Vitalik Buterin: Teknologi AI Akan Mengubah Dunia Kripto

Dunia kripto sedang bergerak menuju babak baru. Bukan lagi sekadar soal blockchain, wallet crypto, atau transaksi digital, tetapi tentang bagaimana kecerdasan buatan mulai mengambil alih cara manusia berinteraksi dengan internet dan aset digital lewat teknologi AI.

Dalam wawancara di OKX Wallet & Friends: Web3 Festival Special pada Rabu (29/04/2026), pendiri Ethereum, Vitalik Buterin, membeberkan pandangannya soal masa depan AI dan kripto. Menariknya, ia percaya AI akan menggantikan UI yang selama ini digunakan pengguna kripto.

Vitalik Sebut AI Akan Mengubah Cara Pakai Blockchain

Dalam wawancara tersebut, Vitalik menjelaskan bahwa Ethereum saat ini memiliki dua fungsi besar, yakni sebagai tempat penyimpanan data publik dan mesin komputasi on-chain untuk berbagai aplikasi seperti DeFi hingga sistem finansial.

Namun, menurutnya, AI akan mengubah total cara pengguna berinteraksi dengan blockchain. Jika sebelumnya seseorang harus membuka satu aplikasi untuk satu fungsi tertentu, di era AI semuanya akan jauh lebih cepat.

“Dalam beberapa tahun ke depan kita mungkin akan melihat berbagai tools dan skill yang bisa digunakan AI di sisi pengguna. AI itu nantinya dapat menggabungkan banyak kemampuan sekaligus dan berinteraksi dengan banyak hal secara bersamaan,” ujar Vitalik.

10 AI Trading Crypto yang Bisa Kamu Coba di 2026

Ia bahkan menyebut konsep blockchain sebagai “operating system” kurang tepat. Menurutnya, sistem operasi di masa depan justru akan menjadi lebih kecil dan sederhana, sementara sistem AI bertugas menghubungkan berbagai tools sekaligus dalam satu ekosistem besar.

BACA JUGA:  Tak Cuma di Bisnis Kripto, Adik Prabowo Kini Jalani Peran Baru di Sektor Lain

Di titik inilah blockchain dianggap punya peran penting. Vitalik melihat blockchain bisa menjadi “economic layer” yang memungkinkan AI dari berbagai pihak tetap dapat bekerja sama tanpa harus saling percaya secara langsung.

Wallet Bisa Berubah Total di Era Agentic AI

Salah satu bagian paling menarik dari wawancara ini muncul saat pembahasan bergeser ke wallet dan AI agent. Vitalik menilai di masa depan AI tidak hanya membantu pengguna, tetapi bisa menjadi penghubung utama antara manusia dan blockchain.

“Secara pribadi, saya melihat manusia sebagai pengguna utama. Namun, saya menganggap bahwa teknologi AI akan menjadi pengganti utama antarmuka pengguna (UI),” ucapnya.

Menurutnya, pola interaksi pengguna akan berubah. Jika sebelumnya orang harus membuka wallet, klik tombol, lalu melakukan transaksi manual, nantinya teknologi ini bisa melakukan semuanya secara otomatis berdasarkan prompt AI dari pengguna.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Hari Ini Lesu, Indikator Ini Turun Tajam

Vitalik bahkan menyebut ada kemungkinan konsep wallet tradisional perlahan memudar. Yang tersisa hanyalah lapisan SDK atau API inti, sementara AI menjadi “wajah” utama yang berinteraksi dengan pengguna.

“Bisa jadi nantinya pengguna bahkan tidak lagi membutuhkan wallet. Yang dibutuhkan hanyalah berinteraksi langsung dengan SDK,” jelasnya.

Meski terdengar futuristik, Vitalik justru menyoroti sisi bahayanya. Ia mengingatkan bahwa AI yang terlalu bergantung pada server pihak ketiga akan merusak privasi dan konsep utama desentralisasi.

Karena itu, Ethereum kini mulai mengeksplorasi konsep Agentic AI Wallets, termasuk penggunaan AI lokal dan sistem keamanan berbasis formal verification untuk meminimalkan risiko eksploitasi.

Privasi, ZK, dan Masa Depan Ethereum di Era AI

Selain UI dan wallet, isu privasi juga menjadi sorotan besar dalam diskusi tersebut. Vitalik Buterin menilai identitas on-chain di era AI tidak lagi bisa disamakan dengan model internet tradisional.

Menurutnya, pengguna tidak harus selalu membuka seluruh identitas mereka saat melakukan transaksi atau berinteraksi di blockchain. Sebaliknya, sistem masa depan kemungkinan akan lebih mengandalkan teknologi zero-knowledge proof atau ZK proof.

BACA JUGA:  10 Proyek Kripto AI yang Layak Dipantau Bulan Ini

“Menurut saya, dalam kebanyakan interaksi sebenarnya tidak masuk akal jika seseorang harus sepenuhnya mengungkap identitas dirinya,” katanya.

7 Prompt AI Terbaru 2026 untuk Trading Bitcoin bagi Pemula

Vitalik menjelaskan bahwa pengguna nantinya cukup membuktikan informasi tertentu, seperti reputasi atau sumber dana, tanpa harus membocorkan seluruh data pribadi. Pendekatan ini dianggap lebih relevan di era AI, ketika aktivitas digital menjadi jauh lebih kompleks.

Karena itu, Ethereum kini mulai mengembangkan konsep ZK API untuk menciptakan sistem pembayaran dan permintaan data yang tetap privat, bahkan saat digunakan oleh AI atau LLM seperti GPT dan Claude.

Dari arah pembicaraan tersebut, satu hal mulai terlihat jelas: persaingan berikutnya di industri kripto tampaknya bukan lagi soal blockchain tercepat, melainkan siapa yang paling siap menghadapi era AI agent.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait