Aktivitas whale Hyperliquid kembali menyita perhatian pasar kripto setelah wallet dengan alamat 0x4E53 terpantau mengakumulasi token HYPE dalam jumlah jumbo secara diam-diam.
Whale Serok HYPE Besar-besaran Tanpa Dijual
Berdasarkan data Lookonchain, whale tersebut membeli tambahan sekitar 151 ribu HYPE senilai kurang lebih US$6,09 juta atau setara Rp105 miliar hanya dalam beberapa jam terakhir dan langsung mengunci token tersebut melalui staking.

Jika diakumulasikan selama sepekan terakhir, total pembelian whale Hyperliquid itu telah mencapai sekitar 500.998 HYPE dengan nilai lebih dari US$21,3 juta, setara Rp350 miliar.
Menariknya, seluruh koin yang dibeli tidak digunakan untuk trading jangka pendek, melainkan langsung di-stake sehingga mengurangi pasokan likuid HYPE yang beredar di pasar.
Aksi akumulasi tersebut muncul di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap ekosistem Hyperliquid. Dalam beberapa pekan terakhir, proyek perpetual futures bursa desentralisasi itu mulai mendapat sorotan lebih luas setelah produk ETF berbasis Hyperliquid resmi diperdagangkan di pasar melalui produk THYP milik 21Shares.
Produk tersebut memungkinkan investor mendapatkan eksposur terhadap token HYPE tanpa harus membeli maupun menyimpan aset kripto secara langsung.
Pada hari pertama perdagangan, THYP tercatat membukukan volume transaksi sekitar US$1,8 juta dengan arus masuk dana mendekati US$1,2 juta. Meski masih lebih kecil dibanding debut ETF berbasis XRP dan Solana sebelumnya, angka itu dinilai cukup solid untuk ukuran peluncuran ETF baru di sektor aset digital.
Grayscale Dorong Stakingpada HYPE ETF, Persaingan Makin Panas
Di sisi lain, persaingan produk investasi berbasis Hyperliquid juga semakin memanas setelah Grayscale memperbarui pengajuan HYPE ETF miliknya. Dalam dokumen terbaru, produk itu kini menggunakan nama “Grayscale Hyperliquid Staking ETF” dengan ticker HYPG di Nasdaq.
ETF tersebut dirancang tidak hanya memberikan eksposur terhadap harga HYPE, tetapi juga memungkinkan dana memperoleh tambahan yield atau imbal hasil melalui staking. Langkah itu membuat Hyperliquid mulai diposisikan sejajar dengan Ethereum dan Solana yang sebelumnya lebih dulu mengembangkan konsep ETF berbasis staking.
Dalam struktur produk terbaru tersebut, Grayscale menunjuk Anchorage Digital Bank sebagai kustodian utama penyimpanan aset HYPE, sementara BNY Mellon akan bertindak sebagai administrator dan transfer agent.
Meningkatnya perhatian institusi terhadap Hyperliquid juga mulai berdampak terhadap perilaku pasar HYPE. Namun di tengah sentimen positif tersebut, analis teknikal mulai melihat munculnya tanda pelemahan momentum jangka pendek.
Tekanan Jual HYPE Muncul Saat Sinyal Bearish Menguat
Analisis terbaru dari CoinPedia menunjukkan HYPE yang mulai bergerak turun menembus rising trendline dan diperdagangkan di area sekitar US$40,70 setelah terkoreksi hampir 2 persen dalam perdagangan harian.

Menurut analisis tersebut, penutupan harian di bawah level US$42,17 berpotensi membuka ruang koreksi lebih dalam menuju area 50 EMA di sekitar US$40,30. Jika tekanan jual berlanjut, area support berikutnya diperkirakan berada di kisaran US$37,87 hingga US$36,05.
Selain itu, indikator RSI disebut telah bergerak turun di bawah area netral, sementara indikator MACD mulai membentuk sinyal bearish. Kondisi itu menunjukkan momentum kenaikan HYPE mulai melemah meski aktivitas whale Hyperliquid masih terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


