Volume perdagangan altcoin mengalami penurunan tajam hingga hampir 50 persen, sementara Bitcoin kembali menjadi aset utama yang dipilih investor selama fase koreksi pasar kripto terbaru.
Analis on-chain Darkfost di CryptoQuant menyoroti rotasi modal dari altcoin ke Bitcoin terjadi bersamaan dengan konsolidasi harga di kisaran US$65.000 hingga US$72.000, yang dipenuhi aktivitas besar dari whale, pemegang jangka panjang dan investor institusional.
Pada Rabu (18/2/2026), Darkfost menjelaskan bahwa perubahan distribusi volume perdagangan menjadi indikasi utama pergeseran sentimen pasar.

Data Binance menunjukkan bahwa pada 7 Februari, Bitcoin menguasai 36,8 persen dari total volume perdagangan di bursa tersebut, melampaui altcoin yang mencatat 35,3 persen dan Ethereum sebesar 27,8 persen. Dominasi Bitcoin ini terus berlanjut hingga pertengahan Februari.
“Selama periode koreksi mendalam atau tahap akhir bear market, investor cenderung memutar modal ke Bitcoin sambil menjauh dari altcoin,” ungkap Darkfost.
Ia menambahkan bahwa fenomena ini mencerminkan kecenderungan investor untuk mencari aset yang dianggap lebih stabil ketika volatilitas meningkat.
Penurunan aktivitas altcoin terlihat sangat signifikan jika dibandingkan dengan November sebelumnya. Saat itu, altcoin menyumbang sekitar 59,2 persen dari total volume perdagangan Binance. Namun pada 13 Februari, angka tersebut turun menjadi hanya 33,6 persen, mencerminkan kontraksi hampir 50 persen dalam waktu beberapa bulan.
Darkfost menegaskan bahwa Binance menjadi indikator penting karena secara konsisten mencatat volume perdagangan tertinggi di pasar, sehingga mencerminkan perilaku investor global secara luas.
Analis tersebut juga menekankan bahwa peningkatan dominasi volume Bitcoin selama periode ketidakpastian bukanlah fenomena baru. Pola serupa sebelumnya muncul selama fase koreksi besar pada Oktober 2022, Agustus 2024 dan April 2025.
Ia menyebut bahwa dalam kondisi pasar yang penuh tekanan, investor secara alami kembali ke Bitcoin sebagai aset utama untuk menjaga kapital mereka.
“Peningkatan pangsa volume Bitcoin selama periode stres pasar menunjukkan bahwa investor secara alami beralih ke BTC, memperkuat perannya sebagai aset utama untuk preservasi modal,” tulis Darkfost.
Akumulasi Whale Bitcoin Menguat di Tengah Tekanan Jual
Selain perubahan volume perdagangan, data on-chain juga menunjukkan peningkatan akumulasi Bitcoin oleh whale, meskipun tekanan jual masih berlangsung di pasar. Darkfost dalam postingan terpisah menyatakan bahwa kepemilikan Bitcoin oleh whale meningkat lebih dari 200.000 BTC dalam satu bulan terakhir.

Menurut analisis tersebut, total pasokan Bitcoin yang dipegang whale naik dari sekitar 2,9 juta BTC menjadi lebih dari 3,1 juta BTC. Kenaikan ini terjadi setelah sebelumnya terjadi penurunan rata-rata kepemilikan hingga hampir minus 7 persen pada 15 Desember.
Dalam periode terbaru, kepemilikan whale justru meningkat sekitar 3,4 persen, menandakan perubahan perilaku menuju akumulasi jangka menengah.
Darkfost menjelaskan bahwa lonjakan akumulasi dengan skala sebesar ini terakhir kali terjadi pada April 2025, yang kemudian membantu menyerap tekanan jual dan mendukung reli harga Bitcoin dari sekitar US$76.000 hingga mencapai US$126.000.
Ia menilai bahwa peningkatan kepemilikan whale selama fase ketidakpastian sering kali berperan sebagai faktor stabilisasi pasar.
Ia juga mencatat bahwa meskipun aliran masuk Bitcoin ke bursa meningkat, hal tersebut lebih mencerminkan aktivitas jangka pendek, sementara tren kepemilikan keseluruhan whale tetap meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian investor besar masih memilih mempertahankan Bitcoin sebagai aset utama mereka.
Konsolidasi Harga dan Potensi Pergerakan Berikutnya
Di sisi teknikal, analis kripto Tony mengamati bahwa Bitcoin saat ini membentuk pola symmetrical triangle pada time frame empat jam, dengan resistance di kisaran US$70.000 hingga US$71.000 dan support di sekitar US$66.000 hingga US$67.000.
Struktur ini menunjukkan fase konsolidasi yang sering kali terjadi sebelum pergerakan besar berikutnya.

Tony memperingatkan bahwa pola breakout yang terlihat jelas dapat menjadi jebakan likuiditas, di mana harga berpotensi melakukan pergerakan palsu sebelum menentukan arah utama.
Namun, selama BTC bertahan dalam struktur tersebut, ia menilai aset ini masih berada dalam fase persiapan menuju potensi kenaikan lebih lanjut.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



