Tekanan terhadap rupiah kembali memuncak. Di tengah gejolak global yang kian panas, nilai tukar IDR terhadap stablecoin berbasis dolar AS, USDT, resmi mencetak rekor baru. Angka Rp17.600 kini bukan sekadar batas psikologis, tetapi mencerminkan tekanan yang kuat.
Minyak Melambung, Rupiah Indonesia Tertekan
Peningkatan nilai tukar USD ke rupiah masih terus bergulir di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara AS dan Iran. Situasi ini mendorong harga minyak dunia melonjak tajam.
Per Jumat (15/05/2026), harga Brent Oil diperdagangkan pada kisaran US$107 hingga US$107,95 dan mulai mendekati level US$108. Kenaikan ini menjadi indikator kuat bahwa tekanan belum mereda.

Lonjakan harga minyak mencerminkan kondisi pasar yang tidak stabil. Ketika biaya energi meningkat, tekanan inflasi ikut naik dan mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS.
Efeknya terasa luas. Dolar AS terlihat semakin menguat, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada dalam tekanan yang semakin berat di tengah arus modal global.
Pergerakan ini juga tercermin pada nilai tukar rupiah terhadap stablecoin USDT yang ikut melonjak. Level tertinggi baru pun tercipta, menandakan kuatnya dominasi USD dalam situasi ekonomi saat ini..
Kombinasi Faktor Domestik dan Asing Tekan IDR
Dikutip dari laporan Kumparan pada Jumat (15/05/2026): Sebelumnya, rupiah menyentuh level terendah di Rp17.500. Setelah itu, IDR menguat tipis ke Rp17.475 pada Rabu lalu. Namun, tren pelemahan masih berlanjut seiring tekanan yang juga dialami berbagai mata uang global.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipicu faktor eksternal. Dari dalam negeri, aksi jual saham oleh investor asing menjelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) ikut memperberat kondisi pasar keuangan Indonesia.

Di saat yang sama, konflik antara AS dan Iran di Selat Hormuz yang belum mereda membuat dolar AS semakin dominan. Situasi ini mendorong investor global untuk mengalihkan dana ke aset yang lebih aman, sehingga rupiah semakin tertekan.
Bank Indonesia melalui Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti, menegaskan bahwa tekanan terhadap mata uang rupiah Indonesia berkaitan erat dengan meningkatnya ketidakpastian global.
“Konflik yang terjadi di timur Tengah dan masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global,” kata Destry.
Untuk menjaga stabilitas, BI memastikan akan tetap aktif di pasar. Langkah yang dilakukan mencakup intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF guna meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Dolar AS Makin Perkasa, Asia Tenggara Ikut Tertekan
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Berdasarkan data Google Finance, sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara juga mengalami tren serupa, di mana dolar AS menguat terhadap berbagai mata uang.
Nilai tukar USD terhadap ringgit Malaysia tercatat di 3,9475, naik +0,41 persen. Sementara itu, terhadap dolar Singapura berada di level 1,2791 (+0,20 persen), dan Baht Thailand di 32,5730 (+0,26 persen).

Kondisi ini memperlihatkan dominasi dolar AS yang semakin menguat, bukan sekadar anomali di dalam negeri. Artinya, tekanan terhadap rupiah adalah bagian dari tren global yang lebih besar.
Di tengah situasi ini, pasar kripto juga ikut bereaksi. Harga Bitcoin kembali turun ke US$80.400 setelah sempat menyentuh US$81.000. Pergerakan ini menunjukkan bahwa likuiditas global cenderung mengalir ke USD, bukan ke aset berisiko.
Singkatnya, kombinasi geopolitik, kebijakan global, dan arus modal asing telah menciptakan badai sempurna bagi IDR. Selama dolar AS masih menjadi primadona di tengah ketidakpastian, tekanan terhadap rupiah berpotensi terus berlanjut.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


