Waspada! Pola Bear Market Bitcoin 2014 Muncul Lagi di 2026

Pasar Bitcoin (BTC) kembali menunjukkan tanda-tanda pelemahan pada awal 2026, memicu kekhawatiran bahwa aset kripto terbesar dunia ini berpotensi mengulang pola bear market terdalam seperti yang terjadi pada 2014.

Secara teknikal, koreksi harga yang terjadi sejak akhir 2025 memiliki kemiripan dengan fase awal pasar turun di siklus-siklus sebelumnya.

Btcoin saat ini telah terkoreksi sekitar 32 persen dari puncak siklusnya yang berada di kisaran US$126.000 pada Oktober 2025. Meski penurunan tersebut masih lebih ringan dibandingkan siklus 2014, 2018 dan 2022, sejumlah indikator menunjukkan bahwa tekanan jual masih berpotensi berlanjut sepanjang 2026.

Analis pasar kripto CryptoCon menilai, pola pergerakan harga Bitcoin saat ini masih sejalan dengan tren historis.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Titik penyatuan penurunan harga diperkirakan terjadi pada September 2026 di sekitar US$35.000,” ujar CryptoCon.

Bear market Bitcoin

Pernyataan tersebut merujuk pada fenomena di mana persentase penurunan harga dari berbagai siklus cenderung menyatu menjelang akhir fase bear market, sebelum akhirnya mencapai titik terendah.

BACA JUGA:  MetaMask Rilis Kartu Kripto Mastercard, Bisa Dipakai di Seluruh AS

Pola Historis dan Proyeksi Penurunan Harga Bitcoin

Dalam laporan perbandingan siklus pasar, CryptoCon menunjukkan bahwa setiap fase bear market Bitcoin mengalami penurunan yang relatif lebih ringan dari waktu ke waktu, yakni sekitar 86 persen pada 2014, 84 persen pada 2018, dan 77 persen pada 2022. Pada siklus saat ini, penurunan masih berada di bawah angka tersebut.

Meski demikian, data historis menunjukkan bahwa penurunan terbesar biasanya terjadi pada fase akhir bear market.

Jika pola lama kembali terulang, titik terendah harga Bitcoin diperkirakan muncul pada Oktober hingga November 2026. Sementara itu, teori siklus halving memproyeksikan fase dasar pasar berlangsung hingga awal 2027.

Dalam skenario terburuk, level harga Bitcoin berpotensi turun ke kisaran US$28.000 hingga US$17.000, mengikuti pola penurunan pada siklus pertama dan ketiga. CryptoCon juga menilai bahwa fase bear market saat ini baru berjalan sekitar 30 persen dari sisi waktu, sehingga masih relatif panjang.

pola 2021 btc

Sementara itu, analis lain, Chiefy, menilai bahwa pergerakan Bitcoin saat ini memiliki kemiripan dengan pola pada 2021. Ia memperkirakan, jika siklus empat tahunan masih berlaku, harga Bitcoin berpotensi turun hingga sekitar US$30.000 pada Februari 2026.

BACA JUGA:  Epstein Files, MIT, dan Bayang-Bayang di Balik Bitcoin

Pandangan tersebut mencerminkan kekhawatiran akan tekanan jual lanjutan dalam beberapa bulan ke depan.

Sinyal Bear Market Terkonfirmasi Indikator Ini

Sinyal penguatan tren bearish juga diperkuat oleh analisis teknikal dari analis pasar GainMuse. Dalam analisisnya, GainMuse menyebutkan bahwa Bitcoin telah bergerak di bawah weighted moving average 100 minggu (WMA100), indikator yang pada siklus 2022 menjadi konfirmasi akhir dimulainya fase bear market.

BTC di bawah WMA

Menurutnya, peluang pembalikan tren masih terbuka apabila Bitcoin mampu menutup perdagangan mingguan di atas level US$88.000. Namun, ia menilai peluang tersebut relatif kecil karena tekanan jual masih mendominasi pergerakan harga.

BTC break support

Konfirmasi bear market ini terjadi setelah Bitcoin kehilangan area ascending support akibat berulang kali gagal menembus garis resistance utama. Penolakan harga di area atas tersebut membentuk pola lower high, yang memperkuat kelanjutan tren bearish dalam struktur penurunan jangka menengah.

BACA JUGA:  Bitcoin Merah? Robert Kiyosaki Bilang Ini Justru Fase Penting

Saat ini, harga BTC juga telah bergerak di bawah zona konsolidasi sebelumnya, sehingga risiko penurunan lanjutan masih terbuka menuju area target yang telah dipetakan.

Kondisi momentum yang lebih berpihak pada penjual serta lemahnya daya tahan support menjadi faktor utama yang menjaga tekanan terhadap pergerakan kripto utama tersebut.

Dari sisi sentimen, pasar Bitcoin pada 2026 juga dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi global dan sikap investor institusional yang cenderung lebih berhati-hati. Arus keluar dana dari produk investasi berbasis Bitcoin serta meningkatnya likuidasi posisi leverage turut menambah tekanan jangka pendek.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia