Western Union akan memulai uji coba penggunaan stablecoin dalam sistem penyelesaian transaksi lintas batas untuk meningkatkan efisiensi pengiriman uang internasional.
Berdasarkan laporan Insider Monkey, informasi tersebut diumumkan dalam laporan kinerja kuartal ketiga perusahaan.
Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bank koresponden tradisional, sekaligus mempercepat proses settlement yang selama ini menjadi tantangan utama dalam layanan remitansi global.
Western Union tercatat memproses sekitar 70 juta transaksi setiap kuartal di lebih dari 200 wilayah di seluruh dunia, menjadikan perubahan ini berpotensi berdampak signifikan pada biaya dan kecepatan layanan.
Penggunaan stablecoin dalam sistem pembayaran internasional diperkirakan dapat mengurangi waktu penyelesaian transaksi dari hitungan hari menjadi menit, serta menekan biaya operasional yang timbul dari keterlibatan banyak lembaga perantara.
Perusahaan menyebutkan bahwa uji coba tersebut akan memanfaatkan jaringan on-chain untuk melakukan settlement antar lembaga secara langsung. Namun, Western Union belum mengungkapkan stablecoin atau jaringan blockchain mana yang akan digunakan dalam fase awal implementasi ini.
Langkah Strategis Western Union di Tengah Persaingan Industri Remitansi
Western Union menghadapi tekanan kompetitif dari munculnya berbagai layanan transfer uang digital yang menawarkan biaya lebih rendah dan kecepatan lebih tinggi.
Perusahaan berupaya memperbarui sistem yang selama puluhan tahun bergantung pada infrastruktur perbankan tradisional.
Dalam keterangannya, CEO Western Union, Devin McGranahan, menekankan bahwa penerapan solusi berbasis blockchain bertujuan untuk mendukung layanan yang lebih modern dan responsif terhadap kebutuhan pengguna.
“Kami melihat peluang untuk mengurangi hambatan dalam pengiriman uang global dengan memanfaatkan jalur settlement berbasis stablecoin,” ujarnya dalam konferensi pendapatan kuartal tersebut.
Penggunaan stablecoin semakin dilirik oleh pemain di sektor pembayaran global karena sifatnya yang dirancang untuk memiliki nilai stabil dan tidak mudah berfluktuasi seperti aset kripto lainnya.
Dengan memanfaatkan stablecoin, penyedia layanan pembayaran dapat memfasilitasi perpindahan dana tanpa harus menunggu proses kliring lintas bank yang umumnya memakan waktu dan biaya lebih besar.
Kejelasan regulasi yang berkembang terutama di AS turut mendorong lembaga keuangan tradisional mulai mengevaluasi atau mengadopsi teknologi tersebut.
Integrasi Teknologi dan Kepatuhan sebagai Kunci Utama
Meski memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi, penggunaan stablecoin dalam remitansi lintas batas juga menghadapi sejumlah tantangan. Western Union masih perlu memastikan bahwa transaksi tetap memenuhi persyaratan kepatuhan, termasuk verifikasi identitas pengguna (KYC) dan pencegahan pencucian uang (AML).
Selain itu, tidak semua negara memiliki kerangka regulasi yang mendukung penggunaan aset digital untuk keperluan pembayaran. Perusahaan perlu menyesuaikan pendekatan implementasi berdasarkan yurisdiksi masing-masing wilayah operasional.
Pengamat industri menilai bahwa keberhasilan uji coba ini akan bergantung pada kemampuan Western Union dalam mengintegrasikan teknologi baru dengan sistem internal yang sudah berjalan.
Selain itu, perusahaan harus mempertimbangkan edukasi pengguna akhir yang mungkin belum familiar dengan konsep stablecoin atau penyimpanan aset digital berbasis blockchain.
Jika uji coba ini berjalan sesuai rencana, langkah tersebut dapat menjadi preseden bagi transformasi lebih luas di industri remitansi global. Perubahan ini berpotensi menurunkan biaya transfer internasional, mempercepat akses dana dan meningkatkan inklusi keuangan, terutama di negara berkembang yang sangat bergantung pada remitansi luar negeri.
Namun, evaluasi fase uji coba dan kesiapan regulasi di berbagai negara akan menjadi penentu keberlanjutan penerapan stablecoin di jaringan Western Union dalam jangka panjang. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



