Wow! Penjelajahan Luar Angkasa Kelak Ditenagai Blockchain

Pakar penjelajahan luar angkasa berpendapat bahwa teknologi blockchain bisa memainkan peran penting dalam industri tersebut, utamanya saat NASA mengembangkan rencana untuk kembali ke bulan dan menjelajah planet Mars.

“Jika Anda melihat masa depan dan membayangkan rantai pasok (supply chain) berdasarkan sumber daya luar angkasa, hal tersebut mudah diangankan, terutama ketika transaksi terjadi melalui robot,” jelas Brian Israel, dosen hukum blockchain dan luar angkasa di Fakultas Hukum UC Berkeley, California AS.

Baru-baru ini, NASA mengumumkan sedang mencari perusahaan swasta yang ingin pergi ke bulan dan mengambil sampel bebatuan sebelum tahun 2024. Bisa jadi blockchain akan segera dilibatkan.

Administrator NASA Jim Bridenstine mengatakan, kemampuan melakukan pemanfaatan sumber daya di lokasi (in-situ resources utilization atau ISRU) akan sangat penting di Mars.

Sebab itu, NASA harus siap mengembangkan teknik dan pengalaman dengan melakukan ISRU di permukaan bulan.

Sejumlah pakar meyakini blockchain dapat membantu kegiatan luar angkasa termasuk rantai pasok, keamanan, pengaturan dan lainnya.

Mantan astronot asal Kanada Chris Hadfield meramalan di bulan akan ditemukan sumber daya yang berharga bagi manusia di bumi, sehingga industri harus berpikir ke depan dan menemukan cara untuk membangun struktur eksplorasi tersebut.

Ia menambahkan pengembangan industri luar angkasa akan menjadi peluang besar bagi blockchain.

Blockchain dapat berperan penting dalam penciptaan aturan operasional di luar angkasa, terutama mengingat Perjanjian Luar Angkasa tahun 1967 membatasi wilayah yurisdiksi setiap negara hanya di permukaan bumi.

Bagaimana perusahaan yang beroperasi di bulan, Mars dan selebihnya akan berinteraksi satu sama lain tanpa adanya otoritas luar angkasa? Jawabannya bisa jadi adalah konsorsium perusahaan yang terlibat aktivitas luar angkasa dan dikelola smart contract.

Menurut Israel, pengaturan luar angkasa dapat dipandu oleh tiga lapis hukum luar angkasa, yaitu kebijakan antar pemerintah dan sistem swasta berbasis aturan dengan ruang lingkup hukum yang ditentukan di Bumi.

“Semakin saya mempertimbangkan pertumbuhan aktivitas luar angkasa dan teknologi blockchain serta lengkapnya lapisan pengaturan luar angkasa, akan muncul lapisan baru,” jelas Israel dalam kuliahnya.

Ia menambahkan Pengaturan Luar Angkasa 3.0 akan bersifat inter-operator, yaitu hukum privat yang dibangun atas kontrak antara operator kapal luar angkasa, di mana semua pemangku kepentingan, baik publik dan privat, bermain secara seimbang.

Agar sistem pengaturan berbasis smart contract ini bekerja, dibutuhkan pihak-pihak yang mengunci nilai yang besar ke konsorsium sebagai bagian dari kontrak agar taat kepada aturan, juga menangani potensi sanksi.

Terlepas dari hal tersebut, peran blockchain di bidang penjelajahan luar angkasa belum ditetapkan, tetapi sifat desentralistik dapat menjadi aspek yang penting di masa depan.

Seiring teknologi ini berkembang, smart contract dapat digunakan untuk membuat operator satelit yang menegakkan aturan satu sama lain, sebuah sistem yang meregulasi dirinya sendiri. [decrypt.co/ed]

Terkini

Warta Korporat

Terkait