Token Ondo Finance, ONDO, tengah menghadapi tekanan pasokan besar setelah 1,94 miliar token resmi masuk ke pasar pada Minggu (18/1/2026). Namun, data on-chain menunjukkan bahwa alih-alih terjadi aksi jual masif, justru whale ONDO terlihat aktif melakukan akumulasi secara konsisten di tengah penurunan harga.
Analisis tersebut disampaikan oleh analis on-chain TopNotch di CryptoQuant, yang menyoroti adanya fase penyerapan likuiditas besar-besaran oleh investor berkapital besar.
Meski harga ONDO terkoreksi dari puncaknya pada Desember 2024, aktivitas transaksi menunjukkan bahwa pelaku institusional memanfaatkan kondisi ini sebagai peluang untuk mengumpulkan token.

Menurut data Spot Average Order Size, mayoritas transaksi masih didominasi oleh order berukuran besar yang identik dengan aktivitas whale ONDO. Pola ini terlihat konsisten pada kisaran harga US$0,35 hingga US$0,40, yang kini dianggap sebagai zona akumulasi utama.
“Meskipun harga terlihat melemah, data on-chain menunjukkan bahwa institusi justru menyerap likuiditas di zona US$0,35–US$0,40 sebagai area akumulasi utama,” ungkap TopNotch.
Fenomena ini mengindikasikan bahwa tekanan jual akibat unlock token tidak sepenuhnya berdampak negatif. Sebaliknya, suplai tambahan tersebut justru dimanfaatkan oleh pelaku besar untuk memperkuat posisi mereka di ONDO.
Whale ONDO Dominasi Order Besar di Tengah Tekanan Harga
Data on-chain juga menunjukkan bahwa sejak awal 2025, Spot Average Order Size ONDO didominasi oleh transaksi dengan ukuran besar. Pola ini mengindikasikan kehadiran whale ONDO yang terus menyerap likuiditas meskipun harga mengalami tren penurunan.
Secara teknis, dominasi order besar menandakan bahwa pembeli bukan berasal dari investor ritel dengan nominal kecil, melainkan dari pelaku bermodal besar yang biasanya memiliki strategi jangka menengah hingga panjang.
Aktivitas ini berlangsung stabil, bukan dalam bentuk lonjakan spekulatif, sehingga memperkuat dugaan bahwa proses akumulasi dilakukan secara terukur.
Fenomena ini juga dikenal sebagai fase absorpsi, yakni kondisi ketika pasar menyerap suplai baru tanpa menyebabkan dislokasi harga ekstrem. Dalam konteks ONDO, fase ini berlangsung bersamaan dengan meningkatnya aktivitas beli agresif di pasar spot.
Taker Buy Dominant Perkuat Sinyal Akumulasi
Indikator lain yang memperkuat narasi akumulasi adalah 90-day Cumulative Volume Delta (CVD). Data menunjukkan bahwa volume pembelian market atau taker buy, terus mendominasi penjualan selama tiga bulan terakhir.

Dalam mekanisme pasar, taker adalah pembeli yang langsung mengeksekusi order di harga ask tanpa menunggu koreksi. Dominasi taker buy menandakan adanya urgensi beli, biasanya muncul ketika pelaku pasar memperkirakan potensi pergerakan harga di masa depan.
Ketika fenomena ini terjadi bersamaan dengan dominasi order besar dari whale ONDO, maka terbentuk kondisi yang sering disebut sebagai “coiled spring” atau tekanan beli yang terakumulasi. Meski harga terlihat stagnan atau melemah, tekanan permintaan terus meningkat di balik layar.
TopNotch menjelaskan bahwa kombinasi antara whale yang menyediakan “lantai harga” dan taker yang memberikan tekanan beli berpotensi menciptakan fondasi bagi pergerakan harga selanjutnya. Jika pasokan hasil unlock sepenuhnya terserap, pasar berpotensi memasuki fase baru dengan struktur permintaan yang lebih kuat.
Secara keseluruhan, data menunjukkan bahwa tekanan pasokan 1,94 miliar token tidak langsung memicu kepanikan. Sebaliknya, whale ONDO memanfaatkan momen ini untuk mengakumulasi aset di harga diskon, sementara pembeli agresif terus mendorong volume transaksi.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.



