Pergerakan besar terjadi di pasar Chainlink (LINK) ketika harga aset tersebut turun ke bawah level US$13.
Data on-chain dari Santiment menunjukkan bahwa 100 whale Chainlink terbesar kembali melakukan akumulasi signifikan dalam beberapa hari terakhir. Aktivitas ini berlangsung di tengah tekanan pasar dan meningkatnya aksi jual dari investor ritel yang terdorong oleh sentimen ketakutan dan ketidakpastian.

Santiment mencatat bahwa akumulasi oleh whale Chainlink terjadi setelah periode distribusi pada akhir Oktober 2025.
Sejak awal November hingga pertengahan Januari 2026, kelompok whale ini secara kolektif telah menambah sekitar 20,46 juta LINK ke dalam kepemilikan mereka. Dengan harga pasar saat itu, nilai akumulasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$263 juta.
Fenomena ini memperlihatkan perbedaan perilaku yang kontras antara investor besar dan pelaku pasar ritel. Ketika harga melemah dan sentimen pasar cenderung negatif, whale Chainlink justru memanfaatkan kondisi tersebut untuk memperkuat posisi mereka.
Sementara itu, banyak investor ritel memilih menjual aset karena faktor psikologis seperti rasa tidak sabar dan kekhawatiran terhadap pergerakan harga lanjutan.
Akumulasi Whale Chainlink di Tengah Tekanan Pasar
Berdasarkan data Santiment yang dirilis pada pertengahan Januari 2026, 100 alamat Chainlink terbesar meningkatkan kepemilikan mereka secara bertahap setelah harga LINK turun di bawah US$13.
Akumulasi ini dilakukan melalui penarikan token dari berbagai bursa kripto ke dompet pribadi, yang umumnya diartikan sebagai niat untuk menyimpan aset dalam jangka menengah hingga panjang.
Selain penambahan besar-besaran sejak November, data terbaru juga menunjukkan adanya arus keluar LINK dari bursa dalam jumlah ribuan token oleh beberapa whale Chainlink. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa investor besar lebih memilih mengamankan aset mereka daripada melepasnya di pasar terbuka.
Santiment menilai pola ini sebagai praktik umum di pasar kripto, di mana smart money cenderung mengakumulasi aset ketika sentimen ritel sedang negatif. Dalam banyak kasus sebelumnya, fase akumulasi oleh whale sering terjadi menjelang perubahan tren harga atau setidaknya fase konsolidasi yang lebih stabil.
Ritel Panik Jual Saat Sentimen Memburuk
Di sisi lain, investor ritel menunjukkan respons yang berbeda terhadap kondisi pasar yang sama. Ketika harga LINK melemah dan volatilitas meningkat, banyak pelaku ritel memilih menjual aset mereka.
Santiment menyebut faktor utama di balik aksi jual ini adalah fear, uncertainty, doubt (FUD) serta rasa tidak sabar menunggu pemulihan harga.
Penurunan harga LINK di bawah US$13 memperkuat tekanan psikologis di kalangan ritel, terutama setelah performa harga yang kurang menggembirakan dalam beberapa minggu sebelumnya. Akibatnya, terjadi peningkatan likuiditas di pasar yang justru dimanfaatkan oleh whale Chainlink untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



