Tekanan kembali menghantui Bitcoin. Setelah gagal mempertahankan level kunci, kekhawatiran meningkat seiring munculnya proyeksi koreksi lebih dalam. Meski demikian, sejumlah analis menilai potensi penurunan ini justru menjadi fase koreksi sehat, bukan awal dari siklus bearish.
Bitcoin Tertekan, Indikator On-Chain Beri Peringatan Dini
Harga Bitcoin melemah dalam beberapa waktu terakhir dan memicu kecemasan. Pergerakan harga BTC di kisaran US$85.000–US$86.000 memunculkan pertanyaan apakah ini hanya koreksi sementara atau sinyal tekanan lanjutan.
Kondisi tersebut tercermin dari sikap pelaku pasar yang semakin berhati-hati. Minimnya dorongan beli di area harga saat ini menunjukkan investor cenderung menunggu kepastian arah, seiring meningkatnya risiko volatilitas jangka pendek.
Sinyal kewaspadaan juga datang dari data Net Unrealized Profit/Loss (NUPL). Dikutip dari laporan sebelumnya, analis NovAnalytica mengungkapkan bahwa NUPL Bitcoin turun tajam dari zona euforia atau greed ke level sekitar 0,30.
NUPL Bitcoin Hari Ini Melorot, Sinyal Amblas atau Peluang Serok?
Penurunan NUPL ini menandakan berkurangnya unrealized profit di kalangan investor. Secara historis, kondisi tersebut kerap mendahului fase konsolidasi atau koreksi harga, terutama ketika sentimen pasar mulai mendingin.
Dari sisi teknikal, analis kripto Martinez juga menyoroti level krusial US$86.000 yang kini telah ditembus. Ia menilai, jebolnya area ini berpotensi memicu tekanan jual lanjutan yang dapat membawa Bitcoin turun hingga kisaran US$70.000.
Koreksi Makro, Bukan Awal Bear Market Baru
Meski proyeksi penurunan mendominasi, sejumlah analis menegaskan bahwa kondisi saat ini berbeda dari fase bear market Bitcoin pada periode sebelumnya. Tekanan yang terjadi bersifat penyesuaian jangka menengah, bukan perubahan tren jangka panjang.
Trader ternama Jackis, dalam analisis yang diunggah Selasa (16/12/2025), menilai pergerakan Bitcoin saat ini masih berada dalam rentang makro ekonomi 2025. Menurutnya, koreksi hingga US$70.000 belum menandakan awal bear market baru.
Menurut Jackis, koreksi harga BTC saat ini tidak dipicu oleh tekanan makro sistemik maupun gelombang risk-off global. Ia menilai, faktor pendorong utama penurunan justru berbeda dari fase bearish sebelumnya.
“Saya melihatnya sebagai momentum bearish sementara atau jeda dalam tren makro. Namun, berbeda dengan 2022 atau Q1, penurunan ini tidak didorong oleh tekanan fundamental, melainkan oleh perpindahan kepemilikan dari para OG ke institusi,” tegas Jackis.
Pandangan serupa disampaikan analis Jelle, yang mengamati potensi bullish divergence pada grafik tiga hari Bitcoin. Analisis tersebut dibagikan pada Rabu (17/12/2025), dan dalam siklus ini pola serupa kerap bertepatan dengan terbentuknya local bottom.

Meski demikian, Jelle menegaskan bahwa sinyal tersebut belum terkonfirmasi. Menurutnya, pasar masih membutuhkan waktu dan fase konsolidasi tambahan sebelum arah pemulihan benar-benar terlihat.
Siklus Bullish BTC Lebih Panjang, Peluang Terbuka
Dari perspektif makro, Julien Bittel, Head of Macro Research di Global Macro Investor, menyoroti pola historis Bitcoin ketika indikator RSI turun di bawah level 30. Menurutnya, kondisi oversold seperti ini kerap menjadi titik awal perubahan arah pasar.
Berdasarkan data yang diunggah pada Rabu ini, fase oversold umumnya diikuti pemulihan yang terstruktur. Namun, proses tersebut biasanya diawali volatilitas tinggi dan pergerakan harga yang cenderung choppy sebelum tren yang lebih jelas terbentuk.
Selain itu, Bittel menilai siklus halving empat tahunan tidak lagi menjadi pendorong utama harga Bitcoin. Ia berpendapat, dinamika likuiditas global serta siklus pembiayaan utang yang lebih panjang berpotensi membentuk struktur pasar dalam beberapa waktu ke depan.
“Berdasarkan kajian kami terhadap siklus bisnis, arah kondisi keuangan saat ini, serta ekspektasi terhadap likuiditas secara keseluruhan, probabilitas terbesar menunjukkan bahwa siklus ini akan berlanjut hingga jauh ke tahun 2026,” jelas Bittel.

Sementara itu, Jurrien Timmer, Director of Global Macro Fidelity, menempatkan kondisi saat ini dalam gelombang besar 2022–2025. Melalui data yang dibagikan pada Jumat (12/12/2025), ia mencatat Bitcoin telah mencatat pertumbuhan CAGR sekitar 105 persen dalam 145 minggu.
Menurut Timmer, koreksi lanjutan hingga ke kisaran US$65.000 masih mungkin terjadi dalam beberapa waktu ke depan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa area tersebut secara historis kerap menjadi zona akumulasi yang kuat.
“Jika demikian, seberapa dalam dan lama koreksi ini akan berlangsung masih sulit diprediksi. Namun, harga bisa berada di kisaran US$65.000–US$75.000 pada suatu titik di 2026. Secara historis, pasar bearish Bitcoin biasanya hanya berlangsung sekitar satu tahun atau bahkan kurang, dan zona harga tersebut menawarkan support yang kuat,” tegasnya.
Ke depan, Timmer memperkirakan siklus Bitcoin akan semakin landai seiring meningkatnya adopsi. Namun, jika fase ekspansi baru terbentuk, pemodelan harga masih membuka peluang Bitcoin menuju US$300.000 pada 2029.

Koreksi Sehat, Bukan Bear Market
Meski proyeksi penurunan hingga US$70.000 menimbulkan kekhawatiran, para analis sepakat bahwa ini bukan awal bear market Bitcoin yang baru. Tekanan harga BTC saat ini lebih mencerminkan fase koreksi jangka menengah dan penyesuaian pasar.
Investor dianjurkan tetap waspada namun tidak panik, karena sejarah menunjukkan koreksi seperti ini kerap diikuti pemulihan terstruktur. Dengan potensi akumulasi di support level dan siklus bullish yang masih panjang, peluang bagi Bitcoin untuk kembali naik tetap terbuka.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



