Aktivitas penarikan whale XRP dari bursa kripto utama Binance telah turun ke level terendah sejak 2021, memunculkan indikasi bahwa investor besar mulai mengambil sikap menunggu di tengah pergerakan harga yang masih terbatas.
Data terbaru yang dibagikan analis on-chain Arab Chain di CryptoQuant menunjukkan total penarikan whale XRP dalam 30 hari terakhir hanya mencapai sekitar 978 juta XRP, bertepatan dengan stabilnya harga XRP di kisaran US$1,28.
Penurunan tersebut menjadi sorotan karena selama beberapa tahun terakhir, lonjakan aktivitas whale XRP sering kali beriringan dengan fase kenaikan harga yang kuat. Sebaliknya, kondisi saat ini menunjukkan aktivitas pemindahan aset dari bursa ke dompet pribadi berada pada titik terendah dalam lebih dari lima tahun terakhir.
Aktivitas Whale XRP Turun ke Level Terendah
Menurut Arab Chain, rendahnya aktivitas penarikan menunjukkan berkurangnya permintaan investor untuk memindahkan XRP dari bursa ke penyimpanan jangka panjang.
Dalam kondisi pasar yang optimistis, investor umumnya menarik aset dari bursa untuk disimpan di dompet pribadi sebagai bentuk keyakinan terhadap potensi kenaikan harga di masa depan.

Data historis memperlihatkan bahwa selama bull market 2021 serta beberapa periode penguatan pada 2024 dan 2025, volume penarikan whale XRP sempat melonjak hingga puluhan miliar XRP. Kenaikan tersebut mencerminkan tingginya aktivitas investasi dan meningkatnya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek aset tersebut.
Namun, situasi saat ini berbeda. Arab Chain menilai pasar sedang memasuki fase yang relatif tenang dengan minat investor yang cenderung menurun untuk melakukan akumulasi agresif di luar bursa. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut dapat mengindikasikan investor masih menunggu kepastian arah pasar sebelum mengambil keputusan investasi jangka panjang.
“Dengan penarikan whale XRP yang berada di level terendah sejak 2021, pasar tampaknya sedang berada dalam fase wait and see sambil menunggu kejelasan arah berikutnya,” ungkap Arab Chain.
Menurutnya, apabila aktivitas penarikan whale XRP kembali meningkat bersamaan dengan kenaikan harga, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal awal bahwa permintaan mulai pulih dan pasar sedang bersiap memasuki fase yang lebih aktif.
Sebaliknya, jika tren penurunan terus berlanjut, hal itu dapat mencerminkan kehati-hatian investor yang masih enggan meningkatkan eksposur mereka terhadap XRP.
Dua Kali Gagal Reli, Support US$1,20 Jadi Benteng Terakhir
Di sisi teknikal, sejumlah analis melihat kondisi pasar XRP masih menghadapi tantangan. Analis ChartNerd menyoroti bahwa struktur harga XRP menunjukkan pelemahan sejak terbentuknya death cross antara EMA 20 dan EMA 50 pada time frame lima hari pada November 2025.

Sejak sinyal tersebut muncul, XRP tercatat dua kali mencoba melakukan reli berlawanan arah tren. Namun, kedua percobaan tersebut berakhir dengan penolakan. Reli pertama gagal mempertahankan kenaikan setelah menyentuh area EMA 50 di sekitar US$2,40 dan kemudian membentuk lower high sebelum harga turun mendekati US$1,11.
Sementara itu, reli kedua juga mengalami penolakan di area EMA 20 sekitar US$1,54 dan kembali menghasilkan lower high baru.
Menurut ChartNerd, area support US$1,20 hingga US$1,25 kini menjadi zona penting yang terus diuji pasar. Ia juga mencatat bahwa XRP masih berada di bawah EMA 20 yang berada di sekitar US$1,44 dan EMA 50 di sekitar US$1,71. Kondisi tersebut menunjukkan momentum bullish masih relatif lemah.
Apabila area support saat ini gagal dipertahankan, XRP berpotensi memasuki fase penurunan berikutnya. Sebaliknya, pemulihan teknikal baru akan mendapatkan konfirmasi apabila harga mampu kembali menembus area US$1,44 dan kemudian US$1,71 yang saat ini berfungsi sebagai resistance dinamis utama.
Harga XRP Kembali Ulangi Pola Sebelum Reli Besar
Meski sejumlah indikator menunjukkan kehati-hatian pasar, pandangan berbeda datang dari analis teknikal Javon Marks. Ia menilai struktur jangka panjang XRP masih memiliki kemiripan dengan pola yang muncul sebelum reli besar pada siklus sebelumnya.

Dalam analisis grafik mingguannya, Marks mengamati terbentuknya pola symmetrical triangle multi-tahun yang diawali fase konsolidasi panjang, diikuti false breakdown, lalu breakout besar. Menurutnya, pola serupa kembali terlihat pada siklus saat ini setelah XRP mengalami false breakdown pada 2024 sebelum akhirnya melonjak hingga menembus area US$3.
Saat ini, XRP disebut sedang membentuk pola falling wedge yang kerap dianggap sebagai pola kelanjutan bullish. Marks menilai fase tersebut lebih mencerminkan konsolidasi lanjutan dibandingkan awal tren bearish baru.
Ia juga mempertahankan target jangka panjang XRP di atas US$15. Dari harga saat ini, proyeksi tersebut merepresentasikan potensi kenaikan lebih dari 1.000 persen.
Menurut Marks, area US$1,10 hingga US$1,30 masih menjadi support utama yang harus dipertahankan. Jika pola falling wedge berhasil ditembus ke atas, kondisi tersebut berpotensi menjadi pemicu gelombang kenaikan berikutnya bagi XRP.
Dengan demikian, data whale XRP saat ini menunjukkan investor besar masih cenderung menunggu perkembangan pasar.
Sementara indikator teknikal jangka pendek dan panjang memberikan sinyal yang berbeda, pergerakan aktivitas whale XRP dalam beberapa pekan ke depan berpotensi menjadi salah satu indikator penting yang menentukan arah pasar selanjutnya.
Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]
Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.


