Wintermute: Pasar Bitcoin Merosot, Likuidasi Rp42 Triliun Jadi Alarm

Pasar Bitcoin mengalami tekanan tajam setelah harga aset kripto terbesar dunia itu jatuh menembus level US$80.000 pada akhir pekan lalu. Penurunan tersebut memicu gelombang likuidasi senilai sekitar US$2,55 miliar, setara Rp42 triliun, menjadikannya salah satu peristiwa likuidasi terbesar dalam sejarah industri kripto.

Tekanan ini terjadi di tengah memburuknya sentimen global dan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.

Pada Selasa (3/2/2026), Desk Strategist dan OTC Trader dari Wintermute, Jasper De Maere, menyatakan dalam sebuah laporan bahwa pelemahan tersebut dipicu oleh kombinasi faktor makroekonomi dan perubahan narasi pasar global.

Dalam laporan itu, Jasper menilai bahwa pasar Bitcoin saat ini kembali memasuki fase volatilitas tinggi setelah dua bulan bergerak dalam kisaran sempit.

IKLAN
Chat via WhatsApp

“Pasar saat ini kembali memasuki fase penemuan harga seiring meningkatnya volatilitas,” tulis Jasper.

Ia menjelaskan bahwa posisi investor sebelumnya terlalu optimistis, sehingga rentan terhadap koreksi tajam.

Penurunan harga terjadi setelah Bitcoin gagal bertahan di kisaran US$85.000–95.000 yang telah berlangsung selama dua bulan terakhir. Tekanan jual memuncak pada akhir pekan, saat likuiditas pasar relatif rendah dan posisi leverage masih tinggi.

BACA JUGA:  Epstein Files Picu Spekulasi, Satoshi Nakamoto Diduga Bukan Satu Orang

Kondisi tersebut memperbesar dampak penurunan, sehingga pasar Bitcoin mencatat likuidasi masif dalam waktu singkat.

Tekanan Makro dan Sentimen Risiko Global

Jasper De Maere menjelaskan bahwa pelemahan pasar Bitcoin dipicu oleh tiga faktor utama, yakni kinerja perusahaan teknologi besar yang mengecewakan, dinamika kebijakan moneter AS, serta koreksi tajam di pasar logam mulia.

Ketiga faktor tersebut mendorong investor global mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Ia menyoroti bahwa laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi raksasa, khususnya Microsoft, memicu keraguan terhadap keberlanjutan narasi kecerdasan buatan (AI).

“Ketika narasi AI mulai goyah, selera risiko investor ikut menurun dan kripto tidak mendapat pengecualian,” ungkap Jasper.

Selain itu, dinamika kebijakan moneter AS turut memperkuat tekanan. Penunjukan Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua The Fed sempat memicu spekulasi kebijakan yang lebih ketat. Namun, penguatan dolar AS dinilai lebih dipengaruhi oleh data ekonomi yang kuat, seperti lonjakan Chicago PMI, dibandingkan faktor kebijakan semata.

BACA JUGA:  Analisis Kripto Hari Ini: BTC, ETH, ADA, MANA dan INJ Bersiap Tentukan Arah Baru

Februari Wintermute

Di sisi lain, pasar logam mulia juga mengalami tekanan ekstrem. Harga emas turun sekitar 9 persen, sementara perak sempat anjlok hingga 26 persen dalam satu hari. Kripto menjadi aset dengan kinerja terburuk, hanya S&P500 dan minyak yang mencatatkan kinerja positif.

Aksi jual tersebut dipicu oleh margin call dan pembongkaran posisi spekulatif yang sebelumnya telah membengkak. Kondisi ini memperkuat sentimen “risk-off” di pasar global dan berdampak langsung pada pasar Bitcoin.

Leverage Tinggi Perparah Tekanan Jual di Pasar Bitcoin

Tekanan jual yang terjadi di akhir pekan menyebabkan pasar Bitcoin mencatat salah satu peristiwa likuidasi terbesar sepanjang sejarah. Menurut Jasper, kondisi tersebut diperparah oleh tingginya posisi leverage yang masih tersisa dari awal pekan.

“Yang terjadi adalah proses deleveraging yang dipicu oleh posisi, selera risiko dan perubahan narasi pasar,” ujarnya.

Ia pun menegaskan bahwa koreksi kali ini berbeda dari siklus sebelumnya karena tidak dipicu oleh kegagalan struktural besar.

Jasper juga menilai bahwa pasar kripto saat ini berada dalam fase bearish yang telah berlangsung cukup lama. Hal tersebut terlihat dari lemahnya kinerja altcoin, sempitnya reli harga, serta sentimen negatif di media sosial.

BACA JUGA:  Analisis Kripto Harian: BTC, XRP, LINK, DOGE, PEPE Lagi Panas Banget

Namun, ia menekankan bahwa absennya krisis sistemik membuat pemulihan berpotensi berlangsung lebih cepat.

“Infrastruktur kripto saat ini jauh lebih kuat, adopsi stablecoin terus meningkat dan minat institusional belum hilang, hanya sedang menunggu di pinggir pasar,” tulis Jasper.

Ia memperkirakan pemulihan minat investor dapat terjadi pada paruh kedua 2026, seiring meredanya ketidakpastian global.

Saat ini, pasar Bitcoin dinilai masih berada dalam fase penyesuaian. Meski tekanan likuidasi telah mereda, tingkat keyakinan investor belum pulih sepenuhnya. Aktivitas perdagangan cenderung terbatas, dengan minimnya pembeli baru di level harga saat ini.

Itulah rangkuman berita kripto hari ini yang bisa kamu simak untuk mengikuti perkembangan dunia aset digital dan teknologi blockchain. Tetap pantau Blockchain Media Indonesia untuk update terbaru seputar pasar kripto, berita bitcoin, hingga panduan belajar crypto untuk kamu yang masih pemula. [st]


Disclaimer: Konten di Blockchainmedia.id hanya bersifat informatif, bukan nasihat investasi atau hukum. Segala keputusan finansial sepenuhnya tanggung jawab pembaca.

Terpopuler

Terkini

Warta Korporat

Terkait

Iklan Bitget Blockchain Media Indonesia