Kekhawatiran mengenai perkembangan Ethereum kembali mengemuka setelah pernyataan keras disampaikan oleh salah satu pendirinya, Vitalik Buterin. Ia menilai ekosistem Ethereum mulai menjauh dari nilai-nilai fundamentalnya demi mengejar adopsi massal.
Pertumbuhan pengguna, institusi, dan aplikasi berskala besar memang membuat Ethereum semakin populer. Namun, di balik ekspansi tersebut, muncul persoalan mendasar terkait desentralisasi, privasi, dan kedaulatan pengguna yang dinilai kian tergerus.
Nilai Desentralisasi Ethereum yang Mulai Bergeser
Dalam pernyataannya di X pada Sabtu (17/01/2026), Buterin secara terbuka mengkritik kondisi Ethereum saat ini. Ia menilai bahwa dalam banyak aspek, jaringan blockchain terbesar kedua tersebut justru mengalami kemunduran dibandingkan satu dekade lalu.
“Dalam banyak aspek tersebut, selama sepuluh tahun terakhir kami melihat kemunduran yang cukup serius pada Ethereum. Node yang sebelumnya mudah dijalankan kini menjadi semakin sulit untuk dioperasikan,” ujar Buterin.
Ia juga menyoroti perubahan drastis pada aplikasi terdesentralisasi. Menurutnya, dApps yang pada awalnya sederhana kini berkembang menjadi sistem yang semakin kompleks.
Namun, yang menjadi persoalan utama bukanlah kompleksitas maupun tingkat adopsi, melainkan risiko besar yang menyertainya, yakni ketergantungan terhadap infrastruktur terpusat.
“Dapps yang awalnya berupa halaman statis kini berubah menjadi sistem raksasa kompleks dan membocorkan seluruh data pengguna ke puluhan server,” kata Buterin, mengkritik praktik yang dinilai bertentangan dengan semangat privasi Ethereum.
Kondisi ini membuat Ethereum perlahan kehilangan ciri khasnya sebagai jaringan tanpa titik kegagalan tunggal. Bahkan, proses pembangunan blok dinilai semakin terpusat, sehingga jaminan inklusi transaksi berada di tangan segelintir pihak.
Tahun 2026 sebagai Titik Balik Ethereum
Pencipta ethereum tesebut menegaskan bahwa kompromi semacam ini tidak boleh terus dibiarkan. Ia menyebut bahwa 2026 sebagai momentum penting untuk mengembalikan nilai-nilai Ethereum yang hilang.
“Setiap kompromi nilai yang selama ini dibuat di jaringan Ethereum hingga titik ini tidak akan lagi kami lakukan,” tegasnya dengan nada optimis.
Untuk membalikkan arah tersebut, Buterin mendorong sejumlah prioritas utama, mulai dari peningkatan privasi pembayaran, kemudahan menjalankan full node, hingga pengembangan aplikasi on-chain yang tidak bergantung pada server terpusat.
Ia juga menekankan pentingnya dompet dengan mekanisme social recovery, agar pengguna tidak kehilangan dana hanya karena seed phrase bermasalah atau terekspos kepada pihak yang tidak bertanggung jawab.
Vitalik Usulkan Cara Pulihkan Crypto Wallet Tanpa Private Key!
Selain itu, Buterin menegaskan Ethereum harus bertahan tanpa bergantung pada pengembang tertentu. Ia menyebut walkaway test, yakni kondisi ketika protokol Ethereum aman dan berfungsi hingga puluhan bahkan ratusan tahun melalui peningkatan yang dilakukan bertahap.
“Perjalanan akan panjang. Kami tidak akan mendapatkan semuanya dalam Kohaku upgrade, atau pada hard fork selanjutnya, maupun setelah itu. Namun, langkah ini menjadikan Ethereum sebagai sebuah ekosistem yang tidak hanya layak atas posisinya saat ini, tetapi juga pantas menempati peran yang jauh lebih besar,” tutup Buterin.
Pernyataan Vitalik Buterin menegaskan bahwa masa depan Ethereum tidak hanya soal pertumbuhan, tetapi juga menjaga nilai dasarnya. Tahun 2026 dipandang sebagai momentum untuk mengembalikan desentralisasi dan kedaulatan pengguna sebagai fondasi utama.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



