Lonjakan aktivitas whale Bitcoin di bursa kripto memicu peringatan serius bagi pasar. Analis on-chain GugaOnChain di CryptoQuant melaporkan bahwa rasio Exchange Whale Ratio mencapai 70,41 persen saat harga Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$67.300.
Angka tersebut menunjukkan lebih dari 70 persen total deposit ke bursa didominasi oleh pemegang besar atau whale Bitcoin, sebuah kondisi yang secara historis kerap mendahului tekanan jual signifikan.

GugaOnChain menegaskan bahwa dominasi whale Bitcoin dalam arus masuk ke bursa menjadi sinyal niat distribusi.
“Sebanyak 70,41 persen deposit ke bursa dilakukan oleh whale, mengindikasikan sinyal jual yang jelas,” ungkapnya.
Lonjakan Koin Lama dan Tekanan Kapitulasi
Selain tingginya rasio whale Bitcoin, indikator Exchange Inflow CDD mencatat lonjakan arus masuk koin lama ke bursa. Pada 20 Februari, arus masuk tercatat sebesar 333.256,36 ribu BTC, lalu melonjak menjadi 647.183,27 ribu BTC pada 21 Februari.

Kenaikan hampir dua kali lipat dalam 24 jam ini menunjukkan koin-koin lama yang sebelumnya tidak aktif kembali bergerak, yang dalam banyak kasus berkorelasi dengan potensi aksi jual.
Indikator SOPR untuk pemegang jangka pendek (STH) berada di level 0,99. Nilai di bawah 1 menandakan bahwa investor jangka pendek masih merealisasikan kerugian, mencerminkan fase kapitulasi aktif. Dengan kata lain, sebagian pelaku pasar menjual aset di bawah harga beli mereka.
Cadangan Bitcoin di bursa juga mengalami peningkatan. Exchange Reserve dilaporkan berada di angka 2.753.126,46 BTC, naik sekitar 31.008 BTC atau 1,14 persen sejak 20 Januari.
Bertambahnya pasokan yang tersedia di bursa memperbesar potensi tekanan jual, terutama ketika whale Bitcoin secara bersamaan meningkatkan aktivitas deposit.
Secara keseluruhan, kombinasi dominasi whale Bitcoin, kembalinya koin lama ke bursa, serta kenaikan cadangan menciptakan skenario pasokan yang meningkat di tengah kondisi pasar yang sensitif.
GugaOnChain menyimpulkan bahwa probabilitas penurunan menuju area support US$60.000 menjadi lebih besar apabila tekanan jual berlanjut.
Sinyal Death Cross dan Fake Break Bitcoin
Dari sisi teknikal, analis Ali Martinez mencatat bahwa sejak 2014, kemunculan death cross antara simple moving average (SMA) 50 dan 200 pada grafik tiga harian secara konsisten mendahului fase akhir penurunan dalam siklus bear market Bitcoin. Pernyataan tersebut memperkuat kewaspadaan di tengah dominasi whale Bitcoin di bursa.

Namun, tidak semua indikator menunjukkan tekanan satu arah. Analis GainMuse melihat bahwa pada time frame 16 jam, Bitcoin sempat mencetak breakdown palsu (fake break) di bawah support channel sebelum kembali masuk ke dalam struktur harga.

Wick agresif pada pergerakan tersebut dinilai sebagai sinyal penyerapan tekanan jual, sementara harga BTC kini stabil di dekat batas bawah rentang yang lebih luas.
GainMuse menjelaskan bahwa selama support tersebut mampu dipertahankan, peluang terjadinya pergerakan naik menuju garis resistance menurun tetap terbuka. Sebaliknya, penembusan bersih di bawah level terendah terbaru akan membatalkan skenario pemulihan jangka pendek.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



