Bot trading berbasis AI terdengar seperti jalan pintas yang menarik bagi trader kripto. Namun, laporan terbaru menunjukkan bahwa tutorial yang tampak edukatif justru bisa menjadi pintu masuk menuju pencurian aset.
Tutorial Bot Trading AI yang Terlihat Meyakinkan
Berdasarkan laporan TRM Labs pada Senin (14/09/2026), modus ini beredar melalui tutorial YouTube yang menjanjikan pembuatan bot arbitrase kripto berbasis Claude, lengkap dengan panduan langkah demi langkah.
Penonton diarahkan menyiapkan wallet, menyalin kode, melakukan deploy smart-contract, hingga mengirim kripto sebagai modal. Semua terlihat normal karena korban sendiri yang menyetujui setiap transaksi.
Masalahnya, bot arbitrase yang dijanjikan ternyata tidak memiliki logika trading. Kontrak yang akhirnya masuk ke blockchain justru dirancang untuk meneruskan aset korban ke wallet crypto milik operator.

YouTube kemudian menjadi salah satu kanal utama untuk menyebarkan jebakan tersebut. Video dibuat sedemikian rupa agar terlihat seperti tutorial edukatif dari kreator kripto yang benar-benar memahami teknologi.
“Sembilan tutorial tersebut muncul di berbagai kanal YouTube dan masing-masing ditampilkan seolah dibuat oleh kreator yang berbeda. Namun, video-video itu menunjukkan tanda bahwa semuanya kemungkinan berasal dari satu produksi yang sama,” jelas TRM Labs.
Beberapa video memakai presenter dan suara buatan AI, sementara komentarnya dipenuhi testimoni palsu. Ada pula klaim keuntungan hingga 1 ETH setiap 20 jam untuk membuat skema tersebut semakin meyakinkan.
Hingga September 2026, sembilan video tersebut telah mengumpulkan sekitar 310.474 tayangan sejak April. Modus scam ini muncul ketika penggunaan AI oleh pelaku kriminal terus meningkat.
Indeks TRM mencatat adopsi AI oleh pelaku kriminal naik 40 persen secara tahunan. Dalam tren tersebut, scammer menjadi salah satu kelompok yang paling agresif memanfaatkan teknologi AI.

Nama Claude Hanya Umpan, Jebakan Ada di Compiler
Nama Claude menjadi salah satu umpan utama karena terdengar masuk akal bagi pengguna yang akrab dengan AI coding. Padahal, TRM tidak menemukan produk Anthropic atau fungsi AI di kontrak tersebut.
Menurut TRM, pola serupa juga sudah muncul pada 2025 dengan mencatut ChatGPT. Branding AI berubah mengikuti tren, tetapi mekanisme scam di baliknya tetap menggunakan pola yang sama.
Bagian paling menjebak muncul ketika korban diarahkan menuju situs compiler. Tampilannya dibuat menyerupai Remix, sehingga pengguna awam mengira sedang memakai lingkungan pengembangan yang benar-benar sah.

Source code yang terlihat di layar sebenarnya hanya umpan bersih. Situs itu membuang kode yang ditempel korban, lalu mengambil dan mengompilasi kontrak berbeda dari server yang dikendalikan operator.
Kontrak tersembunyi tersebut bekerja seperti honeypot. Setelah menerima deposit, saldo di atas 0,05 ETH diteruskan ke operator ketika korban menekan tombol Start atau Withdraw sesuai arahan tutorial dan trik ini sangat sulit untuk terdeteksi.
“Korban menggunakan wallet asli, melakukan deploy kontrak yang mereka kendalikan, dan menandatangani sendiri setiap transaksi. Bahkan, source code yang ditampilkan di layar tidak mengandung kode berbahaya,” tutur mereka.
224 Wallet Kripto Jadi Korban, Bagaimana Cara Menghindari Bot Trading Palsu?
Jika korban mulai curiga setelah dana menghilang, skema itu belum berhenti. Salah satu situs menampilkan pesan error palsu yang meminta tambahan likuiditas sebesar 50 persen dari modal awal.
Istilah “gas nonce liquidity” dipakai untuk membuat pesan tersebut terdengar teknis, padahal TRM menegaskan konsep itu tidak ada di Ethereum. Tujuannya sederhana, yaitu memancing korban mengirim dana untuk kedua kalinya.
Skala kerugiannya bukan sekadar satu-dua wallet. TRM mengidentifikasi 234 smart-contract yang dideploy dan didanai korban, dengan aliran yang terkonsentrasi ke alamat milik operator.
Dari penelusuran on-chain, setidaknya 224 wallet korban berhasil diidentifikasi. Total dana yang terkuras mencapai 274,60 ETH, sekitar US$517.205 saat transfer, dengan median kerugian sekitar 1 ETH.

Dana curian kemudian bergerak melalui infrastruktur terdesentralisasi. Sebagian ETH ditukar menjadi DAI, sebagian melewati beberapa bridge lintas jaringan, dan salah satu jalurnya masuk ke layanan mixer.
Karena itu, pelajaran terpentingnya bukan menghindari video mencurigakan. Jangan memakai compiler dari tautan tutorial tanpa verifikasi, dan pastikan kode ai trading yang benar-benar di-deploy sesuai dengan source code yang terlihat.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita Bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [dp]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


