Volatilitas Pasar Bitcoin Tertinggi Sejak 2022, Siap Masuk Fase Baru

Volatilitas pasar Bitcoin tercatat mencapai level tertinggi sejak 2022, seiring meningkatnya fluktuasi harga di tengah fase transisi pasar global.

Analisis dari Arab Chain di platform CryptoQuant pada Rabu (11/2/2026) menunjukkan bahwa pergerakan harga Bitcoin di bursa Binance saat ini mencerminkan perubahan struktur pasar yang signifikan. Data tersebut menempatkan pasar Bitcoin dalam kondisi siap memasuki fase baru, baik dari sisi volatilitas maupun arah pergerakan harga.

Berdasarkan laporan tersebut, saat Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$70.000, volatilitas tahunan tujuh hari berada di kisaran 1,51, tertinggi sejak tiga tahun terakhir. Lonjakan ini dinilai sebagai sinyal peralihan dari fase konsolidasi menuju periode pergerakan harga yang lebih agresif.

“Data volatilitas ini menunjukkan bahwa pasar Bitcoin sedang memasuki fase transisi setelah periode konsolidasi yang panjang,” ungkap Arab Chain.

IKLAN
Chat via WhatsApp

Lonjakan Volatilitas Jangka Pendek 

Data on-chain menunjukkan bahwa volatilitas tahunan 30 hari Bitcoin berada di sekitar 0,81, sementara volatilitas 90 hari tercatat mendekati 0,56. Pola penurunan bertahap antar time frame ini mengindikasikan bahwa lonjakan volatilitas masih bersifat jangka pendek dan belum berkembang menjadi tren jangka panjang.

BACA JUGA:  Citi Siap Hadirkan Kustodi Bitcoin Tingkat Institusional

BTC Volatility Binance

Selain itu, indikator Average True Range (ATR) dalam bentuk persentase berada di kisaran 0,075, yang tergolong rendah secara historis. Kondisi ini menandakan bahwa rentang pergerakan harga harian relatif sempit dibandingkan periode volatilitas ekstrem sebelumnya.

Penyempitan ini mencerminkan menurunnya selera risiko investor serta berkurangnya aktivitas perdagangan dengan leverage tinggi.

Fase dengan volatilitas rendah dan range sempit sering kali menjadi fondasi sebelum terbentuknya tren baru. Situasi tersebut menunjukkan bahwa pasar sedang berada dalam fase penyesuaian, di mana pelaku pasar menunggu katalis yang lebih kuat untuk menentukan arah selanjutnya.

Siklus Empat Tahunan dan Proyeksi Koreksi Harga BTC

Selain itu, analis kripto Ali Martinez menilai bahwa siklus empat tahunan Bitcoin masih berjalan sesuai pola historis. Dalam analisisnya, Ali membandingkan pergerakan harga pada 2022 dengan kondisi 2025–2026 saat ini.

BTC Ali

Pada 2022, Bitcoin sempat mencapai puncak di sekitar US$69.198 sebelum mengalami koreksi awal sebesar 53,15 persen dan akhirnya turun hingga kisaran US$16.000.

Sementara pada siklus terbaru, BTC mencatatkan puncak di sekitar US$126.219 dan terkoreksi sekitar 28,14 persen. Berdasarkan kemiripan pola tersebut, Ali memproyeksikan potensi lanjutan penurunan menuju area US$51.000.

BACA JUGA:  Menakar Ancaman Quantum Computing bagi Keamanan Bitcoin

Menurut Ali, pergerakan tersebut masih mencerminkan fase normal dalam siklus empat tahunan Bitcoin, yang mencakup periode halving, reli bullish, pembentukan ATH, koreksi tajam, hingga fase konsolidasi.

Dengan demikian, koreksi saat ini dinilai belum merusak struktur jangka panjang pasar Bitcoin, meskipun tetap mengindikasikan adanya risiko penurunan lanjutan.

Aktivitas Whale dan Potensi Tekanan Jual

Di sisi lain, aktivitas investor besar turut menjadi perhatian pasar. Platform analitik Lookonchain melaporkan bahwa sebuah alamat whale 3NVeXm menyetor 2.500 BTC senilai sekitar US$172,56 juta ke Binance pada Rabu (11/2/2026).

whale BTC

Pergerakan dana dalam jumlah besar ke bursa umumnya dipantau sebagai potensi sinyal tekanan jual. Meski tidak selalu berujung pada aksi likuidasi, aktivitas ini berpotensi meningkatkan volatilitas pasar Bitcoin dalam jangka pendek, terutama di tengah kondisi pasar yang masih sensitif terhadap sentimen global.

Peluang Bullish di Ujung Fase Korektif

Di tengah proyeksi koreksi lanjutan, sejumlah analis teknikal menyampaikan pandangan berbeda. Analis BehDark menilai Bitcoin mendekati penyelesaian gelombang C dalam struktur gelombang korektif.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Turun, Investor Berpengalaman Asik Serok

Setelah fase tersebut, harga berpotensi berbalik naik, baik sebagai impuls bullish baru maupun sebagai gelombang X ke atas.

BTC naik

Dalam analisisnya, terdapat dua garis tren utama yang ditandai. Jika harga menembus garis tren pertama, pergerakan berpotensi menuju garis tren kedua.

Zona support telah teridentifikasi dengan jelas pada grafik, dan untuk strategi masuk posisi disarankan menggunakan pendekatan dollar-cost averaging (DCA). Target harga yang diproyeksikan berada di kisaran US$74.500 hingga US$81.200.

Pandangan serupa disampaikan analis CobraVanguard yang menilai harga telah menyentuh bagian bawah pola wedge dan gelombang korektif terlihat telah selesai.

BTC cobra

Menurutnya, fase gelombang bullish berpotensi dimulai, dengan peluang kenaikan menuju bagian atas channel. Apabila terjadi breakout ke atas dari pola wedge, harga berpotensi melanjutkan penguatan lebih tinggi.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait