Arus keluar XRP dalam jumlah besar dari bursa utama Binance kembali menarik perhatian pasar setelah data on-chain menunjukkan sekitar 465 juta XRP ditarik dari bursa tersebut dalam kurun waktu 3 hingga 11 Juni.
Pergerakan ini terjadi ketika harga XRP masih berada di bawah tekanan di sekitar level US$1,14, memunculkan spekulasi bahwa whale XRP mulai memindahkan aset mereka dari platform perdagangan.
Data tersebut diungkap oleh analis on-chain Amr Taha di CryptoQuant melalui metrik Multi Exchanges Daily Outflow Amount Above 1M. Menurutnya, aktivitas penarikan berukuran besar dari Binance meningkat sejak awal Juni dan menunjukkan keterlibatan yang lebih aktif dari pemegang XRP berskala besar.
Whale XRP Kembali Aktif Saat Pasokan di Bursa Menyusut
Berdasarkan data yang dianalisis Amr Taha, transaksi penarikan yang melibatkan lebih dari 1 juta XRP per transaksi tercatat semakin sering terjadi dalam beberapa hari terakhir. Secara total, Binance mencatat sekitar 465 juta XRP dalam arus keluar harian berukuran besar selama periode 3 hingga 11 Juni.

Yang menjadi perhatian bukan hanya besarnya nilai aset yang keluar, melainkan konsistensi aktivitas tersebut. Data menunjukkan penarikan besar terjadi berulang kali selama beberapa hari berturut-turut, bukan sekadar lonjakan sesaat dalam satu hari perdagangan.
Amr Taha menjelaskan bahwa aktivitas tersebut patut dipantau karena menunjukkan peran whale XRP yang kembali dominan dalam struktur pasar saat ini.
“Data menunjukkan aktivitas penarikan besar yang berulang selama beberapa hari, sehingga pergerakan XRP di Binance saat ini layak untuk dipantau secara dekat,” ujar Amr Taha.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa arus keluar besar dari bursa tidak serta-merta menjadi bukti bahwa investor sedang melakukan akumulasi. Namun, perpindahan aset dari bursa ke dompet pribadi dapat mengurangi jumlah XRP yang tersedia untuk diperdagangkan secara langsung di order book.
Kondisi ini menciptakan situasi yang menarik. Di satu sisi, harga XRP masih mengalami tekanan jual dan bergerak di dekat area terendah beberapa bulan terakhir. Di sisi lain, whale XRP justru terlihat memindahkan ratusan juta koin keluar dari salah satu bursa terbesar di dunia.
Bagi sebagian pelaku pasar, berkurangnya pasokan XRP di bursa dapat menjadi faktor yang membantu menstabilkan harga apabila tekanan jual mulai mereda. Karena itu, investor kini mencermati apakah gelombang arus keluar tersebut akan berlanjut dalam beberapa pekan mendatang.
XRP Sudah di Zona yang Bisa Hadirkan Reversal Besar
Di tengah meningkatnya aktivitas whale XRP, analis ChartNerd menilai harga koin tersebut kini telah memasuki area yang sangat penting dari perspektif teknikal jangka panjang.
Menurutnya, sepanjang 2023 hingga akhir 2024, XRP berulang kali gagal menembus zona resistance US$0,70 hingga US$0,80. Area tersebut menjadi batas atas utama hingga akhirnya berhasil ditembus pada kuartal keempat 2024, yang kemudian membuka jalan menuju rekor harga tertinggi pada Juli 2025.

Namun setelah mencapai puncaknya, momentum mulai melemah. XRP kehilangan sejumlah indikator moving average (MA) penting dan terbentuk pola death cross antara EMA 20 minggu dan EMA 50 minggu.
Pergeseran struktur tren tersebut kemudian membuka jalan bagi penurunan harga dari puncak Januari 2026 di sekitar US$2,40 menuju titik terendah berbentuk wick di area US$1,12 pada Februari.
Sejak Februari, XRP bergerak dalam fase konsolidasi selama beberapa minggu dan sempat mengalami pemulihan. Akan tetapi, reli tersebut ditolak di area EMA 20 mingguan sekitar US$1,55. Penolakan itu kemudian berkontribusi pada penurunan lanjutan hingga mencapai area US$1,04 pada Juni.
ChartNerd menyebut harga kini telah memasuki zona yang ia sebut sebagai “area of interest,” yaitu wilayah yang dipantau sebagai kandidat dasar harga atau bahkan titik terendah siklus pasar yang lebih luas hingga kuartal keempat 2026.
Area tersebut juga dinilai penting karena berpotensi menjadi zona perubahan fungsi support dan resistance.
Dengan kata lain, area resistance utama sepanjang 2023 hingga 2024 di kisaran US$0,70 hingga US$0,90 dapat berubah menjadi support apabila XRP mampu bertahan selama fase pelemahan pasar yang lebih dalam hingga akhir tahun.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa konfirmasi tetap menjadi faktor utama. Selama harga belum mampu merebut kembali area resistance EMA mingguan di sekitar US$1,45 hingga US$1,78, tanda-tanda pembalikan tren bullish jangka panjang masih belum terlihat. Karena itu, pelaku pasar diminta tetap menghormati tren yang sedang berlangsung.
Sementara itu, data dari Santiment menunjukkan sentimen pasar terhadap XRP telah turun ke level terendah dalam delapan bulan terakhir berdasarkan indikator Weighted Sentiment. Metrik tersebut menggabungkan volume percakapan sosial dengan perbandingan komentar positif dan negatif terkait suatu aset.

Menurut Santiment, pelemahan harga memang menjadi salah satu penyebab memburuknya sentimen. Namun faktor lain yang turut berperan adalah kelelahan investor setelah bertahun-tahun menunggu katalis besar terkait kejelasan hukum Ripple dan adopsi institusional yang selama ini menjadi narasi utama XRP.
Menariknya, Santiment mencatat beberapa reli terbesar XRP di masa lalu justru muncul ketika minat publik berada di titik terendah. Penurunan volume diskusi yang disertai dominasi komentar negatif mengindikasikan bahwa banyak trader mulai kehilangan minat terhadap aset tersebut.
Kombinasi antara sentimen yang sangat pesimistis, posisi harga di area support jangka panjang, serta meningkatnya aktivitas whale XRP kini menjadi faktor yang terus dipantau pelaku pasar untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


