Volatilitas Bitcoin dilaporkan melemah seiring penurunan signifikan pada volume perdagangan derivatif di tengah dominasi tekanan jual di pasar.
Berdasarkan analisis Darkfost di CryptoQuant, perdagangan futures yang sebelumnya menjadi pendorong utama aktivitas pasar kini mencatat penurunan volume harian dari sekitar US$123 miliar menjadi US$63 miliar sejak 22 November.
Kondisi ini terjadi di tengah lemahnya likuiditas dan masih terbatasnya dukungan volume dari pasar spot maupun ETF global.
Penurunan tersebut turut menjelaskan mengapa volatilitas pasar aset digital ini terlihat menyusut dalam beberapa pekan terakhir. Meskipun demikian, futures tetap menjadi kekuatan dominan karena volumenya masih jauh melampaui perdagangan spot, termasuk pasar ETF yang hanya mencatat sekitar US$3,4 miliar per hari.
Dengan besarnya aliran transaksi derivatif, pengaruhnya terhadap harga Bitcoin dinilai tetap sangat kuat. Banyak pihak memang menyoroti arus keluar dana dari ETF dalam beberapa waktu terakhir, namun data menunjukkan bahwa pasar derivatif masih menjadi faktor yang lebih menentukan arah pergerakan harga.
Penurunan Likuiditas Bitcoin dan Tekanan Jual Derivatif
Darkfost menjelaskan bahwa tekanan jual yang tercermin melalui indikator net taker volume menjadi salah satu alasan mengapa pasar masih berada dalam fase koreksi dan konsolidasi.

Setiap kali indikator tersebut bergerak ke wilayah negatif, pasar Bitcoin cenderung memasuki fase pelemahan karena penjual lebih dominan dibandingkan pembeli. Sejak Juli, indikator ini secara umum bertahan di area negatif dan hanya sempat melambat pada awal Oktober sebelum tekanan jual kembali menguat.
“Tekanan jual dari pasar futures masih menjadi faktor dominan dan menjaga pasar dalam fase konsolidasi,” ungkap Darkfost.
Saat ini, penurunan tekanan jual mulai terlihat dengan perbaikan indikator dari sekitar -US$489 juta menjadi -US$93 juta sejak awal November, namun kondisi tersebut dinilai belum cukup untuk mendorong pasar keluar dari fase saat ini.
Futures dengan volume besar masih memainkan peran kunci dalam menggerakkan pasar, sementara pasar spot dan ETF masih belum memiliki kekuatan volume yang memadai.
Dampaknya, aktivitas perdagangan yang menurun menjaga pasar tetap berhati-hati dan membatasi ruang pergerakan harga. Kondisi ini juga berdampak pada dinamika sentimen investor yang masih cenderung defensif.
Selain faktor derivatif, pasar juga mencermati proyeksi teknikal yang dikemukakan sejumlah analis. Analis kripto sekaligus Youtuber Gerla menilai bahwa aset ini tengah menuju fase teknikal penting, di mana terbentuk pola Symmetrical Triangle yang berpotensi menjadi penentu arah harga jelang tahun 2026.

Berdasarkan analisis tersebut, BTC diharapkan dapat membangun dorongan bullish setelah breakout dari pola tersebut, meskipun arah konfirmasi tetap bergantung pada kondisi pasar dan kekuatan dukungan volume.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



