Berdasarkan data dari EmberCN pada Kamis (19/3/2026), satu whale Bitcoin yang telah menyimpan asetnya selama lebih dari 13 tahun kembali menjadi sorotan pasar setelah menjual 1.000 BTC.
Transaksi tersebut diperkirakan bernilai sekitar US$71,5 juta dan menjadi bagian dari rangkaian distribusi besar yang telah berlangsung sejak akhir 2024. Aksi ini terjadi di tengah tekanan pasar kripto yang masih berlanjut, memicu perhatian pelaku pasar terhadap potensi dampaknya terhadap harga Bitcoin dalam jangka pendek.

Data on-chain menunjukkan bahwa wallet tersebut awalnya mengakumulasi sekitar 5.000 BTC pada era awal Bitcoin, dengan harga rata-rata sekitar US$332 per koin. Sejak November 2024, whale Bitcoin ini secara bertahap telah memindahkan sekitar 3.500 BTC ke bursa, terutama Binance, dengan harga jual rata-rata di kisaran US$94.786.
Dari serangkaian transaksi tersebut, keuntungan yang telah direalisasikan diperkirakan mencapai sekitar US$330 juta. Meski telah menjual sebagian besar kepemilikannya, wallet tersebut masih menyimpan sekitar 1.500 BTC atau setara lebih dari US$100 juta.
Pergerakan ini dinilai signifikan karena melibatkan Bitcoin yang sebelumnya tergolong tidak aktif selama lebih dari satu dekade. Ketika aset lama seperti ini mulai masuk ke bursa, pasar umumnya menafsirkannya sebagai sinyal potensi tekanan jual tambahan.
Terlebih lagi, aksi tersebut terjadi di tengah kondisi pasar yang sedang melemah, memperkuat spekulasi bahwa sebagian pemegang lama mulai melakukan realisasi keuntungan secara bertahap.
Tekanan Pasar Meningkat di Tengah Aksi Jual
Aksi jual dari whale Bitcoin ini terjadi beriringan dengan meningkatnya tekanan di pasar derivatif. Dalam 24 jam terakhir, likuidasi posisi long tercatat mencapai ratusan juta dolar.
Berdasarkan data yang dibagikan CryptoReviewing, harga Bitcoin telah turun di bawah level US$70.000, memicu likuidasi sekitar US$521 juta posisi long, dengan total likuidasi mencapai sekitar US$628 juta dalam satu hari.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar Bitcoin tengah mengalami fase pembersihan leverage, di mana posisi spekulatif yang berlebihan mulai tereliminasi. Selain itu, area likuiditas di bawah kisaran US$68.000 hingga US$69.000 dinilai relatif tipis, sehingga berpotensi tersapu jika tekanan jual berlanjut.
Di sisi lain, terdapat klaster likuiditas yang jauh lebih besar di area US$72.000 hingga US$78.000, yang secara statistik menjadi zona dengan probabilitas lebih tinggi untuk dikunjungi harga jika terjadi pemulihan.
Pergerakan harga ini juga memperlihatkan dinamika psikologis pasar yang berubah. Ketika harga menembus level US$70.000, banyak pelaku pasar mulai beralih ke posisi short, memperkuat tekanan jual dalam jangka pendek.
Tekanan Jual Menguat, Pasar Bitcoin Masih Rentan
Data dari Santiment menunjukkan bahwa minat terhadap posisi short meningkat seiring penurunan harga Bitcoin. Open interest tercatat mengalami kenaikan, yang menandakan bertambahnya aktivitas di pasar derivatif. Dalam kondisi ini, level US$70.500 menjadi titik krusial yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar.

Selama harga BTC masih berada di bawah level tersebut, potensi penurunan menuju kisaran US$67.000 dinilai tetap terbuka. Sebaliknya, jika Bitcoin mampu kembali menembus dan bertahan di atas US$70.500, maka peluang pemulihan harga menjadi lebih besar.
Sementara itu, indikator Coinbase Premium yang berada di kondisi netral menunjukkan bahwa permintaan dari pasar spot, khususnya dari investor institusional di AS, belum cukup kuat untuk mendorong harga kembali ke atas secara konsisten.
Struktur Bearish Flag Muncul, Arah Bitcoin Masih Di Ujung Ketidakpastian
Dalam konteks yang lebih luas, analis Crypto Cove juga menyoroti bahwa pergerakan Bitcoin pada time frame harian menunjukkan terbentuknya pola bearish flag.
Pola ini umumnya muncul setelah penurunan tajam yang diikuti fase konsolidasi dalam channel naik yang relatif lemah. Kenaikan harga dalam fase ini cenderung dipandang sebagai relief rally, bukan sinyal pembalikan tren yang kuat.

Struktur channel yang menanjak mengindikasikan tekanan beli yang terbatas, sementara pelaku pasar besar berpotensi memanfaatkan fase tersebut untuk melakukan distribusi lanjutan.
Selama harga masih bergerak dalam pola tersebut, pasar berada dalam fase penentuan arah. Jika terjadi penembusan ke bawah dari struktur channel, maka potensi penurunan lanjutan terbuka dengan target menuju area support sebelumnya di kisaran US$65.000 hingga US$63.000 atau lebih rendah.
Di sisi lain, analis Ali Martinez menyoroti bahwa Bitcoin kini semakin mendekati salah satu area support paling penting dalam sejarahnya sejak 2017. Garis tren support jangka panjang ini telah menjadi fondasi pergerakan harga selama hampir sembilan tahun, di mana setiap kali level tersebut disentuh, Bitcoin cenderung mengalami kenaikan besar secara parabolik.

Secara historis, kondisi serupa pernah terjadi pada beberapa periode penting, termasuk fase kenaikan tajam pada 2017, pemulihan setelah koreksi 2018, lonjakan pasca krisis COVID-19 pada 2020, hingga rebound pasca runtuhnya FTX pada 2022.
jika harga Bitcoin saat ini mampu bertahan di kisaran $56.000 hingga $60.000, maka titik ini akan menjadi pijakan atau “peluncur” utama bagi kenaikan harga besar-besaran berikutnya dalam siklus pasar kali ini.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



