VP Indodax Bicara Strategi Aman Beli Bitcoin Saat Tekanan Makro Meningkat

Pelemahan harga Bitcoin (BTC) yang kembali turun ke area Rp1,3 miliar menjadi pengingat bagi investor kripto untuk bersikap lebih selektif dan disiplin dalam mengambil keputusan. Tekanan jual yang masih terasa menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya stabil pascakoreksi tajam dalam 24 jam terakhir.

Berdasarkan data CoinMarketCap pada Sabtu (31/1/2026), Bitcoin bergerak di rentang Rp1,35 miliar hingga Rp1,45 miliar, jauh di bawah level psikologis sebelumnya. Tingginya volatilitas mencerminkan fase penyesuaian pasar setelah terjadinya gelombang likuidasi besar, yang kerap membuat pelaku pasar cenderung menahan diri.

Tekanan Global dan FOMC Bikin Investor Kripto Lebih Selektif

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menilai kondisi tersebut mendorong investor untuk lebih berhati-hati, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. Menurutnya, tekanan geopolitik dan kebijakan moneter global membuat pelaku pasar tidak lagi agresif, melainkan lebih selektif dalam menentukan posisi.

BACA JUGA:  Volatilitas Tinggi Masih Hantui Bitcoin, Ini Pemicunya

Ia menyarankan agar investor mencermati perkembangan faktor makroekonomi yang dapat memengaruhi pergerakan harga kripto dalam jangka pendek. Antony menilai, pergerakan harga Bitcoin saat ini merupakan reaksi pasar terhadap kebijakan moneter yang sebenarnya telah diantisipasi sebelumnya.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Keputusan The Fed untuk menahan suku bunga sebenarnya sudah tercermin dalam ekspektasi pasar. Namun, kebijakan tersebut dinilai belum memberikan katalis baru bagi pergerakan harga,” ujar Antony dalam keterangan resminya kepada Blockchainmedia.id, Sabtu (31/01/2026).

Lebih lanjut, Antony menjelaskan bahwa volatilitas jangka pendek setelah pengumuman kebijakan moneter merupakan pola yang lazim di pasar kripto global.

“Peristiwa seperti FOMC sering menjadi momen evaluasi bagi investor. Pergerakan harga mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap informasi yang telah dikonfirmasi secara resmi,” tambahnya.

Di tengah kehati-hatian investor, sentimen positif tetap datang dari sisi adopsi institusional. Negara bagian South Dakota di AS resmi mengajukan Rancangan Undang-Undang (RUU) pembentukan cadangan Bitcoin (Bitcoin Reserve) yang bersumber dari pendapatan pemerintah negara bagian.

BACA JUGA:  Harga Bitcoin Turun, Investor Berpengalaman Asik Serok

Melalui aturan ini, hingga 10 persen dari total dana kelolaan negara berpotensi dialokasikan ke Bitcoin sebagai bagian dari strategi cadangan aset.

Disiplin Investasi Dinilai Penting Saat Pasar Kripto Bergejolak

Antony menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal penting bagi investor untuk tidak semata terpaku pada pergerakan harga harian.

“Di tengah koreksi jangka pendek, ada perkembangan fundamental yang patut dicermati. Adopsi Bitcoin di level pemerintah dan institusional menunjukkan bahwa fundamental Bitcoin terus berkembang, terlepas dari fluktuasi harga jangka pendek,” ujarnya.

Ia menambahkan, di tengah dinamika makroekonomi global yang cepat berubah, investor perlu menjaga disiplin dan terus memperbarui wawasan sebelum mengambil keputusan investasi.

“Pendekatan bertahap seperti Dollar Cost Averaging (DCA) dapat menjadi salah satu strategi untuk meredam risiko volatilitas. Investor juga perlu aktif memanfaatkan sumber edukasi dan informasi agar dapat memahami konteks pasar secara utuh,” tutup Antony.

BACA JUGA:  Bitcoin Masuk Zona Rugi, Sinyal Pembentukan Bottom Baru?

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia