komputasi kuantum yang dianggap sebagai ancaman besar terhadap teknologi blockchain saat ini, termasuk Bitcoin, sudah berlangsung sejak 4 tahun silam.

Pasalnya ketika itu teknologi komputasi kuantum mengalami perkembangan signifikan, setelah terbukti bisa mengkalkulasi perhitungan sangat rumit hanya dalam 10 menit saja. Jika menggunakan komputer super saat ini, diperlukan waktu hingga ribuan tahun lamanya.

Image result for bit and qubit

Komputasi kuantum memang tidak mengandalkan bilangan binari, kombinasi bilangan 0 atau 1, melainkan berkonsep qubit, di mana two state bisa berjalan sekaligus, yakni 0 atau 1 dan 0 dan 1. Ini bisa terjadi, karena prosesor tidak memanfaatkan dinamika kelistrikan pada transistor, melainkan partikel di tingkatan subatomik.

Itu berarti kecepatan hitungnya jutaan kali lipat daripada komputer super yang ada saat ini dan diperkirakan akan terus meningkat di masa depan agar memudahkan manusia melakukan pekerjaannya.

Masalahnya adalah semakin cerdas komputer kuantum, maka itu juga mengancam sistem keamanan kriptografi manusia saat ini, termasuk blockchain Bitcoin yang menggunakan SHA256.

Vitalik Buterin: Komputer Kuantum Google Belum Berguna

Peningkatan masif komputasi kuantum ini pernah disinggung oleh Vitalik pada tahun lalu, bahwa kekuatan komputer baru itu saat ini belum menjadi ancaman saat ini, namun kelak di masa depan.

Pasalnya, komputasi kuantum menjanjikan dunia teknologi turunan baru, namun sekaligus mengancam teknologi konvensional. Ini selayaknya ketika dulu komputer super berkembang.

Anda bisa membaca arsip Blockchainmedia.id terkait komputasi kuantum di laman ini.

“Kami saat ini bekerjasama dengan sejumlah peneliti kecerdasan buatan agar bisa mengembangkan algoritma baru yang bisa menangkal kemampuan tinggi komputasi kuantum. Memang masih jauh, antara 10-30 tahun sejak sekarang,” ucap Vitalik. [ps]

Terkini

Warta Korporat

Terkait