Pergerakan Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah analis on-chain Darkfost di CryptoQuant mengungkap aktivitas whale Bitcoin kembali meningkat di tengah reli harga yang sudah berlangsung sejak awal Februari.
Dalam laporannya pada Senin (4/5/2026), Darkfost mencatat harga Bitcoin telah menguat sekitar 32 persen sejak 6 Februari, tetapi kenaikan itu lebih banyak didorong pasar derivatif, bukan dorongan fundamental ekonomi global yang membaik.
Kondisi ini dinilai penting karena kemunculan kembali whale Bitcoin di bursa, khususnya Binance, sering menjadi sinyal awal perubahan struktur pasar. Darkfost mencatat rasio whale inflow, indikator yang mengukur konsentrasi transaksi besar terhadap total aliran masuk, kembali naik dari 0,40 ke 0,51 saat harga Bitcoin bergerak lebih tinggi.
“Lonjakan rasio ini menunjukkan pemain besar kembali aktif, tetapi belum tentu berarti tekanan jual akan langsung meningkat,” ujar Darkfost.

Menurut Darkfost, metrik tersebut hanya menggambarkan intensitas aktivitas transaksi besar, bukan arah pasti apakah whale Bitcoin sedang mengakumulasi atau bersiap melepas aset.
Aktivitas Whale Bitcoin Menguat di Tengah Ketidakpastian Global
Darkfost menjelaskan bahwa lonjakan aktivitas whale Bitcoin terjadi di tengah situasi makroekonomi yang masih rapuh. Ketegangan geopolitik di kawasan selat Hormuz yang belum mereda telah mendorong harga energi global naik tajam dan memperbesar tekanan inflasi.
Di sisi lain, The Fed memilih untuk mempertahankan suku bunga acuan tanpa perubahan dalam beberapa bulan terakhir. Kebijakan itu menunjukkan bank sentral AS masih mengambil posisi hati-hati terhadap arah ekonomi global.
Data historis yang dibagikan Darkfost menunjukkan pola serupa pernah muncul pada pertengahan Februari dan pertengahan Maret, ketika rasio aliran masuk whale Bitcoin melonjak bersamaan dengan fase volatilitas tinggi.
Sementara itu, analis lain di CryptoQuant, Rei, mencatat pemegang jangka panjang (LTH) mulai kembali mengakumulasi Bitcoin dalam 30 hari terakhir. Namun, kekuatan akumulasi kali ini disebut lebih lemah dibanding siklus sebelumnya.

Rei melihat arus masuk Bitcoin ke wallet pemegang jangka panjang memang meningkat, tetapi skala pembeliannya tidak sebesar fase akumulasi utama sebelumnya.
Kondisi itu mengindikasikan gelombang koreksi pasar saat ini mungkin mulai mendekati akhir, tetapi potensi kenaikan masih terbatas selama distribusi dari holder besar belum dimulai.
Bitcoin Masuk Zona Penentuan, Buyer dan Seller Berebut Kendali
Dari sisi teknikal, analis pasar Master Ananda melihat Bitcoin kini sedang menghadapi resistance utama di area US$80.650. Level ini menjadi hambatan penting setelah sebelumnya area US$74.500 berhasil direbut kembali dan kini berubah fungsi menjadi support.

Menurut Master Ananda, empat pekan berturut-turut ditutup hijau menjadi sinyal bahwa kekuatan bullish masih mendominasi. Ia menilai fase konsolidasi tiga bulan terakhir sedang membentuk fondasi untuk dorongan naik berikutnya.
Dalam analisisnya, tekanan beli yang terus bertahan tepat di bawah resistance menunjukkan proses akumulasi masih berlangsung. Jika area hambatan ini berhasil ditembus, target psikologis US$100.000 dinilai semakin realistis.
Master Ananda juga menilai saat tekanan jual dari dorongan bearish selesai terserap pasar, pembeli dapat kembali masuk lebih agresif dan mendorong Bitcoin naik lebih cepat.
Leverage Naik, Risiko Long Squeeze Membesar
Namun, optimisme itu tidak sepenuhnya tanpa risiko. Analis teknikal Trader Height memperingatkan adanya potensi jebakan leverage di pasar Bitcoin.
Ia mencatat Open Interest terus naik, funding rate kembali positif, tetapi harga justru bergerak mendatar dalam rentang sempit. Menurutnya, kondisi ini menunjukkan banyak trader membuka posisi long secara agresif, tetapi pasar belum merespons dengan kenaikan harga yang sepadan.
Trader Height menilai pola seperti ini sering menjadi jebakan klasik. Ketika leverage terus bertambah tanpa pergerakan harga yang kuat, pasar biasanya sedang membangun likuiditas untuk kemudian “menghukum” satu sisi posisi.

Selain itu, Trader Height juga mencatat area resistance jangka pendek Bitcoin saat ini berada di kisaran US$78.800 hingga US$79.200, yang sejauh ini masih menjadi batas atas pergerakan harga.
Sementara itu, likuiditas besar terlihat menumpuk di bawah area range, tepatnya di sekitar US$78.300 hingga US$78.100, dengan zona flush lebih dalam berada di kisaran US$77.600.
Menurutnya, jika harga kehilangan area tersebut, tekanan likuidasi terhadap posisi long bisa meningkat dan memicu long squeeze yang mempercepat koreksi. Namun jika resistance atas berhasil ditembus dengan dorongan spot demand yang kuat, skenario breakout tetap terbuka dan bisa memicu tekanan balik terhadap posisi short.
Pada intinya, kenaikan harga Bitcoin saat ini masih ditopang oleh dorongan pasar derivatif, sementara aktivitas whale Bitcoin kembali menguat di Binance.
Meski lonjakan aliran whale belum bisa diartikan sebagai sinyal jual, pergerakan pemain besar ini menjadi penanda bahwa fase pasar mulai memasuki area yang lebih sensitif, di mana perubahan arah bisa terjadi lebih cepat dan volatilitas berpotensi meningkat.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


