Harga Bitcoin (BTC) masih berada dalam fase koreksi, tetapi data on-chain terbaru menunjukkan aktivitas whale Bitcoin justru terus meningkat.
Di tengah pelemahan harga, analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant melihat investor besar masih melakukan akumulasi secara bertahap, meski pada saat yang sama terdapat sinyal lain yang mengindikasikan potensi tekanan jual dan volatilitas tinggi dalam jangka pendek.
Pada saat artikel ini disusun, BTC diperdagangkan di kisaran US$59.474, setara Rp1,06 miliar. Dalam 24 jam terakhir, aset kripto terbesar itu turun sekitar 0,87 persen, sedangkan secara mingguan telah terkoreksi 5,94 persen, mencerminkan masih kuatnya tekanan di pasar.
Whale Bitcoin Terus Bertambah, tetapi Risiko Belum Hilang
XWIN Japan menjelaskan bahwa indikator Whale Accumulation masih menunjukkan pertumbuhan dompet yang dimiliki investor besar. Tidak hanya jumlah alamat whale Bitcoin baru yang terus meningkat, pemegang lama juga tetap menambah kepemilikan mereka selama harga mengalami koreksi.

Pola tersebut umumnya muncul ketika investor berkapital besar membangun posisi secara bertahap di tengah sentimen pasar yang masih lemah. Namun, XWIN menilai gambaran pasar tidak sesederhana hanya melihat aktivitas akumulasi tersebut.
Di sisi lain, indikator Exchange Whale Ratio masih berada pada level yang relatif tinggi. Kondisi ini menunjukkan sebagian besar Bitcoin yang masuk ke bursa berasal dari pemegang dalam jumlah besar.
Secara historis, situasi tersebut sering dikaitkan dengan meningkatnya tekanan jual dalam jangka pendek karena adanya perpindahan aset ke bursa.

Meski demikian, XWIN Japan menegaskan bahwa kedua indikator tersebut tidak saling bertentangan. Menurut mereka, investor besar dapat terus mengakumulasi Bitcoin sambil memindahkan sebagian aset ke bursa untuk kebutuhan pengelolaan likuiditas, penyeimbangan portofolio, maupun realisasi keuntungan secara selektif.
“Kami percaya pasar saat ini lebih tepat digambarkan sebagai fase transisi daripada tren bullish atau bearish yang jelas,” ujar XWIN Japan.
Karena itu, XWIN menyarankan investor tidak hanya mengandalkan satu indikator on-chain. Aktivitas whale Bitcoin sebaiknya dianalisis bersama indikator lain seperti arus dana ETF, Coinbase Premium, Apparent Demand, serta Exchange Whale Ratio agar memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai arah pasar.
Bitcoin Dekati Titik Balik? Support Historis Kembali Jadi Penentu
Di sisi teknikal, analis Batman menilai Bitcoin kembali menguji area support makro yang sebelumnya menjadi titik awal reli bullish besar pada 2023. Pada grafik mingguan, harga kini berada di batas bawah ascending channel yang telah membentuk tren kenaikan jangka panjang selama beberapa tahun terakhir.

Menurut Batman, selama support dinamis tersebut tetap bertahan, struktur bullish jangka panjang Bitcoin belum mengalami kerusakan. Ia juga melihat indikator Relative Strength Index (RSI) mingguan kembali memasuki zona demand historis.
Berdasarkan pola yang terjadi pada siklus sebelumnya, setiap kali RSI menyentuh area tersebut bersamaan dengan harga yang menguji dasar ascending channel, Bitcoin berhasil membentuk titik balik sebelum memulai kenaikan baru. Kemiripan struktur itu dinilai membuka peluang terulangnya pola serupa.
Batman menempatkan US$68.000 sebagai resistance utama yang harus ditembus untuk mengonfirmasi kelanjutan tren bullish.
Jika breakout berhasil terjadi dan harga mampu bertahan di atas level tersebut, Bitcoin dinilai berpeluang melanjutkan kenaikan dengan target jangka panjang di atas US$140.000. Sebaliknya, selama resistance belum ditembus, harga masih berpotensi bergerak fluktuatif di sekitar area support dari channel tersebut.
Pasar Menanti Konfirmasi, Bitcoin Belum Keluar dari Zona Penentu
Sementara itu, analis Celal Kucuker menilai Bitcoin masih berada dalam fase penentuan arah setelah mampu bertahan di atas support US$59.883. Pada grafik 4 jam, ia melihat harga mulai membentuk pola ascending triangle yang biasanya menjadi sinyal awal potensi breakout.

Meski demikian, Celal memperkirakan peluang terbesar dalam jangka pendek adalah terjadinya liquidity sweep menuju area resistance sebelum pasar menentukan arah berikutnya.
Zona yang menjadi perhatian berada di kisaran US$65.500 hingga US$65.600, yang bertepatan dengan resistance horizontal sekaligus proyeksi puncak pola ascending triangle.
Menurutnya, reaksi harga di area tersebut akan menjadi penentu apakah BTC mampu melanjutkan tren bullish atau justru membentuk pembalikan arah. Apabila terjadi breakout yang meyakinkan, momentum kenaikan dinilai masih dapat berlanjut.
Namun, jika harga mengalami penolakan kuat setelah liquidity sweep di area resistance tersebut, Celal memperkirakan BTC berpotensi berbalik turun menuju support berikutnya di sekitar US$55.700. Oleh karena itu, level US$65.500 dinilai menjadi area paling krusial yang perlu dipantau pelaku pasar dalam beberapa waktu ke depan.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


