Pasar kripto global kembali menghadapi tekanan tinggi setelah harga Bitcoin mengalami fluktuasi tajam pada awal Februari 2026. Berdasarkan laporan QCP Market Colour pada Rabu (4/2/2026), Bitcoin sempat turun hingga mendekati level US$72.900 sebelum kembali menguat ke area US$75.000.
Pergerakan ini terjadi di tengah meredanya risiko penutupan pemerintahan AS, sekaligus meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap faktor makro dan struktur derivatif.
Laporan tersebut mencatat bahwa volatilitas masih menjadi karakter utama pergerakan Bitcoin dalam beberapa pekan terakhir. Penurunan tajam diikuti pemantulan cepat menunjukkan bahwa pasar belum menemukan arah yang stabil.
Aktivitas perdagangan juga didominasi oleh aksi pengurangan risiko, terutama dari investor yang sebelumnya menggunakan leverage tinggi. QCP pun menegaskan bahwa posisi teknikal Bitcoin saat ini berada pada fase kritis.
Selain faktor teknikal, data pasar derivatif turut memperkuat gambaran kehati-hatian investor. Open interest mengalami penurunan, sementara funding rate sempat bergerak ke wilayah negatif. Kondisi ini mencerminkan proses deleveraging atau pengurangan posisi spekulatif yang cukup signifikan.
Tekanan Derivatif dan Sentimen Pasar BitcoinÂ
Tekanan di pasar derivatif menjadi salah satu faktor utama yang memicu volatilitas Bitcoin. QCP mencatat bahwa banyak pelaku pasar memilih mengurangi eksposur risiko setelah harga mengalami koreksi tajam. Hal ini terlihat dari menyusutnya open interest di berbagai platform derivatif utama.
Selain itu, analis pasar kripto, Crypto Seth, juga menyoroti open interest Bitcoin yang saat ini mendekati level terendah di Maret 2025. Ia juga menilai bahwa posisi long di pasar kripto telah mengalami tekanan besar sejak 10 Oktober, yang menunjukkan terjadinya likuidasi dan penutupan posisi secara masif.

Crypto Seth mempertanyakan apakah pasar akan bergerak datar di level saat ini atau kembali mengalami fluktuasi tajam.
Temuan tersebut memperkuat indikasi bahwa banyak investor jangka pendek masih bersikap defensif. Tekanan terhadap posisi long mencerminkan melemahnya kepercayaan terhadap kelanjutan tren naik dalam waktu dekat.
Di sisi lain, masih tingginya aktivitas perdagangan menunjukkan bahwa minat terhadap Bitcoin belum sepenuhnya surut.
Pasar opsi juga mengindikasikan kewaspadaan yang tinggi. Volatilitas tersirat jangka pendek tetap berada di level tinggi, sementara struktur harga opsi mulai menunjukkan kecenderungan backwardation ringan.
Selain itu, peningkatan downside skew menandakan bahwa investor lebih banyak membeli perlindungan terhadap risiko penurunan harga.
Level US$75.000 Jadi Penentu Arah
Secara teknikal, area US$75.000 dipandang sebagai titik penentu arah pergerakan BTC dalam jangka pendek. QCP menilai bahwa jika harga mampu bertahan di atas level tersebut, funding rate berpotensi kembali normal dan minat risiko dapat meningkat. Hal ini membuka peluang bagi penguatan lanjutan.
Sebaliknya, jika Bitcoin gagal mempertahankan level tersebut, tekanan jual diperkirakan akan kembali menguat. Dalam skenario ini, pasar cenderung bergerak lebih defensif, dengan investor memilih aset yang lebih aman atau mengurangi eksposur terhadap kripto.
Selain faktor internal pasar, kondisi makro global juga turut memengaruhi pergerakan Bitcoin. Meski tekanan makro sempat mereda, sejumlah risiko eksternal masih membayangi, termasuk dinamika geopolitik dan pergerakan harga komoditas energi. Faktor-faktor tersebut membuat pasar kripto tetap sensitif terhadap perkembangan global.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



