Volatilitas Bitcoin Anjlok ke Titik Terendah 2026, Investor Waspadai Hal Ini

Volatilitas Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah data terbaru menunjukkan tingkat pergerakan harga aset kripto terbesar itu turun ke level terendah sepanjang 2026.

Kondisi tersebut terjadi ketika Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$76.000, memunculkan kekhawatiran sekaligus kewaspadaan baru di kalangan trader dan investor terhadap potensi pergerakan besar berikutnya.

Analis on-chain Arab Chain di CryptoQuant mengungkap bahwa indikator 30-Day Annualized Realized Volatility Bitcoin turun hingga sekitar 0,26.

BTC realized 25 mei

Angka itu menjadi level volatilitas terendah sejak awal tahun dan menunjukkan bahwa pasar mulai memasuki fase pergerakan yang jauh lebih tenang dibanding beberapa bulan sebelumnya. Penurunan tersebut muncul setelah BTC sebelumnya mengalami periode volatilitas tinggi yang ditandai reli agresif maupun koreksi tajam.

Volatilitas Bitcoin Turun Drastis

Arab Chain menjelaskan bahwa dalam beberapa bulan terakhir, pasar Bitcoin sempat mengalami lonjakan volatilitas berulang, terutama saat harga bergerak cepat ke atas maupun mengalami tekanan jual besar.

Pada fase tersebut, indikator volatilitas bahkan sempat melonjak di atas 0,70 seiring meningkatnya aktivitas perdagangan dan spekulasi di pasar.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, volatilitas Bitcoin terus melandai secara bertahap. Kondisi itu dinilai mencerminkan sikap wait and see dari pelaku pasar yang mulai mengurangi eksposur risiko sambil menunggu katalis baru yang dapat menentukan arah pergerakan harga berikutnya.

IKLAN
Urban Stretch Centre Medan
BACA JUGA:  Token Unlock Pekan Ini Tembus Rp5,6 Triliun, Ini Daftar Kriptonya!

“Periode volatilitas rendah sering kali menjadi fase sebelum pasar memasuki gelombang volatilitas baru,” ujar Arab Chain.

Ia juga menilai fase tenang yang berlangsung cukup lama biasanya berkaitan dengan menurunnya aktivitas spekulatif serta mulai berkurangnya likuiditas di pasar. Meski demikian, volatilitas rendah tidak secara langsung dapat diartikan sebagai sinyal bullish maupun bearish untuk Bitcoin.

Skenario Bearish Mulai Jadi Sorotan

Di tengah kondisi volatilitas yang terus menurun, sejumlah analis teknikal mulai memperingatkan potensi tekanan turun lanjutan pada Bitcoin. Salah satunya datang dari analis Chiefy yang menilai struktur pergerakan pasar saat ini mulai menyerupai pola koreksi besar pada siklus sebelumnya.

Bitcoin analisis 25 Mei

Dalam analisis yang dibagikannya, Chiefy melihat pola “bull trap” di area US$84.000 sebelumnya menjadi awal dari breakdown pasokan yang kemudian membentuk descending channel bearish.

Ia menilai struktur pergerakan Bitcoin kini bergerak dari area US$83.000 menuju US$74.000, kemudian mengalami relief bounce sebelum berpotensi kembali turun ke kisaran US$71.000 hingga US$69.000.

BACA JUGA:  Pasar Crypto di Fase Awal Akumulasi, Siap Reli Tinggi

Menurutnya, sebagian besar pelaku pasar masih menganggap kondisi saat ini hanya sebagai koreksi normal. Namun, Chiefy menilai fase kapitulasi utama kemungkinan belum benar-benar terjadi.

Pandangan tersebut membuat sebagian trader mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi tekanan jual baru apabila koin utama tersebut gagal mempertahankan area support penting dalam beberapa hari mendatang.

Kondisi volatilitas yang rendah juga dinilai dapat memperbesar risiko terjadinya ledakan pergerakan harga secara tiba-tiba. Dalam banyak siklus sebelumnya, pasar Bitcoin kerap mengalami lonjakan volatilitas besar setelah bergerak dalam fase tenang cukup lama.

Setelah Likuidasi Besar, Bitcoin Mulai Bangun Momentum Baru

Meski sejumlah analis mulai memperingatkan potensi penurunan lanjutan, pandangan berbeda disampaikan analis teknikal Wealthmanager. Ia melihat Bitcoin telah melakukan liquidity sweep penting di bawah area US$75.000 sebelum akhirnya memantul kuat dan kembali menutup candle mingguan di atas US$77.000.

Bitcoin analisis terbaru 25 Mei

Menurut Wealthmanager, pergerakan tersebut menunjukkan pasar kemungkinan sudah mengambil likuiditas dari area stop-loss sebelum buyer kembali mengambil alih momentum jangka pendek.

Dalam grafik time frame 4 jam yang dibagikannya, area US$74.500 hingga US$75.000 kini menjadi support utama sekaligus zona demand penting yang beberapa kali memicu pantulan bullish.

Ia menilai keberhasilan Bitcoin kembali naik di atas US$77.000 menjadi sinyal bahwa buyer masih aktif mempertahankan struktur bullish jangka pendek. Sementara itu, area US$83.000 hingga US$85.000 kini dipandang sebagai resistance sekaligus target utama yang berpotensi kembali diuji apabila momentum rebound terus berlanjut.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Tiba-tiba Meledak, Tapi Sinyal Ini Justru Bikin Curiga

Wealthmanager juga menyoroti area US$77.000 sebagai level reclaim penting setelah sebelumnya sempat ditembus ke bawah. Selama BTC mampu mempertahankan struktur higher low dan tidak kembali kehilangan support US$75.000, bias bullish dinilai masih tetap dominan dalam jangka pendek.

Di tengah perbedaan pandangan antar analis, pelaku pasar kini terus memantau arah pergerakan Bitcoin dengan lebih hati-hati.

Fase volatilitas rendah yang sedang berlangsung dinilai dapat menjadi penentu apakah Bitcoin akan melanjutkan rebound menuju area US$85.000 atau justru memasuki gelombang koreksi yang lebih dalam dalam waktu dekat.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait